PADEK.JAWAPOS.COM - Makan Bergizi Gratis (MBG) memicu kelangkaan dan kenaikan harga barang. Bisa jadi. Karena banyak permintaan di luar permintaan rutin setiap hari. Salah satunya susu UHT (Ultra High Temperature) di pasaran. Khususnya di Kota Padang dan Bukittinggi. Kelangkaan ini diduga dipicu oleh meningkatnya permintaan terhadap susu UHT full cream untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi anak sekolah. Tingginya kebutuhan tersebut berdampak pada terganggunya distribusi di berbagai titik penjualan, seperti minimarket, grosir dan supermarket. Walau harga susu UHT full cream masih berada di kisaran Rp 230.000 per dus, namun stoknya terbatas dan pembelian seringkali dibatasi. Sehingga pelaku usaha kesulitan membeli stok dalam jumlah besar.
Kondisi ini tidak hanya dirasakan pelaku usaha tapi juga konsumen rumah tangga. Sejumlah pelaku usaha sangat bergantung pada produk tersebut. Seperti usaha minuman kopi kekinian. Kini banyak betebaran penjual kopi susu dingin gerobakan di pinggir jalan, café-café. Umumnya memakai susu UHT untuk campuran kopi sehingga terasa manis gurih, nagih dan tidak amis.
Jika tak ada penambahan pasokan di pasaran dipastikan UMKM kewalahan mendapatkan produk tersebut. Harusnya pemerintah melalui dinas terkait melakukan pemantauan juga ke lapangan. Kalau memang barang langka harus dilakukan intervensi. Menghubungi distributor atau pabriknya langsung untuk menambah pasokan. Kalau dibiarkan saja hukum pasar berjalan, usaha kecil bakal jadi korban. MBG tidak bisa disalahkan. Walau hujan kritik tak bakal mempan, ia akan tetap berjalan.
Ambil saja sisi positifnya. MBG menyerap tenaga kerja. Membuka lapangan kerja. Meningkatkan penyerapan produk. Baik produk pabrikan seperti susu juga bahan pangan lokal. Seporsi MBG terdiri dari nasi, lauk pauk berupa ayam, ikan, daging, telur, sayur, buah dan sekotak susu UHT.
Sejak ada program MBG, permintaan terhadap daging ayam meningkat. Harga ayam pun tak pernah turun. Lauk paling umum di menu MBG adalah ayam. Karena diyakni disukai anak. Memasaknya pun gampang. Seperti ayam goreng, ayam kecap, ayam fillet, rica-rica dan lain sebagainya. Walau banyak tak dimakan anak sekolah, tak masalah. Petugas tinggal angkut sisanya dan buang ke tong sampah.
Sejak permintaan ayam meningkat, yang paling diuntungkan tentu peternak dan pedagang besar karena ordernya dalam jumlah besar dan rutin. Alhasil margin yang mereka peroleh juga meningkat dari biasanya. Masyarakat pun bisa membuka usaha ayam potong skala UMKM. Produk hulunya juga ikut terangkat. Usaha pakan hingga petani jagung ayam kecipratan. Permintaan jagung jelas ikut naik. Petani makin semangat menanam lahan dengan jagung. Asalkan harga tidak ditekan cukuplah bagi petani.
Selain ayam, telur juga laris manis. Telur lebih praktis dari ayam memasaknya. Tinggal direbus, ceplok dan didadar. Menu sejuta umat selain tahu tempe yang tinggi protein. Berpeluang untuk pemasok maupun peternak karena peluangnya masih terbuka lebar. Termasuk ikan, sayur-sayuran dan buah-buahan. Utamakan dari produk lokal dan dipasok langsung dari petani lokal. Sehingga mereka punya pasar yang pasti dan rutin. (*)
Editor : Adriyanto Syafril