Seiring upaya yang dilakukan Pemda Sumbar bersama Bank Indonesia Sumbar dan Bulog tersebut, petani cabai di Kabupaten Solok juga sudah mulai panen. Diharapkan pasokan dan harga cabai di pasaran kembali stabil.
Setelah sempat terdampak kemarau panjang, petani cabai merah di Nagari Sungainanam, Kecamatan Lembahgumanti, Kabupaten Solok kembali bernapas lega. Tanaman cabai yang sempat kering kini kembali berbuah dan memasuki masa panen bertahap.
Petani setempat, Adrizal, menyebutkan, lahan cabai yang dikelolanya seluas 1,4 hektare. Dalam satu kali masa tanam, produksi bisa mencapai 250 hingga 300 kilogram per petikan, dengan masa panen berlangsung hingga delapan bulan.
“Alhamdulillah, sekarang sudah mulai panen lagi. Kemarin sempat berhenti karena kemarau panjang, tapi sejak mulai hujan sudah bertunas kembali. Sekarang sudah petikan keempat,” ujar Adrizal kepada Padang Ekspres saat kunjungan Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sumatera Barat, Andy Setyo Biwado dan rombongan, Sabtu (11/10) melihat dari dekat panen cabai di daerah tersebut.
Ia menyebut, satu siklus tanam cabai di Sungainanam bisa menghasilkan 10 sampai 15 kali petikan, tergantung kondisi cuaca. “Kalau cuaca bagus, seminggu sekali panen. Tapi kalau musim kemarau, bisa dua minggu baru panen,” katanya.
Petani yang sudah menanam cabai sejak 2013 itu mengaku telah beberapa kali menghadapi situasi sulit, mulai dari serangan layu fusarium, lalat buah, hingga anjloknya harga akibat panen raya di daerah lain. “Pernah harga cuma Rp8 ribu per kilo. Tapi tahun ini sempat Rp80 ribu, sebelum turun ke Rp55 ribu,” jelasnya.
Menurutnya, harga ideal cabai merah di tingkat petani berada di kisaran Rp50 ribu hingga Rp70 ribu per kilogram agar petani tetap bisa menutupi biaya produksi dan memperoleh keuntungan. “Kalau harga segitu, kami masih bisa bertahan. Di bawah Rp40 ribu, petani biasanya sudah rugi,” ujarnya.
Untuk merawat tanamannya, Adrizal melakukan pemupukan sebulan sekali dan pemberian pupuk kandang setiap tiga bulan. “Pemupukan pertama dilakukan dua minggu setelah tanam untuk memancing akar. Jenis pupuknya NPK, SP26, urea, dolomit, dan pupuk kandang. Sekali pemupukan biayanya sekitar satu juta rupiah,” terang dia.
Adrizal menanam cabai setiap Desember, dengan masa panen dimulai pada Juni dan berlanjut hingga enam sampai delapan bulan ke depan. “Kalau tidak kena penyakit layu, satu tanaman bisa dipetik sampai 30 kali. Jadi satu lahan bisa produktif setengah tahun lebih,” katanya.
Berdasarkan data Dinas Pertanian Kabupaten Solok, produksi cabai merah sepanjang 2025 tercatat meningkat menjelang akhir tahun. Pada Oktober mencapai 2.772,30 ton, naik menjadi 3.750,23 ton pada November, dan diperkirakan 4.796,86 ton pada Desember.
Produksi tersebut tersebar di empat kecamatan utama penghasil cabai, yakni Lembahgumanti, Danaukembar, Lembangjaya, dan Pantaicermin.
Dengan kondisi cuaca yang mulai stabil, petani di Sungai nanam optimistis produksi cabai merah akan terus meningkat. “Kalau cuaca tetap bagus seperti sekarang, Insya Allah panen kami lancar, harga pun tetap stabil,” harap Adrizal.
Sebelumnya BI Sumbar merilis, kenaikan harga cabai merah pada September 2025 menyumbang inflasi Sumbar 0,85% (mtm). Kenaikan ini dipengaruhi oleh menurunnya produksi lokal serta terbatasnya pasokan dari luar provinsi.
Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sumatera Barat senantiasa berkomitmen menjaga stabilisasi laju inflasi agar tetap terkendali dan berada dalam rentang sasaran.
Berdasarkan hasil High Level Meeting TPID Sumatera Barat pada 2 Oktober 2025, disepakati beberapa upaya pengendalian inflasi, antara lain: Intensifikasi GPM di seluruh kabupaten/kota melalui realisasi perluasan penyelenggaraan pasar murah.
Menjaga kecukupan pasokan di masing-masing daerah, salah satunya dengan memperkuat kerja sama antar daerah intra Provinsi Sumatera Barat. Menghidupkan kembali gerakan tanam cabai di pekarangan serta memperkuat koordinasi pengendalian inflasi antar instansi melalui penyelenggaraan rapat koordinasi TPID di tingkat provinsi dan kabupaten/kota. (CC6)
Editor : Adetio Purtama