Petugas Pos Pengamatan Gunung Marapi, Ahmad Rifandi menjelaskan bahwa berdasarkan pengamatan, kolom abu yang menyertai letusan mencapai sekitar 400 meter di atas puncak kawah, atau setara 3.291 meter di atas permukaan laut (Mdpl).
"Kolom abu pagi ini berwarna putih hingga kelabu, dengan intensitas tebal dan condong mengarah ke timur," kata Ahmad Rifandi dalam keterangan tertulisnya, Selasa (30/9/2025).
Seismogram mencatat erupsi memiliki amplitudo maksimum 6,4 mm dan berlangsung selama 31 detik.
Meskipun kembali terjadi letusan, status aktivitas Gunung Marapi tetap Level II (Waspada).
Menanggapi erupsi ini, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengeluarkan sejumlah rekomendasi keselamatan bagi masyarakat dan wisatawan.
Masyarakat di sekitar Gunung Marapi, termasuk pendaki dan pengunjung, diminta untuk tidak memasuki wilayah radius 3 km dari Kawah Verbeek, yang merupakan pusat aktivitas.
Selain itu, warga yang tinggal di lembah, bantaran, atau aliran sungai berhulu di puncak Marapi diminta mewaspadai potensi bahaya lahar, terutama saat musim hujan.
PVMBG juga mengimbau masyarakat menggunakan masker saat hujan abu agar terhindar dari gangguan saluran pernapasan atau ISPA.
Seluruh pihak diminta menjaga kondisi informasi yang akurat dan tidak menyebarkan hoaks terkait aktivitas gunung. Pemerintah daerah di Kota Bukittinggi, Kota Padangpanjang, Kabupaten Tanahdatar, dan Kabupaten Agam diminta terus berkoordinasi dengan PVMBG di Bandung.
Masyarakat juga dapat memperoleh informasi terkini dan terpercaya melalui Pos Pengamatan Gunung Marapi di Jalan Prof. Hazairin No. 168 Bukittinggi. Peningkatan kewaspadaan di masyarakat menjadi kunci menghadapi dinamika aktivitas vulkanik Gunung Marapi.(*)
Editor : Heri Sugiarto