Ujian terbuka tersebut berlangsung di aula lantai 3 Gedung Pascasarjana Universitas Andalas dan dihadiri oleh sivitas akademika, keluarga serta kolega.
Di bawah bimbingan promotor utama Prof. Elfindri, S.E, M.A, anggota promotor Prof. Henmaidi, ST, M.Eng.Sc, Ph.D, dan Hafiz Rahman, SE, MSBS, Ph.D, Defri Rahman mempresentasikan penelitian mendalam berjudul “ Pengelolaan Sampah Sisa Makanan Rumah Tangga di Kota Padang: Faktor-faktor yang mempengaruhi dan Strategi Penanganannya dalam Perspektif Pembangunan Berkelanjutan”.
Kajian ini menyoroti Sampah sisa makanan (food waste) merupakan salah satu persoalan lingkungan yang semakin mendapat perhatian dalam agenda pembangunan berkelanjutan, khususnya di wilayah perkotaan. Secara global, food waste tidak hanya mencerminkan pemborosan pangan, tetapi juga pemborosan sumber daya serta berkontribusi terhadap peningkatan emisi gas rumah kaca akibat proses pembusukan sampah organik di tempat pembuangan akhir. Kondisi ini menjadikan sampah sisa makanan sebagai isu strategis yang berkaitan langsung dengan keberlanjutan lingkungan, ketahanan pangan, dan kesejahteraan sosial. Sampah sisa makanan (food waste) jauh lebih tinggi volumenya di tingkat rumah tangga. Tingginya volume sampah sisa makanan ditingkat rumah tangga dipengaruhi oleh berbagai faktor dan komponen yang kompleks.
Dalam konteks pembangunan berkelanjutan, pengelolaan sampah sisa makanan memiliki keterkaitan erat dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 11 (Kota dan Komunitas Berkelanjutan) dan SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab).
SDGs 11 menekankan pentingnya pengurangan dampak lingkungan perkotaan melalui pengelolaan limbah yang efektif, sedangkan SDGs 12 secara eksplisit menargetkan pengurangan pemborosan pangan dan peningkatan efisiensi penggunaan sumber daya. Dengan demikian, pengelolaan sampah sisa makanan di tingkat rumah tangga menjadi salah satu kunci dalam mendukung pencapaian target SDGs di wilayah perkotaan.
Kota Padang sebagai salah satu kota besar di Sumatera Barat menghadapi permasalahan pengelolaan sampah yang serupa dengan kota-kota lain di Indonesia. Sampah rumah tangga, khususnya sampah organik berupa sisa makanan, masih mendominasi komposisi sampah yang dihasilkan.
Praktik pengelolaan sampah sisa makanan di tingkat rumah tangga umumnya masih terbatas pada pembuangan, dengan tingkat pemilahan dan pengolahan yang relatif rendah. Kondisi ini menyebabkan sampah sisa makanan sebagian besar berakhir di tempat pembuangan akhir, yang pada akhirnya menimbulkan persoalan lingkungan, kesehatan, dan sosial ekonomi.
Penelitian dilakukan dengan menggabungkan metode penelitian kualitatif dan metode kuantitatif (mix method) dengan lokasi penelitian di Kota Padang. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi serta dokumentasi dan juga melalui penyebaran kuesioner/survei pada 300 responden yang tersebar di 11 kecamatan di Kota Padang.
Pengelolaan sampah sisa makanan di Kota Padang belum berjalan secara efektif dan berkelanjutan. Sampah sisa makanan masih bercampur dengan sampah jenis lain sejak dari sumber rumah tangga, proses pengangkutan, penyimpanan di TPS/Kontainer, hingga ke TPA Air Dingin. Ketiadaan regulasi khusus dan kelembagaan formal yang mendukung pengelolaan sampah organik menyebabkan lemahnya implementasi pemilahan dan pengolahan sampah sisa makanan, serta dominannya inisiatif individu pembudidaya maggot sebagai pelaku utama pengurangan sampah organik.
Aspek perencanaan, pembelian, memasak, proses makan, pengelolaan sisa makanan, dan pembuangan sebagai titik lemah utama yang memerlukan intervensi strategis. Rendahnya literasi dan partisipasi masyarakat menjadi tantangan besar, sehingga diperlukan edukasi intensif dengan pendekatan berbasis komunitas serta penguatan literasi pengelolaan makanan untuk meningkatkan perilaku dan kepatuhan rumah tangga.
Persoalan food waste rumah tangga merupakan persoalan perilaku yang bersifat sistemik. Hubungan karakteristik sosio demografis dengan cara mengatasi masalah sampah juga menunjukkan bagaimana variabel demografis mempengaruhi kapasitas adaptasi dan strategi pengelolaan yang dipilih rumah tangga. Temuan ini menegaskan perlunya desain kebijakan dan program pengelolaan sampah yang mempertimbangkan perbedaan karakteristik demografis, agar intervensi yang dilakukan benar-benar tepat sasaran dan efektif.
Disertasi ini menyumbangkan kebaruan berupa pendekatan integratif dalam mengkaji pengelolaan sampah sisa makanan di tingkat rumah tangga dengan mengaitkan aspek perilaku, karakteristik sosio-demografis, dan implikasinya terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.
Implikasi Kebijakan dari Hasil Penelitian ini bagi Pemerintah Kota Padang: 1) Perlunya reposisi kebijakan pengelolaan sampah berbasis nilai dan kearifan lokal dengan prinsip pengelolaan sampah berkelanjutan, 2) Merancang kebijakan yang secara sistematis mendorong perubahan perilaku melalui pendekatan edukatif dan persuasif yang berbasis nilai lokal, bukan semata pendekatan regulatif. 3) Pentingnya pelibatan aktor budaya dan keagamaan dalam kebijakan persampahan. 4) Integrasi nilai Islam dan adat Minangkabau dalam kebijakan persampahan. 5) Penguatan posisi pengelolaan sampah sisa makanan dalam agenda pembangunan berkelanjutan daerah, berbasis perilaku dan nilai lokal dapat menjadi strategi kunci Pemerintah Kota Padang dalam mendukung pencapaian SDG 11 (Kota dan Komunitas Berkelanjutan) dan SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) secara kontekstual dan berkelanjutan.
Sekretaris Program Studi Doktor Studi Pembangunan SPs Unand, Dr. Sri Setiawati, M.A. sekaligus Ketua Sidang memberikan apresiasi tinggi terhadap kajian ini. Menurutnya, kajian ini menjadi kontribusi penting bagi pengelolaan sampah yang berkelanjutan di Kota Padang. (*)
Editor : Eri Mardinal