Sebagaimana telah diberitakan sebelumnya, penerapan sistem satu arah sebagai upaya untuk mengatasi persoalan macet pada libur Lebaran mendatang. One way terapkan pada ruas jalan dari Sicincin-Padanglua untuk arah Padang-Bukittinggi. Sedangkan sebaliknya, satu arah diberlakulan dari Padangluar via Malalak.
Nah dari pantauan Padang Ekspres saat uji coba Sabtu lalu itu, pada pukul 13.00 WIB terlihat tumpukan kendaraan di Simpang Padanglua, Kabupaten Agam. Pengemudi kendaraan saling berebut untuk mendahului. Selain itu traffic light di titik tersebut terlihat tidak berfungsi. Meskipun sejumlah personil kepolisian berjaga di sana, simpang siur kendaraan masih belum bisa terkendali.
Di simpang ini, juga ada masalah klasik yang membuat macet. Mulai dari angkot yang menaikan dan menurunkan penumpang di sembarang tempat hingga sejumlah kendaraan yang parkir dipinggir jalan. Tidak hanya itu sejumlah ruas jalan yang masih dalam proses perbaikan, membuat penumpukan kendaraan di Simpang Padangluar menjadi semakin parah.
Mulyadi, 42, seorang tukang ojek di Pasar Padanglua menyatakan, penerapan satu arah ini membuat dia dan tukang ojek lain menjadi sulit. Karena harus berputar. Jarak tempuh pun menjadi dua kali lipat.
“Saya sering mendapat penumpang yang ingin ke Kotobaru bahkan kadang sampai ke Padangpanjang. Kalau ada satu jalur ini saya harus memutar dengan mencari jalan-jalan alternatif. Meskipun ada jalur alternatif ke Kotobaru ataupun Padangpanjang tetap saja jarak tempuhnya jadi dua kali lipat,” ucapnya.
M Syafrizal, 24, pedagang di Pasar Padanglua keberatan terkait penerapan kebijakan satu arah ini. Menurutnya ini hanya akan semakin bikin macet. Tidak efektif juga, terutama bagi warga yang beraktivitas di sekitar Padanglua, Kotobaru dan Padangpanjang.
“Kalau di daerah seperti ini tidak cocok ditetapkan satu arah. Kalau di Jawa sepertinya baru efektif, ada jalan tol juga jadi baru bisa mengurai kemacetan,” sebutnya.
Doni Irawan, 40 warga Balingka, Agam pun menyebut, kebijakan ini tidak masuk akal. Orang dari Balingka kalau mau ke Bukittinggi tentu harus berputar hingga ke Sicincin, Padangpariaman.
Kalau dipaksakan nanti khawatirnya ada bentrok juga antara masyarakat dan polisi,” ujarnya. Dia pun berharap dibuatkan jalur khusus sehingga nanti masyarakat dari sina bisa ke Bukittinggi tanpa harus berputar.
Komentar serupa juga diucapkan Nazwir, 52 warga Sicinncin. “Kalau kita yang jarak dekat tentu tidak terganggu. Kalau yang jarak jauh tentu terganggu. Kalau yang ke Padangpanjang menganggur lah dia satu hari ini,” ujarnya.
Namun dia setuju-setujua saja dengan kebijakan ini. Daripada terjadi macet total.
Fatmasari, 26 warga Padangpanjang pun menilai, tujuan kebijakan ini bagus untuk mengurangi kemacetan di jalur utama. Tapi dia khawatir, hal tersebut akan membuat jalur aleternatif jadi pada dan bahkan macet. Serta menghambat aktivitas warga sekitar.
“Untuk warga sekitar tentu saya mengharapkan diperbolehkan melewati jalur biasa. Tentu tidak mungkin warga Padangpanjang yang ingin ke Bukittinggi tinggi harus memutar. Menurut saya satu arah diterapkan untuk perjalanan jarak tempuh yang jauh saja,” ujarnya.
Dia pun berharap jalur alternatif juga diperbaiki agar perjalanan bisa lebih lancar.
Dari pantauan Padang Ekspres, jalur yang akan digunakan dalam sistem satu arah ini juga rawan longor. Khususnya yang via Malalak. Di Rumah Sirah Kenagarian Balingka misalnya, terdapat satu titik longsor yang menggerus sebagian jalan.
Hal yang sama juga terlihat di Koto Mambang Kecamatan Patamuan, Kabupaten Padangpariaman. Terlihat ada ruas jalan yang tergerus karena tanahnya telah longsor.
Selain itu terdapat enam titik rawan longsor yang tersebar di sepanjang ruas jalan tersebut.
Tidak hanya itu, di Malalak Timur terdapat satu titik perbaikan jalan yang masih dikerjakan. Di lokasi tersebut beberapa alat berat masih bekerja untuk memperbaiki jalan tersebut. Berbicara terkait kondisi jalan di Padanglua-Malalak- Sicinncin masih terdapat sejumlah pekerjaan besar. Secara keseluruhan jalan ini cukup baik.
Hanya saja untuk ruas Padanglua-Maninjau yang dilalui trek one way ini cukup banyak tambalan. Kemudian untuk jalur dari Balingka hingga Sicincin terbilang bagus. Untuk daerah Tandikek hingga Sicincin kondisi jalannya masih banyak tambalan. Selain kondisi jalan, pada uji coba lalu, penunjuk jalan terasa masih sangat minim.
Harus Lebih Disosialisasikan Lagi
Catatan lain yang patut juga jadi perhatian adalah sosialisa penerapan sistem satu arah ini. Dalam uji coba lalu, banyak pengemudi luar dan dalam Kota Padangpanjang yang mengumpat karena mengaku tidak mengetahui adanya kebijakan lalu lintas seperti itu.
Dimas, 28, yang hendak menuju Pariaman dari Batusangkar, harus ikut terjebak pemblokiran saat hendak melintasi Simpang Padang arah Silaiang. Dirinya mengaku tidak mengetahui adanya penutupan jalan melalui Lembah Anai hingga Sicincin.
“Semestinya tadi di persimpangan sebelum mengarah ke Silaiang, sudah ada rambu-rambu yang memberitahukan rute tujuan Padang atau Pariaman dan sekitarnya hanya dapat ditempuh melalui Malalak dan Sitinjaulaut,” ucapnya.
Hampir serupa, Hilman, 42, asal Bukittinggi hendak menuju Kota Padang mengaku dirinya diarahkan tetap ke Padangpanjang melalui jalur-jalur alternatif mulai dari Pandaisikek, Panyalaian hingga Paninjauan. Namun setiba di Padangpanjang, dirinya mengaku terkejut harus menunggu sampai pukul 16.00 WIB.
“Saya juga bingung pak, kenapa diarahkan ke Padangpanjang kalau memang tidak bisa melewati rute ini menuju Padang. Saya diarahkan masuk jalur alternatif mulai dari Pasar Amor, keluar di Pasar Rabaa Panyalaian dan masuk lagi ke Paninjauan, keluar di Bukitsuruangan Padangpanjang,” tutur Hilman yang mengaku juga tidak mengetahui adanya informasi ini.
Keluhan terhadap penerapan one way juga datang dari pengemudi Angkutan Kota (Angkot) Padangpanjang, khususnya rute Silaiang. Tepat di hari H uji coba one way itu, rute Silaiang giliran 15 unit Angkot bernomor dinding ganjil. Namun di hari itu, angkot-angkot tersebut hanya mendapat kesempatan satu trip dan rugi kehilangan dua trip berikutnya.
Salah seorang supir, Amzariadi mengaku setidaknya sampai pukul 15.00 WIB itu setiap angkot bisa jalan tiga trip. Namun hari ini hanya bisa dijalankan satu trip, karena tidak mungkin dipaksakan mengisi penumpang karena akses ke Silaiang lewat jalur alternatif hanya sampai keluar Simpang Mifan. Sementara sewa yang diangkut ada kebanyakan warga Perumnas (sebelum Bukit Berbunga), dan terminal transit berada di Rest Area untuk antrean sewa arah ke Pasar.
“Penumpang harus turun di Simpang Mifan dan berjalan kaki ke rumahnya, jika mereka tinggal di arah bawah dari simpang tersebut. Karena itu kebanyakan dari teman-teman lain termasuk saya memilih tidak mengakut sewa. Dan kalau dihitung-hitung kerugian, untuk dua trip yang hilang tersebut bisa mencapai lebih kurang Rp 80 ribu hingga Rp120 ribu,” tutur Amzariadi diamini angen angkot, Delfiatri.
Kerugian materi akibat rendahnya sosialisasi di mata masyarakat ini, juga dialami Rozi, pengusaha ayam potong di Pasar Pusat Padangpanjang. Dirinya yang hendak mengahantarkan pesanan ke tiga rumah makan di kawasan Lembah Anai, harus menunggu 2 jam lebih sampai kebijakan uji coba one way berakhir pada pukul 16.00 WIB itu.
“Kalau saya tahu ada informasi jalur searah dari Sicincin sampai ke Padangpanjang dan Bukittinggi, pasti bisa sedikit lebih awal ayam-ayam ini diantarkan ke rumah-rumah makan itu. Tapi apa boleh buat, saya hanya bisa pasrah sudah tiga ekor yang mati dalam 60 menit ini, dari 107 ekor yang akan saya antarkan,” ucap Rozi meneduhkan keranjang ayama di bak mobil terbuka miliknya di kawasan tikungan PDIKM mengarah Simpang Mifan.
Waktu Dipersingkat
Terpisah, Dirlantas Polda Sumbar Kombes Pol Hilman Wijaya menyebut, uji coba sistem satu arah tersebbut berjalan lancar. Namun dia mengakui masih ditemui masalah di pintu penutupan simpang Padanglua, walau itu tidak berlangsung lama dan panjang. Sekitar 500 meter dan 15 menit kembali normal.
Untuk mengatasi persoalan itu, pihaknya akan mencarikan solusinya. Salah satu upayanya adalah pemenuhan closing water atau red barrier di persimpangan Padanglua. “Nanti dirapatkan lagi dengan pimpinan-pimpinan daerah untuk mengatasi masalah ini. Kita harapkan pada minimal H-3 hingga H+3 Lebaran, penerapan one way ini berjalan lancar dan tidak mengalami kendala,” harapnya.
Terkait daerah rawan longsor, sebut Hilman, ada dua titik longsor yang dua dalam pengerjaan dinas terkait. “Bahkan di lokasi itu disipak ekskavator 24 jam. Jadi jika terjadi longsor, maka alat tersebut langsung mengerjakannya. Jadi penerapan one way, akan tetap dilaksanakan meski ada longsor,” tutur Hilman.
Ia menegaskan, kebijakan satu arah ini bukan kebijakan sepihak dari Ditlantas saja. Tapi kolaborasi dengan pemerintah provinsi dan daerah. Bahkan Pemerintah provinsi akan membuat payung hukumnya.
Hilman menambahkan one way system yang sebelumnya direncakanan berlangsung dari pukul 12.00 hingga 18.00 dipersingkat dua jam. “Untuk menghindari komplain, yang sebelumnya direncanakan enam jam menjadi empat jam dari pukul 12.00 hingga 16.00 WIB,” ujarnya.
Terkait aktivitas masyarakat setempat, Hilman menyebutkan, masih ada jalur alternatif, jalan kampung. Rute itulah yang nanti yang akan ditempuh, untuk aktivitas masyarakat setempat.
“Kecuali rute-rute besar, contoh, orang Padangpanjang mau ke Padang saat jam yang diterapkan. Ada dua pilihan, pertama menunggu jam operasional atau ia bisa melewati Solok. Dan bagaimana orang Bukittinggi mau ke Padang, yang tidak mau lewat Malalak, kan bisa lewat Baso, jadi ada semua jalur-jalur alternatifnya,” sebutnya. (cr9/wrd/rid) Editor : Novitri Selvia