Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Pelaku Bisnis Sawit Khawatir Regulasi Kian Ruwet

jpg • Rabu, 20 Mei 2026 | 08:50 WIB
Kayawan berada di depan layar yang menampilkan IHSG di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (19/5). (SALMAN TOYIBI/JPG)
Kayawan berada di depan layar yang menampilkan IHSG di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (19/5). (SALMAN TOYIBI/JPG)

PADEK.JAWAPOS.COM - Rumor pembentukan badan khusus pengelola ekspor komoditas strategis memicu kegelisahan pelaku industri. Di tengah tekanan pasar yang menyeret Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 3,08 persen ke level 6.396 pada penutupan sesi I perdagangan kemarin (19/5), pelaku bisnis sawit menilai, wacana tersebut berpotensi menambah ketidakpastian regulasi di sektor ekspor.

Pemerintah memang dikabarkan tengah menyiapkan badan khusus untuk mengatur ekspor sejumlah komoditas strategis seperti batu bara, minyak kelapa sawit, hingga mineral logam. Badan tersebut kemungkinan bakal diumumkan Presiden Prabowo Subianto hari ini saat menyampaikan sambutan dalam rapat paripurna DPR.

Pengurus Rumah Sawit Indonesia (RSI) Sabri Basyah menilai, langkah tersebut justru berisiko memperpanjang rantai birokrasi di sektor yang selama ini sudah memiliki instrumen pengaturan cukup lengkap. “Saya belum dapat info bakal dibentuknya Badan Khusus untuk Komoditas di atas. Tapi, khusus untuk kelapa sawit, untuk apa lagi perlu Badan Khusus Pengelola Ekspor,” katanya kepada Jawa Pos (grup Padang Ekspres) kemarin (19/5).

Indonesia, lanjut Sabri, sudah punya bursa yang mengatur harga pasar (Inacom). Selain itu, telah ada badan yang mengelola Dana Kutipan Ekspor (BPDPKS). “Komoditas ini juga sudah diperdagangkan di bursa,” ujarnya.

Dia mengingatkan, sawit merupakan salah satu komoditas paling strategis bagi perekonomian nasional. Sebab, komoditas tersebut menjadi penyumbang devisa terbesar Indonesia dalam hampir satu dekade terakhir.

“Saya kira langkah (pembentukan badan ekspor) ini kurang bijak,” lanjutnya.

Pelaku industri juga menyoroti tingginya frekuensi perubahan kebijakan pemerintah yang dinilai membuat iklim usaha menjadi kurang stabil. Dalam beberapa tahun terakhir, sektor sawit menghadapi berbagai penyesuaian aturan yang berubah dalam waktu cepat.

“Selama lima tahun terakhir ini terlalu banyak aturan yang berubah akibat keputusan pemerintah yang keluar setiap bulan. Jumlah beban cukai/pajak yang dikenakan pada komoditas juga cukup besar,” katanya.

Di pasar modal, rumor pembentukan badan ekspor tersebut langsung memicu tekanan jual di sejumlah saham berbasis komoditas. Investor khawatir, langkah intervensi baru pemerintah dapat memengaruhi fleksibilitas perdagangan dan kepastian bisnis ekspor nasional. (bry/ttg/jpg)

Editor : Adriyanto Syafril
#ekspor #komoditas #ihsg #Sawit Indonesia