Semen Padang FC itu tim medioker. Memang, pernah menjadi juara liga Indonesia musim 2011-2012 dan Piala Galatama 1992. Masing-masing sekali saja. Serta dua kali bermain di kompetisi Asia hingga babak perempat final. Sekali di Piala Winners (1993-1994) dan sekali pula AFC Cup (2013).
Itu saja. Tak bisa dibandingkan dengan Persib Bandung dan Persija Jakarta.
Tapi, ukuran sebuah tim besar tidak sekadar deretan piala. Sebuah tim dikatakan besar ketika menjadi tujuan dari pemain-pemain terbaik. Lokal maupun asing. Tak hanya dalam satu atau dua musim saja. Konsisten di setiap musim.
Menjadi tujuan pemain-pemain terbaik, tentu bukan tanpa alasan. Di antaranya, tim besar selalu berkompetisi untuk juara. Demikian pula dengan finansial. Mudah mencari sponsor dengan nilai bagus. Sehingga bisa membayar pemain dengan sangat layak.
Nah, dari beberapa indikator itu lah, Semen Padang FC tak bisa dikatakan sebagai tim besar di tanah air. Pemain-pemain terbaik tak selalu datang di setiap musim. Konsisten jadi tim yang kompetitif memburu gelar juara? Hanya dua musim bertahan di kasta teratas sudah bisa menjadi jawabannya.
Soal finansial? Hampir setiap musim diterpa isu miring. Salah satunya penunggakan hak pemain. Terkhusus terhadap kontraknya yang diputus di tengah jalan.
Para pendukung tentu ingin tim yang mereka cintai menjadi besa. Bagaimana dengan pengelola Semen Padang FC? Semoga saja juga demikian.
Kalau begitu, setelah kembali terjun ke Liga 2 untuk musim depan, kata “evaluasi” tak cukup hanya di bibir dan ujung jari saja. Harus ada aksi nyata.
Tapi tak perlu pula buru-buru. Apalagi dalam kondisi finansial terbatas. Kalau mau pasang target, minimal bertahan di Liga 2 saja, sembari membangun pondasi tim yang kuat secara perlahan dan jangka panjang. Baik dari sisi teknis maupun finansial.
Nah, untuk itu, yang penting dimiliki Semen Padang FC adalah peta jalan membangun tim besar. Kalau sudah ada, syukurlah. Bila belum, harus segera dibuat. Lalu ungkapkan ke publik sejernih mungkin. Baik dari sejak perencanaan hingga perjalanannya.
Kenapa harus demikian? Di situlah salah satu pembuktian kalau klub ini memang dikelola secara serius. Para pendukung tidak hanya penonton yang menjadi sumber pemasukan saja.
Mereka harus diberi ruang untuk terlibat lebih jauh. Ruang untuk memberi masukan, mau di bawa ke mana klub ini? Serta ruang kritik jika roadmap yang dilajankan tidak sebagaimana mestinya.
Menjadi besar tak bisa dengan sekali jalan. Atau karena dukungan politis sesaat saja. Butuh proses dan konsistensi. Di situ tantangan sebanarnya. Maukah? (*)
Editor : Adriyanto Syafril