Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Hardiknas, Momen untuk Evaluasi

Suryani • Selasa, 5 Mei 2026 | 07:20 WIB
Ilustrasi.
Ilustrasi.

Tiap 2 Mei diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Momen ini seyogyanya dimanfaatkan untuk mengevaluasi dan refleksi kondisi pendidikan di Indonesia. Apakah sudah sesuai dengan target atau masih jauh dari harapan. Lantas dimana dan apa kendalanya. Termasuk mengevaluasi makan bergizi gratis (MBG). Kalau lebih banyak manfaatnya lanjut. Tapi jika masih terdapat kekurangan di sana sini, perbaiki. Karena memakai anggaran negara yang besar. Jangan sampai jadi program yang kontroversi terus.

Tema Hardiknas  2026 adalah Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”. Ini menekankan kolaborasi seluruh elemen masyarakat—pendidik, orang tua, dan industri—untuk menciptakan pendidikan berkualitas yang merata dan inklusif di Indonesia.   Pemerataan akses pendidikan berkualitas tanpa diskriminasi, baik dari sisi geografis, sosial, maupun ekonomi. Nah, apakah pen didikan sudah merata sampai ke pelosok desa? Realitanya masih banyak anak-anak di pelosok yang sulit mengakses pendidikan karena keterbatasan infrastruktur.  Berjalan kaki ke sekolah yang masih jalan tanah melewati hutan dan sungai. Gedung sekolah minim fasilitas.

Ketika anak-anak di perkotaan sudah terbiasa belajar menggunakan teknologi, mereka seperti masih hidup di zaman feodal. Tidak ada sinyal. Kalau pun harus memanjat pohon atau bukit dulu mencari sinyal. Kesenjangan ini harus diatasi secara bertahap oleh pemerintah. Jangan pula karena efisiensi anggaran dijadikan alasan. Akses telekomunikasi dan teknologi adalah gerbang menuju kemajuan dan melepaskan diri dari ketertinggalan. Bagaimana anak-anak di daerah terisolir bisa maju kalau tak bisa mengakses teknologi.

Momentum Hadiknas tahun ini juga berfokus pada penguatan karakter bangsa.Pendidikan karakter upaya untuk menanamkan nilai-nilai luhur  yaknu moral, etika, budi pekerti agar peserta didik memahami, merasakan, dan mempraktikkan kebajikan dalam perilaku sehari-hari. Tujuannya membentuk pribadi unggul, berintegritas, dan berakhlak mulia secara konsisten.

Sudahkan pendidikan karakter terimplementasi pada anak-anak didik? Guru menjadi contoh dalam menerapkan nilai-nilai karakter dalam kehidupan sehari-hari di sekolah. Guru tetaplah digugu dan ditiru. Keteladanan tetap dituntut semaju apapun zaman.  Selain harus menguasai teknologi agar tidak kalah  dengan siswa, guru juga sebagai panutan dan menerapkan pendidikan karakter. Misalnya menciptakan lingkungan yang kondusif melalui pembiasaan rutin seperti berdoa, menyapa, mematuhi tata tertib dan gaya hidup sederhana. Membiasakan siswa hormat kepada orang lebih tua. Mengajarkan empati, peduli dan suka menolong sesama.

Jika karakter anak sudah membaik, maka tak ada lagi siswa bolos sekolah, tawuran dan membuly teman. Anak sekolah yang bulying masih kerap terjadi. Prilaku anak tak ubahnya penjahat melakukan tindak kriminal kepada temannya. Mereka mengeroyok teman tanpa rasa kasihan. Melakukan perundungan secara verbal di media sosial. Hendaknya ini kasus semacam ini mendapat perhatian yang lebih serius agar jangan lagi jatuh korban. (*)

Editor : Adriyanto Syafril
#tajuk rencana #Hardiknas 2026 #hari pendidikan nasional