Penulis: Rifka Abadi, Wakil Ketua MUI Kota Padang.
Ibadah kurban bukan sekadar ritual tahunan yang dilaksanakan pada Hari Raya Idul Adha, namun juga menjadi simbol ketaatan, kepedulian sosial, dan penguatan solidaritas umat.
Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat untuk berkurban setiap tahunnya, diperlukan sebuah perencanaan keuangan yang baik agar ibadah kurban dapat dilaksanakan dengan lebih ringan, nyaman, dan terukur.
Salah satu solusi yang kini semakin relevan adalah melalui program tabungan kurban. Dan ini akan sangat membantu perencanaan bukan hanya kepada individu yang sudah rutin melaksanakan, tetapi juga bagi generasi muda yang sudah seharusnya ikut karena sudah memiliki kemampuan.
Generasi muda yang sudah menjadi pekerja aktif seharusnya sudah ikut ambil bagian pada ibadah rutin ini, walaupun memiliki tantangan finansial yang cukup kompleks, mulai dari kebutuhan hidup, cicilan, hingga gaya hidup konsumtif yang semakin tinggi.
Namun di sisi lain, generasi muda juga memiliki potensi besar untuk menjadi motor penggerak ekonomi dan sosial umat. Melalui tabungan kurban, pekerja muda dapat mulai membangun kebiasaan menyisihkan penghasilan secara rutin untuk tujuan ibadah dan kemanfaatan sosial lebih luas, dan tentunya menjadi sebuah kebiasaan tersendiri dalam menyiapkan kebutuhan lainnya secara lebih terencana.
Baca Juga: Pemko Padang Kembali Gunakan Barcode untuk Pembagian Daging Kurban ASN 2026
Budaya berkurban seharusnya tidak lagi dipandang sebagai ibadah yang hanya dilakukan ketika seseorang telah mapan secara finansial. Justru, semangat berkurban perlu mulai ditanamkan sejak dini sebagai bagian dari pembentukan karakter, kepedulian, dan tanggung jawab sosial.
Ketika generasi muda mulai terbiasa berkurban, maka tumbuh jiwa empati, semangat berbagi, dan kesadaran bahwa sebagian rezeki yang dimiliki memiliki hak bagi masyarakat yang membutuhkan.
Gerakan berkurban sedari muda juga sangat relevan untuk dijadikan lifestyle atau gaya hidup positif generasi muda muslim. Di tengah tren gaya hidup modern yang sering berorientasi pada pencapaian material dan konsumsi pribadi, kurban menghadirkan nilai keseimbangan antara kesuksesan individu dan kontribusi sosial.
Berkurban bukan sekadar membeli hewan, tetapi menunjukkan komitmen terhadap nilai kemanusiaan, kebersamaan, dan penguatan ukhuwah sosial. Ditambah lagi dengan kemudahan melalui produk tabungan qurban yang sudah ada di bank syariah, sehingga proses perencanaan ibadah bisa lebih maksimal dan dimudahkan.
Tabungan kurban hadir sebagai salah satu instrumen perencanaan keuangan syariah yang membantu masyarakat mempersiapkan dana kurban secara bertahap sesuai kemampuan. Dengan menyisihkan dana secara rutin setiap bulan, masyarakat tidak lagi menghadapi beban besar pada bulan Dzulhijjah atau menjelang Idul Adha.
Pola ini mendorong budaya disiplin finansial sekaligus memberikan kemudahan bagi keluarga, generasi muda, maupun pekerja untuk merealisasikan niat berkurban setiap tahun.
Selain memberikan kemudahan secara personal, tabungan kurban juga memiliki dampak ekonomi sangat luas bagi masyarakat. Dana yang terkumpul melalui tabungan kurban menciptakan kepastian permintaan terhadap hewan kurban jauh sebelum Hari Raya Idul Adha berlangsung.
Hal ini memberikan efek positif bagi para peternak lokal karena mereka dapat mempersiapkan penggemukan, perawatan, dan distribusi ternak secara lebih terencana.
Multipliereffect dari ekosistem kurban juga sangat besar terhadap penguatan ekonomi daerah. Permintaan sapi dan kambing yang meningkat bisa menggerakkan berbagai sektor pendukung, mulai dari peternak rakyat, penyedia pakan ternak, jasa transportasi, pedagang hewan, rumah potong hewan, hingga pelaku UMKM yang terlibat dalam distribusi dan pengolahan hasil kurban.
Perputaran ekonomi ini menciptakan lapangan kerja musiman maupun berkelanjutan yang memberi manfaat langsung kepada masyarakat bawah.
Baca Juga: Dinas Pertanian Padang Periksa 69 Sapi Kurban, Hewan Sehat Dipasang Label Khusus
Tidak hanya itu, program tabungan kurban juga dapat menjadi instrumen penguatan ekonomi syariah berbasis komunitas. Ketika lembaga keuangan syariah, masjid, koperasi, dan pemerintah daerah bersinergi dalam mengembangkan program kurban terencana, maka akan tercipta rantai ekonomi umat yang lebih kuat dan mandiri.
Dana masyarakat tidak hanya berhenti pada aktivitas konsumtif, tetapi juga menjadi penggerak sektor riil yang produktif.
Dalam konteks pembangunan daerah, kurban yang terencana dapat menjadi bagian dari strategi pemberdayaan ekonomi masyarakat pedesaan.
Peternak lokal memperoleh pasar yang lebih pasti, harga ternak menjadi lebih stabil, dan ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah dapat dikurangi. Dengan demikian, nilai ekonomi kurban tidak hanya dirasakan saat Idul Adha, tetapi mampu menciptakan efek jangka panjang bagi pertumbuhan ekonomi sebuah daerah.
Lebih jauh lagi, tabungan kurban juga mencerminkan semangat gotong royong dan inklusi keuangan syariah. Masyarakat dari berbagai lapisan ekonomi dapat ikut serta merencanakan kurban sejak dini sesuai kemampuan masing-masing.
Hal ini menjadikan ibadah kurban lebih inklusif dan membuka peluang lebih besar bagi peningkatan jumlah pequrban setiap tahunnya.
Tabungan kurban bukan hanya tentang menyiapkan dana untuk membeli hewan kurban, melainkan bagian dari gerakan membangun kemandirian ekonomi umat.
Dengan perencanaan yang baik, ibadah kurban dapat menjadi instrumen spiritual sekaligus penggerak ekonomi yang memperkuat kesejahteraan masyarakat, mendukung peternak lokal, dan mendorong tumbuhnya ekosistem ekonomi syariah yang berkelanjutan.
Dan ketika pekerja muda mulai menjadikan kurban sebagai bagian dari lifestyle, maka akan lahir generasi tidak hanya produktif secara ekonomi, tetapi juga kuat dalam solidaritas sosial, kepedulian terhadap sesama, dan semangat membangun kesejahteraan bersama. (*)
Editor : Adriyanto Syafril