Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Ketua DPRD Sumbar Khawatir Anak Kecanduan Gawai, Risiko “Brain Rot” Mengintai Generasi Digital

Rommy Delfiano • Kamis, 21 Mei 2026 | 19:12 WIB
Ketua DPRD Sumbar, Muhidi, mengingatkan ancaman brain rot akibat kecanduan gawai dan konten digital terhadap anak-anak di tengah budaya digital.
Ketua DPRD Sumbar, Muhidi, mengingatkan ancaman brain rot akibat kecanduan gawai dan konten digital terhadap anak-anak di tengah budaya digital.

PADANG, PADEK.JAWAPOS.COM—DPRD Sumatera Barat mengingatkan ancaman kecanduan gawai dan banjir konten digital terhadap anak-anak yang dapat memicu “brain rot” atau penurunan kemampuan berpikir dan konsentrasi. Kondisi itu dinilai mulai mengancam pola asuh keluarga serta ketahanan sosial masyarakat Minang di tengah derasnya arus budaya digital.

Kekhawatiran tersebut disampaikan Ketua DPRD Sumbar, Muhidi, usai membuka bimbingan teknis (Bimtek) Bundo Kanduang di Padang, Jumat (15/5/2026). Menurutnya, tantangan keluarga saat ini jauh lebih kompleks dibanding sekadar menjaga adat dan tradisi.

“Kalau anak tidak didampingi sejak kecil menggunakan teknologi, mereka bisa kecanduan. Dampaknya bukan hanya malas belajar, tapi bisa sampai brain rot,” kata Muhidi.

Istilah brain rot merujuk pada penurunan kemampuan fokus, kecenderungan kecanduan konten instan, serta melemahnya kemampuan berpikir kritis akibat paparan digital berlebihan dalam jangka panjang.

Baca Juga: Film Indonesia “VATERLAND” Menang di Cannes 2026, Cerita Yogyakarta Pukau Critics’ Week Prancis

Muhidi menilai ancaman digital kini masuk langsung ke ruang keluarga melalui telepon genggam, media sosial, film, hingga berbagai konten internet yang sulit dibendung. Karena itu, pengawasan orang tua terhadap aktivitas digital anak dinilai menjadi semakin penting.

Perubahan pola konsumsi digital anak juga disebut semakin sulit dikontrol karena akses media sosial dan video pendek kini dapat diperoleh dengan mudah melalui telepon pintar.

Ancaman Gawai Dinilai Mulai Gerus Pola Asuh Keluarga

Muhidi mengatakan generasi menuju Indonesia Emas 2045 tidak cukup hanya dibekali kemampuan akademik. Anak-anak, katanya, juga harus memiliki karakter kuat, keterampilan, dan kemampuan beradaptasi menghadapi perubahan dunia yang bergerak sangat cepat.

Baca Juga: Hasil O2SN 2026 Padang: Gavriel dan Aqila Juara Bulu Tangkis SD–SMP

Menurutnya, perkembangan teknologi dan globalisasi tidak mungkin dihindari. Namun, anak-anak tetap perlu dibimbing agar mampu memahami perubahan dan menyikapinya secara bijak.

“Teknologi dan globalisasi tidak bisa dihindari. Yang penting anak-anak punya kemampuan memahami perubahan dan menyikapinya dengan benar,” ujarnya.

Ia juga menyoroti kebiasaan masyarakat yang menjadikan tontonan digital semata sebagai hiburan tanpa menyaring nilai yang terkandung di dalamnya.

Padahal, banyak konten dibuat mengikuti selera pasar dengan memasukkan unsur sensasional maupun negatif demi menarik perhatian pengguna.

Baca Juga: Turnamen Tenis PTBA 2026 Dongkrak Sport Tourism dan Ekonomi Sawahlunto

“Jangan hanya fokus pada tontonan. Harus dilihat juga tuntunannya. Apa pesan, wawasan, dan nilai yang bisa diambil,” katanya.

Muhidi mengingatkan penggunaan laptop dan telepon pintar untuk belajar memang tidak dapat dihindari. Namun, anak tetap harus diberi batas waktu penggunaan gawai serta pengawasan ketat guna mencegah akses terhadap pornografi maupun konten negatif lainnya.

Bundo Kanduang Didorong Jadi Filter Utama Pengaruh Digital

Kekhawatiran serupa disampaikan Kepala Museum Adityawarman, Tuti Alawiyah. Ia menilai Bundo Kanduang kini berada di garis depan menghadapi dampak globalisasi dan perubahan sosial yang mulai menggerus nilai-nilai masyarakat Minang.

Menurutnya, persoalan sosial saat ini semakin kompleks, mulai dari penyalahgunaan narkoba, penyimpangan sosial, hingga pengaruh budaya luar yang masuk melalui media digital.

Baca Juga: Usulan Anggaran Rp8,4 Triliun Kementerian Kehutanan Belum Disetujui, Pemulihan Hutan Tertunda

“Persoalan sosial sekarang makin kompleks. Ada narkoba, penyimpangan sosial, sampai pengaruh budaya luar yang masuk lewat media digital,” kata Tuti.

Ia menilai perempuan Minang memegang posisi strategis dalam membentuk karakter anak karena menjadi pendidik utama di lingkungan keluarga. Karena itu, penguatan kapasitas Bundo Kanduang dinilai mendesak agar tidak kalah cepat menghadapi perkembangan zaman.

Tuti menegaskan gerakan Bundo Kanduang tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial atau simbol budaya semata. Perannya harus nyata dalam pengawasan anak dan pembentukan karakter di lingkungan rumah tangga.

“Kalau keluarga lemah, dampak globalisasi akan masuk tanpa filter,” ujarnya.

DPRD Sumbar menilai keluarga kini menjadi benteng terakhir menjaga karakter generasi muda di tengah derasnya arus digital yang perlahan mulai mengikis pola asuh serta nilai adat masyarakat Minang.(*)

Editor : Hendra Efison
#brain rot anak #kecanduan gawai #dampak konten digital #dprd sumbar #bundo kanduang