PADEK.JAWAPOS.COM -- Gary Bencheghib, Kelly Bencheghib, dan Sam Bencheghib punya kepedulian tinggi pada kebersihan sungai di Indonesia. Berbekal tekad dan kesamaan hobi, tercetuslah aksi bertajuk Running for Rivers.
EKSPEDISI “nekat” itu dimulai dari Bali pada 28 Maret 2026. Gary, Kelly, dan Sam memulai perjalanan lari jarak jauhnya. Mereka akan menempuh rute sepanjang sekitar 1.260 kilometer dalam waktu 57 hari. Misi utamanya adalah melawan sampah plastik, terutama yang mencemari sungai.
Setiap hari mereka berlari rata-rata 25 kilometer. Kadang lebih. “Kalau lagi kuat bisa sampai 28 kilometer, termasuk saat hujan badai,” ujar Sam, Kamis (16/4). Hari itu Sam dan dua saudaranya mampir ke kantor Jawa Pos (grup Padang Ekspres) di Graha Pena Surabaya. Mereka beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan menuju Jakarta.
Surabaya menjadi salah satu kota tempat mereka “bernapas”. Di kota-kota besar yang mereka lewati, tiga orang itu sengaja mengambil jeda dua hingga tiga hari. Waktu itu dimanfaatkan untuk beristirahat sekaligus menggelar kegiatan bersama sejumlah komunitas. Mulai dari lari bareng hingga bersih-bersih sungai.
Rutinitas mereka jauh dari kata ringan. Pagi berlari, sore bertemu komunitas dan sekolah, malam membuat konten dokumentasi. Waktu tidur pun terpangkas. “Tidur paling empat jam. Tapi sudah jadi ritme,” kata Kelly.
Namun, yang paling membekas justru apa yang mereka temui di sepanjang sungai. Di Sidoarjo, misalnya, mereka pernah berhenti di satu titik dengan tumpukan sampah sepanjang sekitar 15 meter. Anehnya, di dekatnya ada warung kopi yang tetap ramai. “Kami tanya, kok bisa santai? Mereka bilang sudah biasa,” kenang Gary.
Jawaban itu membuat mereka tergerak untuk beraksi. Lari dihentikan. Sepatu dilepas. Selama sekitar 30 menit, mereka mengangkat sampah dari sungai. “Setelah dibersihkan, orang-orang di situ bilang lebih nyaman,” tambahnya.
Mereka juga terkenang momen bersama warga Situbondo. Saat itu, tiga bersaudara tersebut diajak karaoke dadakan di pinggir sungai. Lagu dangdut Kereta Malam mengalun, warga ikut bersorak. “Random banget. Lagi lari, tiba-tiba diajak nyanyi,” cerita Gary, lantas tertawa.
Cerita-cerita unik yang terjadi selama perjalanan mereka kumpulkan. Bukan hanya soal sampah, tetapi juga tentang manusia. Salah satunya mengenai seorang warga yang menggantungkan hidup dari mengumpulkan sampah plastik di sungai. Ada pula yang tanpa sadar hidup berdampingan dengan limbah.
Fenomena lain juga mereka temukan. Desa wisata yang berkembang pesat, tetapi diikuti lonjakan sampah dan persoalan sanitasi. “Begitu keluar dari area wisata, pasti ketemu tumpukan sampah baru,” ujar Kelly.
Di balik semua itu, misi mereka jelas. Yakni, berupaya menghentikan sampah sebelum masuk ke laut. Caranya dengan memasang penghalang sungai, aksi bersih-bersih, hingga edukasi ke masyarakat dan sekolah. Semua gerakan itu dinaungi oleh organisasi nirlaba yang mereka dirikan, yakni Sungai Watch.
Tidak hanya itu, di setiap kota yang disinggahi, mereka menyempatkan diri bertemu dengan para pemangku kebijakan. Mulai dari wali kota, bupati, hingga gubernur.
Para pejabat itu diajak berdiskusi langsung terkait persoalan sampah dan kondisi sungai di setiap daerah. Audiensi tersebut menjadi bagian penting untuk mendorong perubahan sistem, bukan sekadar aksi di lapangan.
Sejak Sungai Watch berdiri pada 2020, sudah ada sekitar 4,6 juta kilogram sampah yang dibersihkan. Selain itu, ratusan penghalang sungai telah terpasang. Gerakan itu melibatkan puluhan ribu relawan peduli lingkungan.
Perjalanan lintas Jawa ini menjadi langkah baru untuk memperluas dampak sekaligus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah. Selama perjalanan, mereka juga menggalang dana. Targetnya mencapai USD 1 juta. Konsepnya sederhana: setiap USD 1 setara dengan 1 kg sampah yang bisa diangkat dari sungai.
Menariknya, interaksi dengan warga sering menghadirkan cerita tak terduga. Sam sempat dipanggil Samsudin, sementara Gary mendapat nama Sugirianto. Kelly bahkan dijuluki Mbak Kiki. “Lucu, tapi bikin kami merasa lebih dekat,” kata Kelly.
Setelah beristirahat beberapa hari di Surabaya, mereka kembali melanjutkan perjalanan pada Sabtu (18/4) sore. Start dari kawasan DPRD Jawa Timur, mereka berlari menuju Gresik. Seperti kota sebelumnya, mereka akan berhenti di berbagai titik untuk bertemu komunitas, melakukan aksi bersih-bersih, dan melanjutkan audiensi dengan pemerintah daerah setempat. Mereka juga membuka diri untuk warga atau komunitas yang ingin bergabung atau menyambut di setiap kota.
Perjalanan masih panjang. Jakarta menjadi garis akhir yang ditargetkan pada 25 Mei. Di sana, ketiganya bakal disambut Sandiaga Uno. Namun, bagi tiga bersaudara itu, garis finis bukan tujuan utama. “Yang penting adalah dampak di setiap tempat yang kami lewati,” ujar Gary. (omy/oni/jpg)
Editor : Adriyanto Syafril