Di Padang, UMKM Batik Tanah Liek Bundo Kanduang berperan sebagai pelestari utama warisan ini sejak berdiri pada 2017 di Jalan Ratulangi No 05 Kp Jao Kecamatan Padang Barat.
Keunikan batik ini terletak pada teknik pewarnaannya yang menggunakan tanah liat sebagai bahan utama.
Kain direndam dalam larutan tanah liat selama sekitar satu minggu untuk menghasilkan warna dasar cokelat gelap yang khas.
Pewarnaan kemudian dilanjutkan dengan bahan alami seperti gambir, jengkol, dan kulit rambutan.
Produksi batik dilakukan di Nagari Sumanik, Kecamatan Salimpaung, Kabupaten Tanahdatar, dengan tiga teknik utama: tulis, cap, dan printing.
Teknik printing disediakan untuk menjangkau konsumen beranggaran terbatas, sementara batik tulis dengan pewarna sintetis dijual mulai Rp950.000 hingga Rp1.600.000.
Motif batik yang diproduksi mencerminkan kekayaan budaya Minangkabau, seperti Rumah Gadang, Rangkiang, Kabau Pedati, dan Siriah dalam Carano. Motif populer lainnya mencakup Kaluak Paku, Ikan Larangan, dan Bareh Tumpah.
Produk Batik Tanah Liek Bundo Kanduang diminati pelanggan dari berbagai daerah dan negara, termasuk Malaysia, Singapura, Jepang, Australia, hingga Amerika Serikat.
Salah satu produk yang paling dicari ialah Sarung Selendang Bundo Kanduang seharga Rp350.000. UMKM ini juga menyediakan kemeja, blouse, tas, dan aksesori berbahan katun baby, sutra, tenun twis, dan viskos.
Karyawan, Dian Sani Halim, menyampaikan bahwa pemasaran dilakukan melalui media sosial dan layanan pemesanan online.
Sementara itu, karyawan lainnya, Zahra Aprilia Putri, menjelaskan perawatan khusus yang diperlukan untuk menjaga kualitas batik, termasuk penggunaan sabun lerak dan larangan mencuci dengan deterjen atau mesin cuci.
UMKM yang beroperasi setiap hari pukul 08.00–19.30 WIB ini berharap pemerintah semakin memperluas dukungan agar kerajinan tradisional seperti Batik Tanah Liek dapat bertahan dan berkembang di tengah persaingan pasar modern.(CR3)
Editor : Hendra Efison