Curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah Maninjau sejak siang hari memicu kembali turunnya material lumpur, bebatuan, dan kayu dari hulu sungai. Material banjir menutup seluruh badan jalan, bahkan sebagian meluap hingga ke permukiman warga di sekitar lokasi.
Camat Tanjungraya, Al Hafid menyebutkan hingga Minggu sore tidak satu pun kendaraan, baik roda dua maupun roda empat, dapat melintas di jalur tersebut.
”Akses benar-benar lumpuh total. Material longsor masih terus terbawa aliran air keruh, sehingga tim gabungan belum bisa melakukan pembersihan secara maksimal karena kondisi masih berbahaya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, tim gabungan yang terdiri dari TNI, Polri, BPBD, pemerintah kecamatan, dan masyarakat setempat saat ini hanya melakukan pemantauan dari jarak aman. Alat berat telah disiagakan, namun baru akan diturunkan setelah kondisi memungkinkan.
Sementara itu, Kasat Lantas Polres Agam AKP Irawady mengatakan jalur Lubukbasung–Bukittinggi sempat dibuka dengan sistem buka-tutup usai pembersihan material longsor pada Minggu siang. Sebelumnya, Sabtu malam, ruas jalan tersebut tertutup material banjir bandang.
Namun, banjir susulan kembali memaksa petugas menutup akses demi keselamatan pengguna jalan. ”Kami tidak ingin mengambil risiko. Jika dipaksakan, dikhawatirkan dapat menimbulkan korban jiwa,” tegas AKP Irawady.
Selain di Maninjau, longsor juga terpantau di kawasan Kelok Limau, Nagari Kotopanjang, Kecamatan Ampekkoto, Minggu (28/12). Sebuah mobil warga sempat terjebak material longsor, namun tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.
Pemerintah setempat mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan mengingat cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi. Warga yang bermukim di daerah rawan bencana diminta segera mengungsi ke tempat yang lebih aman jika hujan deras kembali turun.
Sebelumnya, hujan lebat yang mengguyur kawasan Maninjau sejak Kamis (25/12) juga memicu banjir bandang yang menutup total jalur Bukittinggi–Lubukbasung. Banjir tersebut merendam permukiman warga hingga Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Maninjau, sehingga warga binaan sempat dievakuasi.
Warga Minta Normalisasi Menyeluruh
Bencana yang berulang ini dinilai sebagai dampak pendangkalan sungai di kawasan Maninjau akibat material banjir yang terus terbawa selama sebulan terakhir. Lumpur, bebatuan, dan kayu menumpuk di sejumlah titik aliran sungai, bahkan di beberapa lokasi ketinggiannya melebihi permukiman warga.
Akibatnya, setiap kali debit air meningkat, luapan air langsung menggenangi rumah warga dan badan jalan. Pola cuaca dalam sebulan terakhir turut memperparah kondisi. Pagi hari relatif cerah, menjelang siang gerimis, lalu hujan lebat turun selama dua hingga tiga jam yang menyebabkan debit sungai naik drastis.
Di Pasa Maninjau, aliran Batang Muaro Pisang mengalami pendangkalan parah. Material bebatuan menutup Jembatan Muaro Pisang sehingga aliran air tersendat dan selalu meluber ke jalan serta permukiman warga di sekitarnya.
Selain melumpuhkan akses, bencana ini mengakibatkan sebanyak 87 kepala keluarga (KK) atau sekitar 200 jiwa terpaksa mengungsi. Rumah mereka rusak atau tidak dapat ditempati karena dipenuhi material banjir bandang. Untuk sementara, para pengungsi ditampung di ruang belajar Gedung Atas SMAN 1 Tanjungraya dan Masjid Raya SMPN 1 Tanjungraya.
Kondisi serupa juga terjadi di aliran Batang Balok Bancah. Pendangkalan sungai serta keberadaan jembatan lama yang sempit dan dangkal menyebabkan air cepat meluap saat debit meningkat. Sebagian warga sempat kembali ke rumah, namun sekitar 200 jiwa kembali mengungsi ke Posko Pengungsian Rumah Batu dan Masjid Ummil Qura di Jorong Bancah.
”Jembatan kecil yang sudah sangat dangkal ini sudah waktunya diganti dengan jembatan yang lebih besar. Kalau tidak, banjir akan terus terjadi,” kata warga setempat, Rudi Yudistira.
Warga menilai penanganan saat ini belum optimal. Normalisasi sungai dinilai harus dilakukan secara cepat dan menyeluruh dari hulu hingga hilir dengan dukungan alat berat yang memadai.
”Di aliran Batang Balok Bancah idealnya dibutuhkan dua alat berat yang bekerja bersamaan di hulu dan hilir. Saat ini hanya satu alat yang bekerja, itu pun sering terkendala hujan. Material yang sudah digali kembali turun saat air naik,” ujarnya.
Sementara di aliran Batang Muaro Pisang, warga menilai idealnya diperlukan empat unit alat berat. Saat ini hanya tersedia satu ekskavator dan dua buldoser yang juga kerap tertahan untuk penanganan material banjir di kawasan Pasar Maninjau, sehingga proses normalisasi berjalan lambat.
Warga berharap pemerintah daerah, Balai Sungai, serta pihak terkait dapat segera mengambil langkah penanganan yang lebih komprehensif agar banjir bandang tidak terus berulang dan mengancam keselamatan warga. (*)
Editor : Eri Mardinal