Penurunan hampir 30 persen ini menunjukkan pergeseran pola demografi nasional. Data BPS mencatat tren penurunan berlangsung konsisten, sempat berada di angka 2 juta pada 2018, kemudian merosot drastis pada masa pandemi hingga mencapai 1,47 juta pada 2024.
Faktor ekonomi menjadi alasan dominan generasi muda menunda pernikahan. Ari (26), pekerja swasta di Kota Padang, menyatakan belum siap secara finansial untuk membangun rumah tangga.
“Jujur saya merasa belum mapan. Biaya hidup saat ini sudah semakin gila. Saya harus memikirkan banyak hal pasca-pernikahan, mulai dari cicilan rumah, kendaraan yang layak seperti mobil, hingga persiapan biaya pendidikan anak nantinya,” ujar Ari.
Ia menambahkan bahwa kesiapan mental juga menjadi pertimbangan penting. “Persoalan kesiapan mental dan rasa takut akan kegagalan dalam pernikahan juga jadi pertimbangan besar saya,” kata Ari.
Afdhal (25) menyampaikan alasan serupa. Menurutnya, biaya hidup di kawasan perkotaan membuat rencana menikah harus ditunda sampai kondisi ekonomi pribadi stabil.
“Untuk kondisi ekonomi sekarang, saya belum berani. Apalagi kalau nanti dapat calon istri yang high maintenance, tentu biayanya akan ekstra. Saya tidak ingin memiliki anak dalam kondisi finansial yang belum stabil karena takut gagal memberikan yang terbaik,” ujar Afdhal.
Ia mengungkapkan dirinya bagian dari sandwich generation, di mana tanggung jawab ekonomi terhadap orang tua menjadi prioritas sebelum membangun keluarga baru.
Selain faktor finansial, Afdhal menilai usia 20-an merupakan masa untuk mengembangkan diri. “Saya masih ingin jalan-jalan dan lanjut sekolah. Masa-masa ini ingin saya pakai untuk membahagiakan diri sendiri dan orang tua dulu sebelum memikul tanggung jawab sebagai kepala rumah tangga,” lanjutnya.
BPS menilai penurunan angka pernikahan ini menunjukkan perubahan sikap masyarakat yang semakin rasional dan mempertimbangkan stabilitas ekonomi sebelum menikah.(CR3)
Editor : Hendra Efison