Program yang diluncurkan sejak 2023 ini telah melahirkan enam UMKM binaan yang dikelola langsung oleh istri AMT di Padang, Jambi, Samarinda, Pare-Pare, Gorontalo, dan Jayapura. Setiap UMKM dikembangkan berbasis potensi lokal sehingga memiliki karakter produk khas daerah.
Manager Corporate Communication & Relations PT Elnusa Petrofin, Putiarsa Bagus Wibowo, mengatakan Program TANGKI dirancang sebagai inisiatif berkelanjutan untuk memperkuat kesejahteraan keluarga AMT.
“Program ini menghadirkan peluang nyata agar keluarga AMT memiliki akses, pendampingan, dan ruang untuk bertumbuh melalui pembentukan UMKM,” ujarnya.
Program TANGKI mencakup pelatihan kewirausahaan, pendampingan produksi, pengelolaan keuangan, hingga pengembangan pasar.
Produk UMKM binaan juga diarahkan untuk memenuhi kebutuhan internal perusahaan, seperti snack dan katering kegiatan, guna menciptakan pasar yang stabil.
Di Jambi, Aksena Snack menjadi salah satu contoh UMKM binaan yang mengolah tempoyak menjadi camilan.
Usaha ini telah memiliki sertifikat HAKI, dipasarkan di toko oleh-oleh, mempekerjakan perempuan sekitar, dan mencatat omzet sekitar Rp10 juta per bulan dengan kapasitas produksi 250 kemasan per hari.
Di Padang dan Samarinda, kelompok istri AMT mengelola Dapur & Catering Petrofin yang melayani kebutuhan konsumsi kegiatan perusahaan dan masyarakat.
UMKM ini berkontribusi pada peningkatan standar kebersihan dan kualitas produk pangan.
Sementara itu, di Gorontalo, keluarga AMT mengembangkan budidaya ikan air tawar dengan sistem bioflok.
Sejak berjalan pada 2024, usaha ini menghasilkan panen sekitar 250 kilogram setiap dua bulan dan tambahan pendapatan hingga Rp45 juta per tahun.
Di Pare-Pare, UMKM Abon Madu Sedap mencatat omzet sekitar Rp3 juta per bulan, sedangkan Cemil Lontar di Jayapura mengangkat kembali kue khas daerah sebagai produk unggulan.
Putiarsa menegaskan Program TANGKI sejalan dengan komitmen ESG perusahaan, khususnya dalam pemberdayaan sosial dan inklusi ekonomi, serta mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) poin 5 (Kesetaraan Gender) dan poin 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi).
Pelaku UMKM Aksena Snack, Thiur Maita Lubis, menyatakan pendampingan perusahaan membantu proses produksi hingga pemasaran.
“Produk kami diberi ruang untuk dipasarkan sebagai jajanan AMT dan camilan kantor,” katanya.
Dari Gorontalo, Mutin Kadir, pelaku UMKM bioflok, menyebut pendampingan teknis membuat usahanya lebih stabil dan berkelanjutan.
“Pendekatan terarah membantu kami memahami pengelolaan kolam dan panen,” ujarnya.
Ke depan, Elnusa Petrofin menargetkan perluasan Program TANGKI ke lebih banyak wilayah operasi untuk melibatkan lebih banyak keluarga AMT.(*)
Editor : Hendra Efison