TANAHDATAR, PADEK.JAWAPOS.COM – Pemerintah Nagari Buo, Kecamatan Lintau Buo, Kabupaten Tanahdatar, menilai Program Irigasi Batang Sinamar menjadi pemicu meningkatnya longsor dan banjir bandang yang merusak permukiman, lahan pertanian, serta akses jalan warga. Kekecewaan itu disampaikan langsung Wali Nagari Buo melalui unggahan video di media sosial, Selasa (19/5/2026).
Dalam video berdurasi 3 menit 23 detik yang diunggah ke grup Facebook Salingka Tanahdatar, Wali Nagari Buo, Yulkusmayanto, terlihat meninjau lokasi longsor bersama Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) Buo.
Ia menyebut wilayah tersebut sebelumnya tidak pernah mengalami longsor besar sebelum proyek Irigasi Batang Sinamar berjalan.
“Pada tahun 2022 terjadi longsor besar yang menyebabkan akses jalan putus, lahan masyarakat hanyut, dan dua rumah warga hancur,” ujar Yulkusmayanto dalam video tersebut.
Baca Juga: FGD PETI Sumbar Bongkar Dugaan Beking Tambang Ilegal, 9 Orang Tewas dalam Dua Pekan
Menurutnya, sejak proyek irigasi berlangsung, titik rawan longsor di Nagari Buo semakin bertambah. Pada 2022 saja, tercatat sedikitnya lima titik longsor yang merusak persawahan, perkebunan, rumah warga, hingga menyebabkan ternak masyarakat mati.
Pernyataan tersebut muncul setelah banjir bandang kembali melanda kawasan itu beberapa hari terakhir dan memicu kerusakan baru di sejumlah titik.
Nagari Klaim Sudah Tiga Kali Surati BWS
Pemerintah Nagari Buo mengaku telah berulang kali menyampaikan keluhan kepada Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera V selaku pihak yang bertanggung jawab terhadap program irigasi tersebut.
Namun hingga kini, menurut Yulkusmayanto, belum ada tanggapan resmi atas surat pengaduan yang telah dikirimkan.
Baca Juga: KAI Sumbar Tutup 3 Perlintasan Liar di Padangpariaman, Cegah Risiko Kecelakaan Kereta
“Kami sudah tiga kali bersurat ke BWS V Sumatera Barat, tetapi tidak pernah ditanggapi. Tahun ini longsor kembali terjadi dan kami tidak tahu lagi harus mengadu ke mana,” katanya.
Ia menilai kondisi yang terjadi saat ini telah mengancam ruang hidup masyarakat karena kerusakan terus meluas setiap kali hujan dengan intensitas tinggi turun di kawasan tersebut.
Yulkusmayanto juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Tanahdatar yang telah memberikan bantuan perumahan kepada sebagian warga terdampak bencana.
Meski demikian, ia menilai bantuan tersebut belum mampu menutupi kerugian besar yang dialami masyarakat akibat longsor dan banjir bandang yang terus berulang.
Baca Juga: Hari Jadi Kota Padang ke-357 Siap Tampil Spektakuler dengan Konsep Gastronomi dan Kota Tua
“Hari ini kami kembali meminta perhatian BWS V Sumatera Barat. Tolong lihat kondisi Nagari Buo yang sudah hancur akibat program gagal Batang Sinamar,” ujarnya.
Warga Ancam Lapor Ombudsman RI
Dalam pernyataannya, Pemerintah Nagari Buo mengancam akan membawa persoalan tersebut ke Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Sumatera Barat apabila tidak ada tanggapan dari pihak terkait.
Ancaman itu disampaikan setelah warga merasa aspirasi dan laporan mereka selama ini tidak mendapatkan respons yang memadai.
Unggahan video bertajuk “Duka yang Berulang” tersebut juga memuat kronologi bencana yang disebut telah berlangsung sejak 2023 hingga menyebabkan warga mengungsi.
Baca Juga: Polsek Koto Baru Tertibkan Truk Sawit tanpa Terpal di Jalur Lintas Sumatera
Surat pengaduan yang dikirimkan pemerintah nagari sebelumnya juga disebut telah ditembuskan kepada Gubernur Sumatera Barat.
Hingga lima jam setelah diunggah, video tersebut mendapat puluhan respons dari warganet dan memicu berbagai komentar terkait kondisi bencana di Nagari Buo.
Di akhir unggahan, Wali Nagari Buo menyertakan tagar #jaganagari dan #jagakampuang sembari meminta masukan masyarakat terkait langkah hukum dan pengaduan yang dapat ditempuh selanjutnya.
Sementara itu, hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera V Sumatera Barat terkait tudingan yang disampaikan Pemerintah Nagari Buo.(*)
Editor : Hendra Efison