PADEK.JAWAPOS.COM-SECARA bertahap, dampak bencana banjir dan longsor di sejumlah daerah mulai kembali pulih. Namun belum berjalan dengan maksimal. Salah satunya jaringan telekomunikasi.
Di Nagari Salarehaie, Kecamatan Palembayan, Agam, kondisi jaringan telekomunikasi kini mulai pulih. Sejak Selasa (16/12), internet kembali bisa diakses, meski belum stabil dan kerap hilang saat hujan turun.
Wali Jorong Kayupasak, Salarehaie Nofril Harman menyebutkan, saat ini hanya jaringan Telkomsel yang aktif. Base Transceiver Station (BTS) yang sebelumnya rusak terdampak galodo sudah kembali beroperasi, hanya saja kekuatan sinyal masih lemah.
Untuk pasokan listrik, Nofril mengatakan, aliran listrik sudah kembali normal sejak tujuh hari pascagalodo. Namun, pemadaman singkat masih terjadi pada malam hari, umumnya akibat pemasangan peralatan maupun gangguan cuaca.
Meski begitu, masalah paling krusial yang masih dihadapi warga dan pengungsi adalah ketersediaan air bersih. Galodo merusak jaringan pipa air, termasuk saluran PDAM dan Pamsimas, sehingga kebutuhan air untuk wudhu dan MCK masih sangat terbatas.
“Untuk mandi, sebagian warga terpaksa menumpang ke rumah-rumah penduduk. Untuk wudhu dan MCK masih keteteran,” kata Nofril.
Saat ini, upaya pemenuhan air bersih dilakukan dengan pengeboran sumur di dua lokasi, yakni di Kantor Wali Nagari Salarehaie dan di belakang SDN 05 Kayupasak.
Air Pamsimas sendiri baru mulai mengalir kembali kemarin, namun masih tersendat dan belum sampai ke posko pengungsian karena proses penyambungan pipa masih berlangsung.
Di Posko Utama SDN 05 Kayupasak, tercatat 84 kepala keluarga atau 271 jiwa masih bertahan di pengungsian. Kondisi diperberat oleh cuaca yang hingga kini masih diguyur hujan.
“Kebutuhan mendesak saat ini pampers dewasa, terutama untuk korban luka dan lansia. Untuk logistik makanan, Alhamdulillah masih aman,” ujarnya.
Pemerintah nagari bersama pihak terkait terus melakukan upaya pemulihan pasca-galodo, sembari berharap cuaca segera membaik agar perbaikan infrastruktur dan layanan dasar dapat dipercepat.
Sementara itu, ketersedian air bersih juga masih menjadi persoalan serius di Jorong Panta, Nagari Pantapauh, Kecamatan Matur, Kabupaten Agam.
Masyarakat yang biasanya mengandalkan air bersih dari PDAM kesulitan mengakses air bersih dan terpaksa membeli air untuk memenuhi kebutuhan air bersih.
Andi, 35, salah satu warga setempat menceritakan, masyarakat yang biasa mengandalkan air bersih dari saluran PDAM terpaksa membeli air untuk memenuhi kebutuhan air bersih.
“Karena saluran air PDAM masih terkendala, acapkali tidak berjalan dengan baik, masyarakat terpaksa mengeluarkan uang lebih untuk kebutuhan air bersih,” imbuhnya.
Ia menambahkan dalam seminggu harus membeli air satu tangki dengan harga mencapai Rp 120.000. Air tersebut digunakan untuk kebutuhan konsumsi dan MCK. “Untuk kualitas airnya bagus dan tidak ada masalah,” sebutnya.
Selain persoalan air, akses jalan masih menjadi momok yang membuatnya cukup merasa waswas. Sempat terputus, jalur dari jorong Panta ke pusat Kecamatan masih acapkali putus dan jalur dari Jorong Panta ke Kota Bukittinggi masih berlumpur.
“Kalau dari rumah saya ke pusat Kecamatan, setidaknya ada dua titik jalan yang masih rawan. Masih sering terjadi runtuhan kecil dan terputus. Bisa dibilang masih jalur darurat. Kemudian untuk jalur ke Bukittinggi, masih banyak titik jalur yang berlumpur dan cukup membahayakan terutama saat hujan,” tambahnya.
Kemudian terkait jaringan telekomunikasi, Andi menyebutkan sampai saat ini masih sering terjadi gangguan jaringan. Tidak hanya putus-putus, bahkan kerap benar-benar tidak ada jaringan.
“Kalau untuk listrik, sejak satu pekan terakhir sudah mulai lancar. Hanya saja sekarang masih ada masalah terkait jaringan telekomunikasi. Bukan hanya putus-putus atau kualitasnya jelek, kadang jaringan telekomunikasi itu benar-benar hilang. Tentu berbahaya jika jaringan transportasi terputus bersamaan dengan hilangnya jaringan telekomunikasi,” tutupnya.
Tendon Air Membantu
Di Padang, selain banyak warga yang terdampak langsung, terdapat juga warga yang terdampak tak langsung. Dampak secara tidak langsung tersebut adalah matinya air PDAM pada beberapa titik di Kota Padang.
tak mengalirnya air ini tentu menyebabkan masyarakat teganggu dalam menjalankan kegiatan sehari-harinya.
Salah satu titik yang saat ini melewati kesulitan dalam air bersih adalah Komplek Pratama 1, Simpang Brimob, Lubuk Buaya, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang.
Pipa-pipa PDAM pada perumahan ini sudah tidak dialiri air sedari awal bencana banjir melanda Kota Padang.
Aisyah, 58, salah satu warga mengatakan untungnya rumahnya memiliki sumur untuk dimanfaatkan. Namun ia yang biasa merebus air PDAM untuk kebutuhan minum. Sejak air tak mengalir beralih ke air galon atau air kemasan.
Perumahan Pratama 1 ini pada hari Sabtu lalu, mendapatkan bantuan air berupa peletakan tandon/toren berisikan air bersih oleh PDAM Kota Padang.
Sebelum bantuan tandon tersebut hadir warga perumahan meminta air untuk kebutuhan sehari-hari ke tetangganya yang memiliki sumur atau bolak-balik menjemput air di Mesjid Muhajirin yang berada pada perumahan tersebut.
“Tendon air dari PDAM ini sangat-sangat membantu sekali. Kami bersyukur karena tendon sudah ditaroh orang PDAM disini jadi warga tidak merasa kekurangan air lagi karena sudah dapat air bersih” katanya.
Ia mengatakan, masyarakat blok H Perumahan Pratama 1 Lubuknuaya tersebut juga saling berbagi dengan masyarakat sekitar di luar komplek perumahan tersebut.
“Kalau ada orang lewat bertanya itu kita mempersilahkan untuk mengambil air. Ini kan sudah ada dari PDAM jadi kita bersyukur sampai datang-datang orang dari luar komplek kita,” tukasnya. (ptr/rna/cr4)
Editor : Novitri Selvia