Hal tersebut disampaikan Kepala Stasiun BMKG Padangpanjang Suaidi kepada Padang Ekspres, kemarin. Untuk pengamatan yang dilakukan oleh BMKG akan terpusat di Masjid Raya Padangpanjang. Jenis gerhana yang akan terjadi tersebut merupakan gerhana Penumbra.
Suaidi menegaskan, hingga saat ini belum ada korelasi yang memastikan bahwa gerhana bulan dapat memicu fenomena alam yang merugikan masyarakat. “Adapun biasanya hanya pasang purnama dikarenakan pada saat gerhana terjadi posisinya adalah di saat bulan purnama. Sehingga yang terjadi hanya pasang purnama biasa,” jelasnya.
Kata dia, gerhana yang terjadi hanyalah fenomena benda langit, dimana bulan tertutupi bayangan matahari. “Tidak ada perubahan. BMKG juga sudah lama melakukan penelitian terhadap gerhana dan gerhana tersebut hanya sebuah fenomena alam yang patut diabadikan,” ucapnya.
Gerhana penumbra itu, sambungnya bisa dilihat hampir di seluruh Indonesia. “Nantinya kita dapat menyaksikan fenomena tersebut seperti dibayang-bayangi oleh bulan,” paparnya.
Terpisah, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar Rumainur mengungkapkan, fenomena gerhana bulan identik dengan naiknya air laut. Sehingga juga dapat memicu terjadinya banjir rob.
Sebab itu pihaknya mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap kemungkinan akan datangnya banjir rob. ”Untuk wilayah-wilayah yang berada di pesisir pantai harus waspada karena gerhana bulan identik dengan fenomena naiknya air laut. Sehingga harus waspada,” ujarnya.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, pihaknya sudah berkolaborasi dengan lembaga lainnya. Seperti pengerukan drainase dan pembangunan tanggul-tanggul. “Semoga banjir rob dapat diantisipasi dan juga harus didukung oleh warga masyarakat itu sendiri,” sambungnya.
Dia meminta masyarakat tetap memperhatikan kondisi lingkungan. Apabila ada drainase yang belum dikeruk maka dilaporkan ke lembaga yang bersangkutan. Sehingga pemerintah dapat turun tangan.
Namun, Pakar Geologi Sumbar Ade Edward menyebutkan fenomena gerhana bulan merupakan fenomena alam yang biasa terjadi. Serupa dengan fenomena gerhana matahari. Masyarakat pun diimbau agar tidak perlu khawatir dengan potensi banjir rob.
Menurutnya, ketika terjadi fenomena gerhana bulan maka bumi akan berada dalam satu garis dengan bulan dan matahari. Posisi bulan saat itu akan berada di antara bumi dan matahari.
“Sehingga kalau sudah gerhana bertemu, cahaya matahari akan tertutup ke bumi oleh bulan. Jika gelap, itu disebabkan karena bulan dan matahari itu segaris. Sehingga itu akan mempengaruhi gaya gravitasi di bumi,” jelasnya.
Artinya, gaya tarik atau gravitasi bumi saat gerhana bulan akan mengalami penurunan. Berubahnya gravitasi bumi pun akan mempengaruhi pasang laut. Akan terjadi pasang naik saat gerhana berlangsung.
“Apabila saat itu bertepatan pasang laut, akibat dari posisi bumi, bulan dan matahari yang segaris, dan karena gravitasi yang menurun. Kemudian, pada waktu bersamaan juga terjadi hujan. Ini kemungkinan akan terjadi banjir,” sebutnya.
Akan tetapi, jika tidak ada hujan maka tidak akan terjadi banjir. “Kemudian, biasanya daerah kita (khusunya Kota Padang) yang sering terjadi banjir itu kan daerah Beroknipah. Karena posisi yang rendah, itu air akan lebih tinggi daripada biasanya,” katanya.
Namun untuk Sumbar, banjir rob tidak pernah menjadi masalah. Karena banjir rob bisa diatasi. “Yang terkena banjir besar itu mungkin di daerah Jakarta dan Semarang kemudian beberapa daerah lain. Tapi kalau di Sumbar banjir robnya masih bisa ditolerir lah. Mudah-mudahan tidak terjadi hujan lebat,” terangnya.
Ade menegaskan, fenomena gerhana bulan adalah fenomena alam biasa. Fenomena yang biasa terjadi, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir. “Karena ini sifatnya berkala, tidak sering terjadi ya. Paling setahun dua sampai tiga kali,” ujarnya.
Terakhir ia menyampaikan keindahan fenomena gerhana bulan ini sangat menarik jika dinikmati. Sebab, fenomena yang tidak sering terjadi. “Semoga masyarakat bisa menikmati lah fenomena ini. Dan masyarakat tidak perlu khawatir, dinikmati saja, mudahan tidak hujan agar kita bisa menikmati gerhana bulan ini,” harapnya.
Dianjurkan Lakukan Shalat Gerhana
Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Sumbar Helmi didampingi Kabid Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah (Urais Binsyar), Edison menjelaskan, saat gerhana bulan berlangsung, mengikuti sunah nabi dianjurkan untuk melaksanakan salat sunah gerhana.
“Sebelumnya kan kita juga melakukan salat sunah gerhana Matahari beberapa waktu lalu. Jadi memang sesuai sunnah nabi, ketika gerhana itu kita melaksanakan salat sunah gerhana bulan atau salat kusuf,” katanya.
Ia mengatakan, selama gerhana berlangsung Nabi Muhammad SAW mengajak untuk banyak-banyak beristighfar, meningkatkan keimanan, dan ketakwaan. Sebab, fenomena alam itu merupakan situasi yang menunjukkan kekuasaan Allah SWT. (y/s/d) Editor : Novitri Selvia