PADEK.JAWAPOS.COM-Pemerintah Kabupaten Tanahdatar terus mengejar percepatan pemulihan lahan pertanian yang rusak akibat bencana Galodo. Tahun 2025, Pemkab menargetkan rehabilitasi seluas 2.700 hektare lahan, yang mayoritas kini masih terbengkalai dan tak lagi produktif.
Pantauan di lapangan menunjukkan kondisi memprihatinkan. Salah satu titik yang terdampak parah berada di Nagari Limakaum, Kecamatan Limakaum.
Di lokasi ini, lahan pertanian berubah menjadi hamparan material pasir dan batu besar, sisa-sisa terjangan Galodo yang belum sepenuhnya dibersihkan.
“Harapan kami, proses rehabilitasi bisa dipercepat. Semakin cepat lahan pulih, semakin cepat pula masyarakat kembali berproduksi,” ujar Rahmad, seorang petani di Nagari Lima Kaum, saat ditemui Senin (9/6).
Ia menambahkan, kerugian ekonomi akan terus membengkak jika lahan pertanian tak segera bisa ditanami. “Untuk padi, masa panen sekitar 100 hari.
Artinya, kalau normal, kami bisa panen tiga kali dalam setahun. Kalau lahan dibiarkan, hilang sudah tiga kali panen,” ungkapnya.
Namun proses pemulihan tak semudah membalikkan telapak tangan.
Rahmad menilai, setelah material Galodo dikeruk, lahan masih butuh waktu untuk benar-benar pulih. “Panen pertama dan kedua belum tentu maksimal. Butuh waktu agar kesuburan tanah kembali seperti semula,” jelasnya.
Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Dinas Pertanian Tanahdatar, Sri Mulyani, menyampaikan bahwa Pemkab telah merancang program optimasi lahan dalam tiga tahap besar sepanjang tahun 2025.
“Tahun lalu kami telah merehabilitasi sekitar 335 hektare. Tahun ini, target kami jauh lebih besar, yakni 2.700 hektare,” ujarnya.
Menurut Sri Mulyani, program ini dibagi ke dalam tiga tahap, Tahap I 675 hektare, Tahap II 1.325 hektare dan Tahap III: 700 hektare.
Seluruh tahapan ditargetkan tuntas pada akhir tahun ini.
Proyek ini dijalankan melalui koordinasi lintas sektor, termasuk dengan Kementerian Pertanian, untuk memastikan percepatan rehabilitasi lahan dapat berjalan optimal.
“Dengan sinergi yang baik, kami berharap lahan bisa kembali ditanami sesegera mungkin dan petani bisa kembali merasakan hasil,” tutup Sri Mulyani. (rna)
Editor : Novitri Selvia