Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Lonjakan Harga Telur Ayam di Sumbar: Pilih Beli per Butir, Omset Turun

Novitri Selvia • Jumat, 2 September 2022 | 10:39 WIB
Ilustrasi.(SUMBER:OLAHAN/GRAFIS:AIDIL ADRI)
Ilustrasi.(SUMBER:OLAHAN/GRAFIS:AIDIL ADRI)
Entah bagaimana kondisi perekonomian belakangan! Sejumlah harga bahan pokok sepakat naik berbarengan. Mulai minyak goreng yang bahkan sempat langka, bawang merah, hingga cabai merah. Kini, giliran telur ayam ikut-ikutan naik.

Dari pantauan Padang Ekspres di sejumlah daerah, kenaikan harga itu sudah berlangsung sekitar tiga pekan belakangan. Per papan, harganya di atas Rp 50 ribu. Bahkan, ada yang sampai Rp 65 ribu.

Di Kabupaten Solok misalnya. Penjual telur ayam di Pasar Raya Solok, Ali Delmi, 45, biasanya membeli telur ke agen sebesar Rp 45 ribu per papan. Tapi, kini harga belinya menjadi Rp 60 ribu. Bahkan dari pertenak lokal, dia masih mendapat harga yang terbilang tinggi, Rp 55 ribu per papan.

”Sekarang susah, persediaan terbatas. Bahkan di beberapa peternak lokal ada yang menjual seharga Rp 55 ribu beli di kandang,” jelasnya, Rabu (31/8).

Penjual lainnya, Irdaman, 48, mengatakan, ketika harga masih normal, dia hanya menjual telurnya Rp 40 ribu hingga Rp 50 ribu per papan. Namun, sekarang Rp 60 ribu hingga Rp 65 ribu. Untuk per butir ada yang dijual seharga Rp 2.000 hingga Rp 2.500 per butir. ”Kebanyakan masyarakat Solok masih membeli per butir,” katanya.

Ernita, 38, salah seorang pedagang telur di Pasar Tiku, Kabupaten Agam mengungkapkan, harga telur mengalami kenaikan secara bertahap dan sudah terjadi sejak tiga pekan terakhir. Namun dia menilai, harga telur saat ini masih terbilang terjangkau.

”Naiknya hanya berkisar Rp 100 hingga Rp 150 per butir atau Rp 5 ribuan per papan dibanding pekan lalu. Untuk telur yang saya jual berasal dari Payakumbuh,” ucapnya.

Jika dijemput sejak awal kenaikan sekitar tiga pekan lalu lanjutnya, harga telur sudah mengalami kenaikan sebesar Rp7-8 ribu per papan. Ini untuk telur kualitas super. Sedangkan telur kualitas medium naik berkisar Rp3-5 ribu per papan.

”Kualitas super ini telurnya lebih besar ketimbang yang medium. Untuk yang medium saat ini harganya Rp 51 ribu per papan dari harga sebelumnya Rp 48 ribu per papan,” jelasnya. Naiknya harga telur, tutur Ernita tidak hanya menyulitkan konsumen tapi juga pedagang seperti dirinya. Sebab, penjualannya menurun hingga 20 persen.

”Kemudian sekarang bansos pemerintah bukan uang lagi tapi sembako termasuk telur juga. Jadi yang beli juga berkurang. Otomatis pendapatan kita juga berkurang sekitar 15 hingga 20 persen,” katanya.

Biasanya ia dapat menjual telur ayam sekitar 300 papan per hari dan kini hanya dapat menjual 240 papan per hari. ”Biasanya 300 papan dapat lah perhari, ini turun sampai 20 persen,” pungkasnya.

Di Padang, hingga akhir Agustus lalu, harga telur terpantau mengalami kenaikan beberapa kali. Bahkan mencapai level tertinggi dalam sejarah yakni Rp 55 ribu satu papan.

Menurut salah satu pedagang dan distributor telur di Pasa Raya Padang Dewi IP, 42, rata-rata harga telur naik tiap pekan. Di awal Agustus masih dibanderol Rp 46-48 ribu satu papan.

Satu minggu kemudian naik kembali ke Rp 50 ribu. Lalu naik ke Rp 52 ribu, hingga akhirnya saat ini berada di angka Rp 54-55 ribu. Akibat kenaikan yang cukup cepat ini, omzet Dewi turun 30-40% dalam satu hari.

”Hingga awal Agustus, omzet saya masih biasa karena naiknya tidak signifikan, Rp 1.000-2.000 saja dalam satu papan. Pembeli juga tidak protes hanya menanyakan kenapa naiknya. Namun sekarang, cukup banyak turun omzet saya. Biasanya bisa mendapatkan hingga Rp 10 juta per hari, sekarang hanya berkisar Rp 6-7 juta saja. Lebih 30% turunnya,” akunya.

Meskipun demikian, menurut Dewi, pasokan yang dia dapatkan dari peternak masih aman. Berapapun yang diminta, stok telur di peternak masih tersedia. Hanya saja, dia mengurangi pembelian.

Bila sebelum Agustus, biasa memesan 100 ikat per minggu jadi 80 ikat saja. Karena takut kalau stok terlalu banyak, nanti bersisa. ”Apalagi sekarang pembeli juga mengurangi konsumsi mereka terhadap telur,” jelasnya.

Reski Putri, 24, pedagang telur lain di Pasar Raya Padang mengungkapkan, harga sering naik turun dalam sebulan belakangan. Bisa saja hari ini Rp 55 ribu satu papan, besoknya jadi Rp 54 ribu. Lalu besoknya lagi Rp 55 ribu lagi. ”Pekan awal di bulan Agustus juga seperti itu. Setiap hari berubah dari Rp 47-48 ribu per papan,” katanya.

Di Kabupaten Tanahdatar, pekan ini harga telur sudah mulai turun. Puncaknya kenaikan harganya terjadi pekan lalu, dimana harga menyentuh Rp 54-56 ribu per papan.

Fitria Bhayangkara, salah seorang penjual di kedai harian mengatakan, jika saat ini harga telur berkisar Rp 1000-1200 perbutir jika dijual eceran. ”Pekan lalu sempat tiga butir telur seharga Rp 5 ribu, atau jika dijual satu butir Rp 2.000,” terangnya.

Dia menyebut, sebagai penjual eceran di kedai harian mengambil satu papan telur kepada pengusaha ayam atau langsung beli di kandang seharga Rp 51 ribu per papan pada pekan lalu. Namun, pekan ini sudah berkisar Rp 38 ribuan. ”Puncaknya pekan lalu, dan ini harga telur paling tinggi dalam sejarahnya,” ujarnya.

Dilema

Harga telur yang tinggi itu tentu dikeluhkan konsumen. Untuk menekan pengeluaran, mereka pun mengurangi pembelian. Dari biasanya membeli per papan menjadi setengah papan saja. Atau bahkan ada yang beli perbutir.

Salah satunya, Rina Eka, 34, pengunjung Pasar Raya Solok. Untuk telur ayam ukuran kecil sudah mencapai Rp 2.000 per butir, padahal sebelumnya masih Rp 1.500 per butir.

”Biasanya saya beli 20 butir setiap minggunya, sekarang harus pikir-pikir dulu, dahulukan kebutuhan yang memang mendesak, baru beli telur. Untuk sekarang hanya 10 butir saya beli untuk satu minggu,” ujarnya.

Naiknya harga telur menjadi dilema tersendiri bagi para pedagang makanan yang menggunakan telur sebagai bahan dasar dagangan mereka. Sejumlah pedagang berencana menaikkan harga dagangan agar tidak merugi. Sebagian lagi justru bertahan dengan harga biasa dengan berpandai-pandai mengakali penggunaan telur.

Fitri, pedagang kue di Lubukbasung, Kabupaten Agam, menekankan, naiknya harga telur pilihannya hanya dua. Menaikan harga kue atau mengecilkan ukuran kue. Jika mengecilkan kue, dikhawatirkan pelanggan akan pergi.

”Kita demi menjaga kualitas, lebih memilih untuk menaikan harga,” ujarnya. Dalam sehari toko kue miliknya membutuhkan sekitar 100 papan telur ayam. Dia berharap harga telur kembali normal, begitu juga dengan harga kebutuhan pokok lainnya.

Berbeda dengan Fitri, Randi pedagang nasi goreng di Tiku, justru mengaku tidak kepikiran untuk menaikkan harga dagangannya di tengah melambungnya harga telur. Ia bertahan dengan harga biasa dan tidak berani menaikan harga dikarenakan daya beli yang masih rendah.

”Saat ini, pembeli cenderung masih sepi. Jika dinaikkan takutnya makin sepi. Saya memilih bertahan dengan harga biasa per porsi nasi goreng 12 ribu, biar untung jadi sedikit asal pembeli bertahan,” ucapnya.

Hanya saja, katanya, jika biasanya ia memakai telur ukuran besar, sekarang beralih ke ukuran kecil. Oleh karena itu dia berharap pemerintah bisa menekan kenaikan harga telur ini.

Pedagang tahu brontak di Lubukbuaya, Padang, Akmal Maidinur, 25 mengaku, seminggu lalu, masih menemukan telur dengan harga Rp 48 ribu per papan. Namun pekan ini sudah mencapai Rp 50 ribu.

Dia tidak mungkin menghilangkan telur dalam usahanya. Karena telur dibutuhkan untuk adonan tahu brontak, pun dalam isiannya. Satu hari Akmal bisa menggunakan satu papan telur.

”Telur tidak mungkin saya perkecil potongannya. Apalagi tahu brontak dengan isian telur salah satu yang paling diminati. Saya juga tidak bisa mengganti isian ke telur puyuh, kan lebih mahal lagi,” jelasnya sambil memotong telur.

Dengan menjual Rp 1.000 per buah, keuntungan yang diraupnya memang sangat tipis dengan omzet Rp 300-400 ribu per hari. Namun masih dipertahankan karena masih berharap harga telur akan turun secepatnya.

”Kalau harga telur masih naik Rp 5 ribu lagi, mungkin harga tahu brontaknya akan saya naikkan ke Rp 1.250 per buahnya,” ucap Akmal.

Perlu jadi Perhatian Pemerintah

Pengamat ekonomi menyebutkan kondisi inflasi tinggi di Sumbar menjadi penyebab dari melonjaknya harga sejumlah kebutuhan pokok secara bergantian dalam beberapa bulan terakhir.

Pengamat ekonomi sekaligus Rektor Universitas Taman Siswa Padang, Dr Sepris Yonaldi menjelaskan, pada Juli-Agustus 2022 inflasi di Sumbar terbilang cukup tinggi. Sumbar berada pada posisi nomor dua di Indonesia.

”Inflasi Sumbar berada di angka 8 persen lebih. Jadi ini menandakan bahwa perekonomian di Sumbar tidak berada dalam kondisi yang baik-baik saja. Karena ini diindikasikan dengan inflasi yang cukup tinggi,” terangnya.

Inflasi dikatakan cukup tinggi, sambungnya, karena posisi normalnya inflasi tersebut berada di angka 3 persen. Jika inflasi sudah berada di atas angka 4 persen maka itu dikatakan tidak normal lagi.

”Hal tersebut menyebabkan terjadinya pelonjakkan harga barang secara terus menerus, dan tidak terkendali. Jika ini dibiarkan terus, tentu akan menjadi masalah,” tuturnya.

Sebab itu, hal ini perlu menjadi perhatian pemerintah. Dia menyampaikan, beberapa hal dapat dilakukan oleh pemerintah untuk mengembalikan kenormalan inflasi Sumbar.

”Beberapa hal tersebut bisa dengan menerapkan kebijakan fiskal dan moneter. Jadi untuk kebijakan fiskal pemerintah bisa dengan menambah hasil produksi. Contohnya telur, yang sekarang meningkat harganya. Mungkin bisa didatangkan dari daerah lain ke Sumbar. Jangan hanya didominasi dari Payakumbuh,” terangnya.

Berikutnya, kebijakan moneter pemerintah bisa dengan mempermudah masuknya barang impor, ”Berarti ini merupakan kebijakan dari pusatnya. Lalu menstabilkan pendapatan masyarakat dan menjaga pendapatkan masyarakat juga bisa menjadi salah satu cara untuk menekan laju pertumbuhan inflasi,” paparnya.

Berikutnya juga bisa dengan meningkatkan pengawasan terhadap distribusi barang, dimana pemerintah melakukan pengawasan terhadap distribusi harga. Sehingga para produsen tidak bisa semena-mena dalam memberikan penawaran harga.

”Karena memang jika inflasi terus naik, ini akan mengganggu terhadap pemenuhan kebutuhan, kalau kebutuhan tidak terpenuhi akan berdampak secara makro terhadap sektor-sektor ekonomi lainnya,” ucapnya.

Sepris berharap dengan naiknya harga telur saat ini, pemerintah mampu mendorong bagaimana pelaku usaha di sektor peternakan di Sumbar tumbuh. Karena dengan banyaknya pelaku usaha yang bergerak di sektor peternakan, maka kebutuhan pun akan terbantu, dan harga pun juga bisa ditekan.

”Jadi sejalan dengan program keunggulan Sumbar yang melahirkan 1000 milenial entrepreneur kreatif. Untuk itu pemerintah bisa fokus dengan progul (program unggulan) tersebut dan dikerjasamakan dengan 15 kabupaten/kota,” tukasnya. (frk/ptr/stg/cr7/cr4) Editor : Novitri Selvia
#Pasar Tiku #melambung #Pasar Raya Solok #telur ayam