PADEK.JAWAPOS.COM-KETERLAMBATAN BBM tak saja terjadi pada Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).
Buktinya, mayoritas Pertashop di wilayah Agam, Pasaman, Liumapuluh Kota, Tanahdatar, Solok, Sijunjung dan Dhamasraya juga mengalami keterlambatan kedatangan BBM.
Sangat banyak Pertashop yang selama ini beroperasional terpaksa berhenti sementara karena terlambatnya pasokan BBM.
Terputusnya pasokan sudah mulai terjadi semenjak awal awal bencana. Biasanya pasokan BBM masuk dalam standar 1 x 24 jam atau selambat lambanya 2 x 24 jam pascapenebusan.
Namun saat ini pasokan sudah jauh melampaui waktu standar operasional prosedur. Malahan ada sejumlah Pertashop yang sudah off jualan semenjak empat hari nan lampau.
Pertashop tidak begitu jauh dari lokasi bencana dan menjadi tumpuan masyarakat korban bencana untuk mendapatkan BBM.
“Betul pasokan ini sudah terkendala hampir seminggu yang lampau. Alasannya terkendala adalah macet di Sitinjaulauik. Masak iya macetnya berminggu-minggu sehingga BBM kami datangnya sangat terlambat. Alangkah bijak dan lebih baik Pertamina mencarikan solusi sementara. Misalnya droping-nya dialihkan dari Depot Teluk Kabung ke Depot BBM di Siak, Pekanbaru, Riau. Baik untuk langsung ke Pertashop atau masuk ke SPBU HUP sehingga kami yang mitra kelas UMKM ini tertolong juga,” ujar Agung Suryana, salah seorang pemilik Pertashop di Tanahdatar.
Menurut Agung, kalau dilihat dari efektifitas pelayanan terhadap masyarakat terdampak bencana bisa jadi ketersediaan BBM lebih penting di Pertashop. Sebab Pertashop-lah yang terdekat dengan lokasi bencana.
Kalau SPBU rata-rata berdiri di pusat kota sedangkan bencana terjadi di pelosok kampung kampung.
“Masak masyarakat di daerah bencana harus berjalan dulu ke pusat kota untuk mendapatkan BBM motor mereka sedangkan untuk bergerak dalam radius di bawah 10 KM saja BBM mereka tak cukup,” ujar Agung Suryana.
Sementara itu salah seorang pemilik Pertashop bernama Trimaldi mengungkapkan, pasokan kami memang sudah tersendat sendat semenjak hampir sepekan terkahir.
Ini sangat memberatkan bagi kami karena terhentinya berjualan maka otomatis terhentinya sumber pendapatan.
“Betul kami tak sebesar SPBU tapi kami juga punya kewajiban rutin yang musti ditunaikan. Misalnya, cicilan bank dan biaya operasional. Kalau kami tak jualan dengan apa beban itu akan kami tunaikan,” ujarnya.
Sementara itu Sekretaris Asosiasi Pertashop Sumbar Bersatu Fajar Rillah Vesky sangat menyayangkan lambannya langkah antisipasi dari Pertamina mendistribusikan BBM.
“Bencana putusnya jalan Lembah Anai tidak sekali ini. Tahun lalu tepatnya bulan Mei 2024 juga sudah terjadi. Namun karena ada tindakan antisipasi dari Pertamina Padang dengan memasok sebagian wilayah terdampak dan hiterland terdampak dari Depot Siak, Pekan Baru maka kelangkaan BBM di SPBU tidak terjadi. Saat itu Pertashop juga terjamin pasokannya,” ujar Fajar yang juga merupakan anggota DPRD Fraksi Partai Golkar Kabupten Limapuluh Kota.
Lebih lanjut diamengungkapkan, Pertamina juga mestinya memperhatikan Pertashop.
Kalaupun tidak akan persis sama perlakuannya dengan SPBU setidaknya janganlah seperti saat ini keterlambatannya. SPBU tetap dipasok setiap harinya musti bersabar.
“Dari sisi jangkauan dan efektivitas, Pertashop jauh lebih efektif dan bermanafaat bagi warga terdampak langsung bencana. Sebab, kehadiran usaha mereka berdekatan dengan lokasi bencana. Kan lokasi bencana itu di perkampungan sedangkan lokasi SPBU lebih banyak berada di perkotaaan,” terang dia.
Hal senaga disampaikan Ketua Asosiasi Pertashop Sumbar Bersatu Ramadanur. Kelangkaan dan terputusnya pasokan BBM untuk Pertashop hampir seminggu belakangan telah memberatkan bagi mitra terujung Pertamina.
“Betul, kuantiti dan volume usaha Pertashop ini kecil tapi para Pertashop ini adalah layanan terujung dan terdekat dengan lokasi bencana. Pertashop ini tidaklah menjual Pertalite (subsidi-red). Kami ini menjual barang nonsubsidi dan konsumen kami juga sudah memahami. Kalaulah tidak akan dipasok setiap hari karena terkendala kondisi macet Sitinjaulauik setidaknya janganlah terlalu lama seperti saat ini,” ujar Ramadanur.
Menurut Ramadanur, secara organisasi mereka sudah berkoordinasi dengan Pertamina dan sudah menyampaikan keleluhan dan harapan dari seluruh anggota.
Selain berkontak langsung dengan Sales Area Manager mereka juga berkirim surat secara formal sebagai bentuk sikap resmi organisasi.
Dari pantauan Padang Ekspres semenjak Kamis (11/12) hingga Minggu (13/12) terpantau sejumlah Pertashop di wilayah Agam, Limapuluh Kota, Tanahdatar dan Pasaman banyak yang tutup operasional.
Infomasi dari masing-masing pengawas Pertashop, terhentinya operasional karena tersendat-sendatnya pasokan BBM dari Pertamina semenjak seminggu belakangan.
Selain pantauan lapangan, di Tiktok Wagub Vasco Ruseimy juga terpantau wagub mendesak Pertamina untuk melakukan langkah langkah antisipasi.
Selain meminta Pertamina untuk bekerja keras karena kondisi tidak normal, ia juga langsung mengkoordinasikan Pertamina dengan Dishub Sumbar agar diberikan kemudahan ketika kendaraan mobil tangki meleweti Sitinjaulauik.
Wagub juga mengontak Kepala Balai Jalan Nasional untuk mengizinkan BBM Tangki kapasitas 5.000 liter untuk lewat saat kondisi sudah bisa dilewati secara darurat.
Tidak itu saja, kalau bisa armada Tangki BBM 8.000 liter juga diperkenankan lewat jalan darurat tersebut. (cr1)
Editor : Novitri Selvia