PADEK.JAWAPOS.COM - Tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih berlanjut pada perdagangan pekan depan. Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi memprediksi nilai tukar rupiah berpotensi melemah hingga menyentuh level Rp 17.850 per dolar Amerika Serikat (AS).
Menurut Ibrahim, penguatan indeks dolar AS dan kenaikan harga minyak mentah dunia menjadi faktor utama. Dua hal itu membebani mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Indeks dolar kemungkinan besar masih menguat dalam perdagangan minggu depan dengan support di 97,300 dan resistance di 101,100,” ujar Ibrahim, kemarin (17/5).
Dia menjelaskan, penguatan dolar berjalan seiring dengan naiknya harga minyak mentah dunia. Untuk WTI crude oil, Ibrahim memperkirakan harga bergerak di kisaran support 91,600 dan resistance 110,600. Kondisi tersebut dinilai memberi tekanan tambahan terhadap pasar keuangan global, terutama bagi negara importir energi seperti Indonesia.
Di sisi lain, harga emas dunia diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan tertahan. Pada penutupan Sabtu pagi, harga emas dunia berada di level USD 4.538 per troy ounce, sementara harga logam mulia domestik tercatat Rp 2.769.000 per gram.
Jika terkoreksi, Ibrahim memperkirakan harga emas dunia berpotensi turun menuju support pertama di USD 4.444 per troy ounce dengan harga logam mulia domestik sekitar Rp 2.749.000 per gram. “Kalau koreksi lebih dalam, support kedua ada di USD 4.307 per troy ounce dan logam mulia bisa turun ke Rp 2.685.000 per gram,” lanjutnya.
Namun, dia menilai pelemahan emas tidak akan terlalu tajam karena tertahan depresiasi rupiah.
Jangan Anggap Sepele
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dinilai tidak bisa dianggap sepele. Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adhinegara menilai, depresiasi rupiah hingga menembus kisaran Rp 17.600 per dolar AS tetap akan berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat pedesaan.
Bhima merespons pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut anjloknya rupiah tidak berdampak langsung bagi masyarakat desa. Menurut dia, pandangan tersebut kurang mempertimbangkan keterkaitan ekonomi domestik dengan sistem global yang semakin kuat.
“Jangan dikira pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar di level Rp 17.600 tidak akan menjalar ke kenaikan biaya hidup di desa. Seolah-olah semua masih bisa ditahan dengan subsidi BBM dan LPG,” ujarnya.
Bhima menilai, Indonesia kini semakin terintegrasi dengan sistem ekonomi global dibanding saat krisis 1998. Kondisi tersebut membuat dampak gejolak energi dunia dan pelemahan rupiah lebih cepat menekan kehidupan masyarakat.
“Kalau tahun 1998 saat terjadi krisis harga minyak tanah naik tajam, orang masih bisa beralih ke kayu bakar. Tapi sekarang kayu bakarnya dari mana? Transmisi krisis energi global dan pelemahan rupiah ini bisa berdampak berat terhadap LPG dan harga kebutuhan pokok,” terangnya.
Bhima menjelaskan, pelemahan rupiah akan meningkatkan biaya impor berbagai komoditas dan bahan baku. Dia mencontohkan, masyarakat desa tetap menggunakan berbagai produk yang bergantung pada impor, mulai dari telepon genggam, kendaraan bermotor, komponen elektronik, hingga alat rumah tangga.
Selain itu, sektor pertanian juga dinilai rentan terdampak karena harga pupuk berpotensi meningkat seiring melemahnya kurs rupiah. “Pupuk di sentra pertanian juga akan terpengaruh. Kalau rupiah terus melemah, kenaikan harga kebutuhan pokok tinggal menunggu waktu,” tambahnya.
Bhima juga mengingatkan potensi dampak lanjutan terhadap ketenagakerjaan. Pelemahan rupiah berkepanjangan dinilai dapat memicu gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), terutama di sektor industri yang bergantung pada bahan baku impor.
Menurut dia, kondisi tersebut bisa memicu arus balik pekerja dari kota ke desa dalam kondisi kehilangan pekerjaan dan penghasilan. Situasi itu berpotensi menjadi tekanan tambahan bagi ekonomi pedesaan.
“Kalau PHK massal terjadi, desa akan dibanjiri korban PHK dari perkotaan yang kembali tanpa pekerjaan. Itu akan menjadi beban baru bagi desa,” tegasnya.
Bhima menilai, pemerintah seharusnya lebih waspada menghadapi tekanan ekonomi global dan pelemahan rupiah. Dia mendorong adanya langkah antisipatif melalui stimulus ekonomi serta komunikasi publik yang lebih menenangkan dan realistis.
“Banyak negara justru mempersiapkan kondisi terburuk dan memberi stimulus. Jangan sampai situasi ini dianggap enteng tanpa persiapan matang,” pungkasnya. (mim/oni/jpg)
Editor : Adriyanto Syafril