Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Ekonomi Sumbar 2026: Antara Perlambatan, Pemulihan, dan Harapan Baru

Suryani • Kamis, 29 Januari 2026 | 14:03 WIB
Kepala Perwakilan BI Sumbar Mohamad Abdul Majid Ikram.
Kepala Perwakilan BI Sumbar Mohamad Abdul Majid Ikram.

PADEK.JAWAPOS.COM—Tahun 2025 buruk bagi pertumbuhan ekonomi (PE) Sumbar. Setidaknya, dari triwulan I hingga III, terus mengalami penurunan. Masing-masingnya, 4,5 persen, 3,9 persen dan terakhir 3,4 persen. Dengan terjadinya banjir dan galodo di belasan kabupaten dan kota pada November lalu, catatan pada triwulan IV pun berkemungkinan tak akan lebih baik.

Lalu, bisakah Sumbar bangkit, dengan setidaknya menyamakan rerata proyeksi PE nasional tahun ini? Sebagaimana diungkapkan Gubernur BI Perry Warjiyo saat hadir secara hibrid pada Peluncuran Laporan Perekonomian Indonesia Tahun 2025 antara Kantor Pusat Bank Indonesia dengan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah, kemarin, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan akan meningkat. Dari 4,7 persen hingga 5,5 persen tahun lalu menjadi 4,9 persen hingga 5,7 persen tahun ini, dengan titik tengah 5,3 persen.

Kepala Perwakilan BI Sumbar Mohamad Abdul Majid Ikram optimistis sekaligus realistis menatap angka-angka tesebut. ”Optimis kita kejar tapi realistis kalau kemudian tidak terlalu kencang (pertumbuhan ekonomi, red), ya kita akhirnya kembali lagi di bawah nasional,” sebutnya.

Ia mengungkapkan, secara historis Sumbar memiliki tantangan. Yakni potensi krisis bencana dan pandemi yang meninggalkan dampak jangka panjang.

BI Sumbar pun telah melakukan penelitian dengan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Padang. Mereka menelaah dampak bencana terhadap eknomi struktural Sumbar dan percepatan pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat melalui penguatan sektor inklusif.

”Hasilnya, terjadi permanent output loss akibat krisis bencana yang mana pada penelitian ini menggunakan simulasi DSGE: Shock Gempa 2009,” katanya.

Semua skenario, tekan dia, menunjukkan steady state baru yang lebih rendah dari pada pra-gempa. Konsisten dengan data empiris Sumatera Barat hingga 2025. Dampak gempa 2009 terhadap ekonomi Sumatera Barat menunjukkan efek scarring permanen pada investasi swasta dan konsumsi.

Efisiensi investasi publik dipandang lebih krusial daripada ukuran anggaran untuk meredam shock bencana, dengan kebijakan preventif mengurangi durasi kontraksi dan kebutuhan rekonstruksi.

Lebih jauh dipaparkan, kajian percepatan pertumbuhan ekonomi Sumbar melalui penguatan sektor inklusif oleh tim peneliti Program Magister Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNP menunjukkan, trend pertumbuhan ekonomi Sumbar yang semakin menurun akibat melambatnya tingkat pertumbuhan rata-rata dari sektor ekonomi yang berkontribusi besar terhadap perekonomian. Yakni, pertanian, perdagangan, industri makan minum, pertambangan dan penggalian lainnya.

”Sebagian besar sektor industri masuk dalam kuadran keempat. Namun, industri yang terkait dengan pariwisata berada pada kuadran, tiga, dua dan satu yang mana memungkinkan untuk dikembangkan sebagai sumber pertumbuhan ekonomi,” jelasnya.

Sedangkan dektor pertanian memiliki angka pengganda output yang rendah, meskipun memiliki angka pengganda tenaga kerja yang tertinggi dan angka pengganda pendapatan relatif cukup tinggi. Sektor industri dan sektor jasa yang terkait dengan pariwisata, berupa industri makan minum dan jasa penyediaan makan minum, industri tekstil pakaian jadi, relatif mampu mendorong output dan menyerap tenaga kerja.

Mohamad Abdul Majid menyampaikan, proses perbaikan pertanian harus dipercepat sebelum menjadi masalah. Karena, sektor pertanian harus kembali pulih pada musim tanam 2026 yang mana menjadi tantangan tersendiri pada kondisi Sumbar saat ini.

”Untuk naik lebih tinggi kita harus cari sumber-sumber lainnya yang paling mudah ya tadi dari diskusi, di pariwisata,” tukasnya.

Dorongan Optimisme

Sementara itu, Bank Indonesia optimis ekonomi Indonesia 2026 tetap tumbuh dengan baik di tengah tantangan internlal dan eksternal. Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, optimisme terhadap masa depan ekonomi Indonesia itu dilakukan dalam tiga huruf, yakni Optimisme, Komitmen, dan Sinergi (OKS).

”Saya mengajak semua pihak meninggalkan sikap menunggu dan ragu, serta mulai membangun keyakinan bahwa perekonomian nasional pada 2026 dan 2027 akan bergerak ke arah yang lebih baik dan berkelanjutan,” ucapnya.

Proyeksi menunjukkan, jelas dia, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 diperkirakan berada di kisaran 4,9 hingga 5,7 persen, dengan titik tengah 5,3 persen. Angka tersebut diproyeksikan meningkat pada 2027, berada di rentang 5,1 hingga 5,9 persen dengan titik tengah 5,5 persen. Di saat yang sama, inflasi diperkirakan tetap terjaga pada level 2,5 persen plus minus 1 persen, sehingga stabilitas ekonomi nasional diyakini tidak akan terganggu.

Ia mengatakan, dorongan optimisme itu juga tercermin dari sektor keuangan. Pertumbuhan kredit diproyeksikan berada di kisaran 8 hingga 12 persen pada 2026 dan meningkat menjadi 9 hingga 13 persen pada 2027.

”Digitalisasi ekonomi terus dipacu, dengan target 17 miliar transaksi digital pada 2026, melibatkan sekitar 60 juta pengguna QRIS, dimana 45 juta pelaku UMKM. Sistem pembayaran digital tersebut juga akan diperluas ke delapan negara, yakni Malaysia, Singapura, Jepang, Thailand, Korea Selatan, India, Arab Saudi, dan China,” jelasnya.

Dalam konteks ini, sambung dia, masyarakat dan pelaku usaha diingatkan untuk tidak terjebak pada sikap wait and see. Karena keraguan justru berisiko membuat Indonesia tertinggal dari momentum pertumbuhan. (cr4)

Editor : Adetio Purtama
#BI Perwakilan Sumbar #Ekonomi Sumbar 2026 #perlambatan #pemulihan #Harapan Baru