Pantauan di lapangan menunjukkan ruas jalan penghubung Payakumbuh, Kabupaten Limapuluh Kota, dan Kabupaten Tanahdatar dipenuhi lubang, retakan, serta aspal terkelupas di sejumlah titik.
Kerusakan semakin parah saat hujan karena genangan air menutupi lubang jalan, sehingga sulit terlihat pengendara, terutama pengguna sepeda motor.
Warga menyebut perbaikan yang dilakukan pemerintah baru menyentuh ruas Payakumbuh–Sitangkai di kawasan Gadut, sementara ruas Halaban menuju Lintau belum diperbaiki.
Salah seorang warga Halaban, Inal (41), mengatakan kerusakan jalan telah berlangsung lama dan perbaikan sebelumnya hanya bersifat sementara.
“Perbaikan sudah ada, tapi itu baru sampai Gadut. Di Halaban masih belum,” ujarnya.
Ia menambahkan, kondisi jalan semakin berbahaya saat hujan dan malam hari karena minim penerangan.
“Lubang tertutup air dan licin, sudah ada pengendara yang terjatuh,” katanya.
Kerusakan jalan juga berdampak pada sektor ekonomi masyarakat, terutama petani yang kesulitan mengangkut hasil panen.
Petani setempat, Yulizar (48), mengatakan kendaraan sering rusak akibat kondisi jalan yang tidak layak.
“Kalau musim hujan, kami terpaksa menunda mengangkut hasil panen,” ujarnya.
Menurutnya, jalan Halaban memiliki peran penting dalam distribusi hasil pertanian dan menunjang perekonomian nagari.
Keluhan serupa disampaikan Adam (23), pekerja swasta yang setiap hari melintasi jalan tersebut.
“Ini jalan provinsi, tapi perbaikannya sangat lambat dan membahayakan pengguna jalan,” katanya.
Pantauan Padang Ekspres mencatat sejumlah lubang dengan kedalaman bervariasi tersebar di sepanjang ruas Halaban menuju Lintau, memaksa kendaraan melintas bergantian.
Hingga akhir Desember 2025, warga Halaban masih menunggu kelanjutan perbaikan jalan dan berharap pemerintah segera melakukan penanganan menyeluruh. (CR7)
Editor : Hendra Efison