Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Solar Subsidi Langka karena Apa?

Redaksi • Selasa, 30 Juni 2026 | 09:20 WIB
Ilustrasi.
Ilustrasi.

BBM subsidi jenis solar langka. Terutama di Jawa dan Sumatra. Termasuk Sumbar.  Antara lain, di Kabupaten Dharmasraya, Kota Padang, dan Kota Payakumbuh. Dalam beberapa hari ini antrean kendaraan angkutan barang dan bus mengular di SPBU-SPBU. Awak truk, bus dan kendaraan yang memakai BBM subsidi tersebut terpaksa antre berjam-jam. Bahkan ada yang harus tidur di SPBU demi mendapatkan solar subsidi. Kelangkaan BBM subsidi tidak kali ini saja terjadi. Dulu bahkan pernah ada awak truk yang meninggal dalam truknya karena kelelahan mengantre solar. Sudah merenggut korban nyawa baru pemerintah turun tangan. Apakah kelangkaan solar saat ini harus jatuh korban jiwa dulu baru ditindaklanjuti?

Kondisi tersebut tidak hanya menyebabkan kepadatan lalu lintas di sekitar lokasi, tetapi juga membuat arus lalu lintas ikur terganggu. Pengendara harus ekstra hati-hati agar tidak terjadi kecelakaan karena badan jalan terpakai oleh kendaraan berbadan besar. Tidak bisa terburu-buru.                                                                                            

Nah, kenapa solar subsidi langka? Biasanya aman-aman saja. Fahrougi Andriani Sumampouw, Area Manager Communication, Relations & CSR Regional Sumbagut Pertamina Patra Niaga mengakui,  ada peningkatan kebutuhan biosolar dalam beberapa waktu terakhir. Bahkan, Pertamina telah melakukan berbagai langkah antisipasi, antara lain mening­katkan penyaluran biosolar hingga sekitar 10 persen di atas rata-rata penyaluran normal. Kemudian, mengaktifkan sistem marshalling dan menambah operator pada pulau pengisian biosolar untuk menjaga kelancaran pelayanan di SPBU. Serta, memperkuat verifikasi konsumen dan pengawasan terhadap transaksi agar penyaluran BBM subsidi tetap sesuai ketentuan dan tepat sasaran.

Pihak Pertamina mengakui ada peningkatan yang cu­kup signifikan konsumsi biosolar beberapa waktu terakhir. Tepatnya setelah kenaikan BBM nonsubsidi yang cukup tajam. Apakah karena migrasi konsumen yang sebelumnya pakai solar non subsidi jadi beralih ke solar subsidi karena selisih angkanya cu­kup besar.

Sejak  perang Timur Tengah yang berdampak ke berba­gai sektor, pengusaha juga tertekan. Baik bidang jasa maupun barang. Kenaikan bahan baku dampak kenaikan BBM me­nye­babkan cost bertambah. Biaya produksi dan distribusi barang jadi naik. Sementara penjualan atau margin yang diperoleh tidak lagi seimbang.

Masuk akal saja, kalau pengusaha ada yang beralih pakai solar subsidi yang tadinya pakai BBM nonsubsidi. Sama  seperti pemilik kendaraan pribadi yang dulunya pakai pertamax beralih ke pertalite. Tapi itu hanya dugaan sementara. Mungkin juga ada indikasi lain seperti penyelewengan oleh oknum tertentu untuk industri atau pertambangan. Mungkin juga faktor lain. Untuk itu harus dilakukan investigasi secara menyeluruh.

Kalau memang karena dampak kenaikan BBM nonsubsidi kenapa pemerintah tidak menurunkan lagi. Kan, harga minyak dunia sebagai pemicu kenaikan BBM nonsubsidi sebelumnya sudah turun. Apalag i yang ditunggu pemerintah. BBM adalah kebutuhan dasar bagi masyarakat dan dunia usahan. Kalau kondisinya seperti sekarang jelas berdampak kepada sektor lain. Harga barang dan jasa yang tinggi membuat daya beli masyarakat melemah dan memicu inflasi tinggi. (*)

Editor : Adriyanto Syafril
#tajuk rencana #bbm subsidi