Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Siagakan 198 RS, Biaya Perawatan Ditanggung BPJS, Satu WNA Kontak Erat Korban Hantavirus Ditemukan di Jakarta

jpg • Selasa, 12 Mei 2026 | 09:30 WIB
Ilustrasi.
Ilustrasi.

PADEK.JAWAPOS.COM - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengidentifikasi satu warga negara asing (WNA) di Jakarta sebagai kontak erat pasien Hantavirus di kapal pesiar MV Hondius. WNA berusia 60 tahun itu kini menjalani karantina dan pemantauan di RSPI Sulianti Saroso, Jakarta.

Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes Andi Saguni menjelaskan, WNA tersebut melakukan kontak erat dengan pasien kedua Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang meninggal di kapal pesiar MV Hondius. Dia diketahui melakukan perjalanan ke sejumlah wilayah di Argentina pada 18–30 Maret 2026. Pada 31 Maret 2026, ia tiba di Ushuaia, Argentina, titik awal pelayaran MV Hondius.

Selanjutnya, WNA tersebut turun di Saint Helena dan menginap di lokasi yang sama dengan pasien HPS yang meninggal. Keduanya juga berada dalam satu penerbangan dari Saint Helena menuju Johannesburg, Afrika Selatan, pada 24 April 2026. Setelah itu, ia melanjutkan perjalanan ke Zimbabwe pada 26–29 April 2026 sebelum kembali ke Indonesia melalui Qatar dan tiba di Jakarta pada 30 April 2026.

Andi menjelaskan, pada 7 Mei 2026, International Health Regulations (IHR) National Focal Point Inggris mengirimkan notifikasi terkait kontak erat tersebut. Keesokan harinya, Kemenkes langsung melakukan penyelidikan epidemiologi dan pemeriksaan terhadap yang bersangkutan.

“Pada 8 Mei pukul 13.30 kami berkoordinasi dengan WHO, RS Sulianti Saroso, BBLK Jakarta, dan Dinkes DKI Jakarta terkait situasi ini,” ujarnya dalam taklimat media, Senin (11/5).

Pada 9 Mei 2026, WNA tersebut dijemput di kediamannya dan dibawa ke RSPI Sulianti Saroso untuk pemeriksaan spesimen serta pemantauan selama masa inkubasi. Kemenkes mengambil lima jenis spesimen, yakni serum, urin, saliva, usap tenggorok, dan whole blood. Hasil pemeriksaan sementara menunjukkan negatif Hantavirus. “Pasien dalam kondisi sehat dan tidak menunjukkan gejala mengkhawatirkan,” katanya

Meski demikian, pemeriksaan laboratorium ulang akan dilakukan secara berkala setiap dua minggu sesuai rekomendasi WHO. Selama masa pemantauan, WNA tersebut juga diimbau menjalani work from home (WFH). Andi memastikan risiko penularan terhadap warga sekitar relatif kecil. Sebab, WNA tersebut telah menjalani isolasi mandiri sejak tiba di Jakarta dan diketahui tinggal seorang diri.

Selain menangani kasus tersebut, Kemenkes memperkuat kesiapsiagaan nasional dengan menyiagakan 198 rumah sakit jejaring penyakit infeksi emerging, termasuk 21 rumah sakit sentinel di 20 provinsi. Rumah sakit tersebut disiapkan untuk pemantauan kasus, isolasi pasien, hingga mencegah potensi kejadian luar biasa (KLB).

Kemenkes juga memastikan kapasitas laboratorium memadai dengan dukungan 221 alat PCR di berbagai daerah.

Menurut Andi, pemeriksaan PCR penting untuk memastikan jenis dan strain virus Hanta yang ditemukan. “Kalau hasilnya positif, baik HFRS maupun HPS, strain-nya harus diperiksa lebih lanjut melalui PCR,” jelasnya.

Sejauh ini, kasus yang ditemukan di Indonesia masih berupa Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS), bukan HPS seperti yang ditemukan di MV Hondius. Sepanjang 2024 hingga 2026, tercatat ada 23 kasus HFRS di Indonesia. Rinciannya satu kasus pada 2024, 17 kasus pada 2025, dan lima kasus hingga Mei 2026. Tiga pasien dilaporkan meninggal dunia.

Pengawasan di pintu masuk negara juga diperketat melalui 51 Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) di seluruh Indonesia. Petugas melakukan thermal scanner, pemeriksaan visual, hingga pemantauan pelaku perjalanan luar negeri melalui aplikasi All Indonesia.

Terkait pembiayaan pengobatan, Andi memastikan pasien dengan gejala terkait Hantavirus dapat memanfaatkan skema BPJS Kesehatan.
“Serupa dengan leptospirosis, pembiayaan dapat menggunakan BPJS sesuai ketentuan yang berlaku,” pungkasnya

Empat Kasus di Jakarta

Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta mencatat empat kasus hantavirus ditemukan sepanjang 2026. Tiga pasien telah sembuh dengan gejala ringan, sementara satu kasus masih berstatus suspek dan menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.

Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Ani Ruspitawati menegaskan, hantavirus bukan penyakit baru. Di Indonesia, penularannya masih berasal dari tikus ke manusia, bukan antarmanusia.

Penularan hantavirus terjadi melalui paparan air liur, urin, maupun kotoran tikus yang terkontaminasi ke manusia. Penularan juga bisa terjadi saat debu yang tercemar terhirup.

Menurut Ani, dari berbagai varian hantavirus yang ada di dunia, hanya varian Andes di Amerika Selatan yang diketahui dapat menular antarmanusia.

Dinkes DKI memastikan seluruh kasus yang ditemukan di Jakarta sejauh ini bergejala ringan. Pasien suspek tetap menjalani isolasi sebagai langkah kewaspadaan sambil menunggu kepastian diagnosis laboratorium. Meski demikian, untuk pencegahan, warga diminta rutin mencuci tangan, menggunakan masker saat berada di area berisiko tinggi terpapar tikus, serta menjaga daya tahan tubuh. (mia/rya/oni/jpg)

Editor : Adriyanto Syafril
#Hantavirus