Fenomena ini paling terasa di Salareh Aia, Kecamatan Palembayan dan Silayang, Kabupaten Agam, dan Koto Tinggi, Limapuluh Kota. Di ketiga wilayah ini, trauma psikologis warga tetap menjadi tantangan meski pemulihan fisik sudah berlangsung.
UNP Turunkan Tim Pendamping Psikososial
Universitas Negeri Padang (UNP) menurunkan tim dosen dan mahasiswa untuk melakukan pendampingan psikososial pascabencana. Program ini memanfaatkan konseling trauma berbasis Ifdil Perceptual Light Technique (IPLT), pendidikan darurat inklusif, dan penguatan resiliensi komunitas.
“Pemulihan tidak cukup hanya membangun kembali rumah. Luka psikologis dan kebutuhan dasar warga harus ditangani bersamaan agar masyarakat bisa benar-benar bangkit,” ujar Prof. Ifdil, ketua tim.
Struktur Tim dan Kegiatan Lapangan
Tim UNP dipimpin Prof. Ifdil dan didukung oleh dosen lintas keahlian, yaitu Prof. Asmar Yulastri, Prof. Dr. Afdal, Dr. Nurhastuti, Dr. Mardianto, Dr. Yudi Antomi, Dr. Zadrian Ardi, Dr. Zahriyah Simargolang, serta Evelynd. Mahasiswa turut aktif sebagai pendamping lapangan, melakukan asesmen awal, konseling kelompok, terapi bermain, serta kegiatan edukasi ramah anak.
Selain layanan psikososial, tim juga menyalurkan bantuan logistik dan kebutuhan pokok bagi warga terdampak di ketiga wilayah tersebut. Kehadiran tim UNP mendapat sambutan positif, khususnya karena anak-anak kembali memiliki ruang aman untuk bermain dan belajar.
Dukungan Program dan Pendanaan
Program pendampingan ini didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat Tanggap Darurat Bencana 2025.
"Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memastikan pemulihan mental, sosial, dan ekonomi warga berjalan seiring, sehingga masyarakat terdampak banjir di Sumatera Barat dapat kembali beraktivitas dengan aman dan produktif," kata Ifdil..(*)
Editor : Heri Sugiarto