PADEK.JAWAPOS.COM-Sejak beberapa hari terakhir, cuaca ekstrem menyelimuti Sumbar. Dampaknya, telah terjadi banjir, longsor, hingga pohon tumbang di beberapa daerah. Setidaknya hal tersebut berlangsung sejak Sabtu (22/11) hingga kemarin.
Daerah yang diterjang bencana hidrometeorologi itu antara lain Kota Pariaman, Kota Padang, Kota Solok, Kabupaten Agam, Padangpariaman, dan Kabupaten Tanahdatar.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar mencatat, banjir, longsor, dan pohon tumbang mengakibatkan rumah-rumah dan lahan pertanian warga terendam, jalan rusak, serta kolam ikan tertimbun. Namun, hingga kemarin belum ada laporan korban jiwa.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas II Minangkabau memprediksi, cuaca esktrem di Sumbar akan terjadi hingga 27 November mendatang.
Intensitas hujan yang tinggi pun diprediksi masih akan berlansung pada Desember hingga Januari 2026.
Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Minangkabau Desrindra Dedi Kurnia mengungkapkan, cuaca ekstrem dipicu penguatan signifikan Monsun Asia yang kemudian ikut memicu dominasi angin baratan di wilayah Indonesia. Termasuk Sumatera Barat.
“Aliran massa udara lembap dari Samudra Hindia yang bertemu dengan topografi Bukit Barisan berpotensi menimbulkan proses pengangkatan udara atau disebut orographic lifting yang intens, sehingga meningkatkan peluang pembentukan awan hujan,” terangnya, kemarin.
Fenomena atmosfer lain seperti IOD negatif, aktivitas gelombang Rossby Ekuatorial, serta anomali suhu muka laut, jelas dia, turut memperkuat potensi pertumbuhan awan konvektif.
Terutama di wilayah pesisir barat dan daerah perbukitan. Kondisi inilah yang kemudian meningkatkan peluang terjadinya hujan lebat, angin kencang, petir, serta bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, banjir bandang, genangan, dan jalan licin.
Terpisah, Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah meminta seluruh masyarakat di Sumbar meningkatkan kewaspadaan menyusul peringatan dini gawat darurat hidrometeorologi yang dikeluarkan BMKG.
Ia pun meminta seluruh unsur pemerintah daerah hingga tingkat nagari bersiaga penuh, sembari menghimbau masyarakat untuk saling menjaga dan membantu satu sama lain.
“Saya meminta BPBD provinsi dan kabupaten/kota segera memperkuat pemantauan, memastikan kesiapan personel, peralatan, dan jalur evakuasi. Kita harus bergerak cepat dan tepat agar masyarakat terlindungi, terutama pada daerah yang telah ditetapkan BMKG dalam status siaga penuh,” tegasnya.
Ia juga meminta masyarakat proaktif memantau informasi yang berasal dari kanal resmi seperti BMKG, BPBD, dan pemerintah daerah. “Jangan percaya dengan informasi yang sumbernya tidak jelas,” pungkasnya. (yud/wni)
Editor : Novitri Selvia