Seperti diketahui, Jembatan Kayu Gadang tersebut sudah ditutup pada Minggu pagi (7/5). Pasalnya, masyarakat melihat bagian jembatan sudah muncul retak. Sehingga, jembatan dinilai berisiko untuk dilalui. Ternyata benar, tak cukup 24 jam, jembatan terban pada Minggu malam (7/5).
Pantauan Padang Ekspres, setengah dari badan Jembatan Kayu Gadang, Lubukalung tersebut, memang sudah terban ke dalam sungai. Cukup ramai yang melihat ke lokasi hingga sore hari kemarin. Tak sedikit yang menyayangkan jembatan terban padahal usianya masih sangat muda.
“Tadi malam saya masih lewat di sini sekitar jam 9. Memang jembatan ini sudah dilarang untuk dilalui. Tapi, retaknya masih sedikit,” ujar Arman, 52, salah seorang warga yang ditanyai Padang Ekspres saat meninjau jembatan Kayu Gadang tersebut, kemarin.
Menurutnya, jembatan itu terban karena bagian kaki jembatan rusak tergerus air. Katanya, kondisi itu sebenarnya sudah berlangsung cukup lama. “Lihat saja dam yang tersisa itu sudah banyak yang lepas. Itu karena terjangan air sejak lama,” hematnya.
Hal senada disampaikan Novitri Selvia, warga Sikabu lainnya. Ia menceritakan bahwa bagian kaki jembatan yang runtuh itu, memang sudah lama dihantam air. Tanah dinding sungai dekat jembatan itupun terus terkikis air. “Harusnya kan bagian dinding dan tanah sekitar jembatan itu dicor agar kokoh dari terjangan air,” sebutnya.
Tokoh masyarakat Lubukalung Mailon Maneza berharap agar kejadian itu diinvestigasi oleh pihak terkait. “Kalau kita bicara teknis pengerjaan tentu tidak tepat. Kalau kejadian ini tidak diinvestigasi pihak terkait, akan turun kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah daerah,” katanya.
Dikonfirmasi, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Padangpariaman El Abdes Arsyam menilai bahwa spekulasi masyarakat wajar saja dalam setiap kejadian. Misalnya menyangkut infrastruktur yang rusak.
“Namun secara teknis kan tidak demikian. Kerusakan ini murni karena kejadian bencana banjir yang dahsyat. Aliran sungai sangat deras karena hujan berkepanjangan,” ujar El Abdes yang mendampingi Bupati Padangpariaman Suhatri Bur, ketika meninjau Jembatan Kayu Gadang itu, kemarin.
El Abdes mengaku tak tahu bagaimana perencanaan hingga pengerjaan Jembatan Kayu Gadang dilakukan di tahun 2020. Sebab, saat itu dirinya belum menjabat Kadis PUPR Padangpariaman. Bahkan, tidak berkecimpung di dinas tersebut sama sekali.
“Tapi kalau yang saya lihat ya, strukturnya bagus. Tidak ada yang tampak bermasalahan. Artinya, ini memang karena bencana. Hal yang tentunya sama-sama tidak kita inginkan,” tukasnya.
Sementara Bupati Padangpariaman, Suhatri Bur mengatakan, dirinya juga tidak tahu bagaimana perencanaan hingga dilakukan pembangunan jembatan di tahun 2020 itu. Sebab, saat menjabat Wakil Bupati Padangpariaman di masa itu, dia sama sekali tidak dilibatkan.
“Yang jelas, tadi saya sudah telepon langsung ke BNPB. Alhamdulillah laporan kita direspons baik, dan meminta agar segera usulkan proposal ke BNPB. Ini sudah mulai dipersiapkan oleh jajaran kita di BPBD,” tukasnya.
Kilas Balik Jembatan Kayu Gadang
Untuk diketahui, Jembatan Kayu Gadang tersebut sebelumnya terban di tahun 2017. Saat itu, struktur berjenis jembatan baja. Ukurannya pun hanya bisa dilalui 1 unit minibus/dumtruk. Kondisinya kala itu memang sudah sangat tua. Sebab, material besi yang digunakan bekas jembatan Pasausang, Kecamatan Batang Anai.
Putusnya Jembatan Kayu Gadang di tahun 2017, saat satu unit dumtruk pengangkut pasir melintas di atasnya. Bagian yang terban tahun 2017, sama persis dengan yang terban pada Minggu (7/5) ini.
Setelah kejadian itu, Pemkab Padangpariaman pun mengusulkan bantuan ke BNPB. Usulan pun baru terealisasi di tahun 2020, dan jembatan mulai difungsikan di tahun 2021. (apg) Editor : Novitri Selvia