PADEK.JAWAPOS.COM - Sindikat joki Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) yang tertangkap di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) pada 21 April lalu, beraksi terstruktur, rapi, dan sistematis. Modus yang menyerupai film Bad Genius. Mereka telah menyiapkan aksi jauh-jauh hari hingga dapat meloloskan 114 klien ke berbagai kampus.
Polrestabes Surabaya membongkar strategi komplotan yang mencurangi UTBK dalam ungkap perkara kemarin (7/5). Sindikat joki tersebut beranggotakan 14 orang. Sebelum beraksi, mereka menyiapkan seluruh kebutuhan, mulai blangko KTP kosong, foto palsu untuk ijazah asli, stempel palsu, pembelajaran materi ujian, hingga menghafal identitas klien.
Pelaku yang bertugas sebagai joki wajib menghafal nama klien, nama kedua orang tua, hingga alamat asal. Namun, ada satu yang luput dari perhatian mereka. “Yang terlewat adalah pemahaman atas bahasa ibu dari pemesan jasa joki,” jelas Kapolrestabes Surabaya Kombespol Luthfie Sulistiawan kemarin (7/5).
HER, pihak yang memesan joki, berasal dari Sumenep, Madura. Sementara, joki, berinisial NRS yang lahir dan besar di Surabaya sehingga tidak memahami bahasa Madura.
“Kebetulan pihak pengawas juga dari Madura. Saat ditanya dengan bahasa Madura tersangka tidak paham. Tidak mengerti,” ucapnya.
Temuan itu menjadi pintu masuk untuk membongkar sindikat joki ujian yang telah beraksi selama 9 tahun sejak 2017 lalu. Ditambah lagi, foto NRS telah terekam dalam sistem Unesa dengan identitas yang berbeda pada UTBK 2025 lalu. Sindikat tersebut dipimpin oleh IKP, 41, yang berprofesi sebagai pengusaha laundry asal Surabaya.
IKP beserta dengan empat orang lainnya masuk ke dalam klaster pelaksana perjokian atau penerima order. Tiga di antaranya berprofesi sebagai dokter.
Komposisi tersebut menyesuaikan permintaan klien yang ingin lolos ke fakultas kedokteran (FK).
Klaster kedua yaitu RZ, 46, dan anaknya, HER, 18, sebagai pemesan jasa joki untuk lolos jurusan kedokteran di kampus Malang. Sementara, klaster ketiga adalah NRS dan PIF yang bertugas untuk menggantikan calon mahasiswa asli saat UTBK berlangsung.
NRS diketahui telah meloloskan enam orang mahasiswa kedokteran sejak 2023. Padahal, dia dijadwalkan diwisuda dengan predikat cumlaude dari salah satu kampus di Surabaya pada Oktober mendatang. “Hasil yang didapatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup, termasuk juga membantu keluarga,” terang eks Dirreskrimsus Polda Jatim tersebut.
Adapun lima tersangka yang masuk klaster keempat bertugas membuat KTP palsu. Dua orang tersangka di antaranya merupakan ASN PPPK di kantor kecamatan wilayah Gresik yang menyediakan blangko kosong.
Alur Pemesanan
IKP, sebagai ketua sindikat mengerahkan anak buahnya untuk menawarkan jasa. Tarif jasa yang dipatok berkisar ratusan juta rupiah menyesuaikan dengan jurusan dan kampus yang diincar oleh para pemesan. “Tersangka utama saudara K menerima tender ini dengan biaya atau harga yang ditetapkan bervariasi antara Rp 500 juta sampai dengan Rp 700 juta,” papar Luthfie.
Sejak beroperasi 2017 lalu, K telah menerima sebanyak 150 pesanan jasa joki. Dari jumlah tersebut, pihaknya mampu meloloskan mahasiswa menuju kampus negeri maupun kampus swasta dengan persentase keberhasilan mencapai 76 persen. “Yang lolos ada 114 mahasiswa. Itu lolos semua,” ujar Kasatreskrim Polrestabes Surabaya AKBP Edy Herwiyanto.
Polrestabes Surabaya juga telah mengantongi 114 identitas mahasiswa pengguna jasa joki tersebut. Kini, polisi tengah membahas persoalan tersebut dengan Kemendiktisaintek. Korps Bhayangkara juga tidak menutup kemungkinan adanya potensi tersangka tambahan. Atas perbuatannya para tersangka dijerat dengan pasal berlapis yaitu, Pasal 392 KUHP, Pasal 69 ayat (1) dan ayat (2) UU 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, serta Pasal 96 UU 23/2006 tentang Administrasi Kependudukan. (leh/aph/jpg)
Editor : Adriyanto Syafril