Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Blackout Sumatera Akibat Kabel Putus-Cuaca Ekstrem, Tim Gabungan Bareskrim-PLN Sudah Olah TKP, Pastikan Bukan Sabotase

jpg • Selasa, 26 Mei 2026 | 08:50 WIB
Petugas PLN melakukan pemantauan dan penormalan sistem kelistrikan di Sumatera Barat pascagangguan pada sistem interkoneksi Sumatera Jumat (22/5). Sebanyak 1,8 juta pelanggan kini kembali menikmati layanan listrik normal. (DOK PLN UID SUMBAR)
Petugas PLN melakukan pemantauan dan penormalan sistem kelistrikan di Sumatera Barat pascagangguan pada sistem interkoneksi Sumatera Jumat (22/5). Sebanyak 1,8 juta pelanggan kini kembali menikmati layanan listrik normal. (DOK PLN UID SUMBAR)

PADEK.JAWAPOS.COM - Berbagai kabar, dugaan, dan “teori konspirasi” merebak begitu sebagian besar listrik di Sumatera padam pada Jumat (22/5) pekan lalu. Ada, misalnya, yang mengaitkan dengan baru saja diterimanya tawaran Amerika Serikat menjadikan Bandara Kertajati di Majalengka, Jawa Barat, sebagai bengkel pesawat militer.

Ada yang mengaku seperti mendengar suara pesawat atau helikopter terbang rendah sebelum listrik padam di Medan, Sumatera Utara. Ada pula yang mengaitkannya dengan upaya penyelundupan obat-obat terlarang.

Kemarin (25/5), Bareskrim Polri bersama tim gabungan dan PT PLN (Persero) memastikan bahwa insiden yang menyebabkan listrik di mayoritas Sumatera byarpet sampai Minggu (24/5) sore itu murni diakibatkan gangguan teknis kelistrikan dan cuaca ekstrem. “Bukan karena sabotase,” kata Wakil Kepala Badan Reserse Kriminal (Wakabareskrim) Polri Irjen Pol Nunung Syaifuddin dalam taklimat media di Mabes Polri, Jakarta.

Nunung menyebut kalau kepastian tersebut didapat setelah tim gabungan melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) pada Minggu (24/5). Penelusuran difokuskan pada Tower 175 dan Tower 176 jaringan transmisi tegangan ekstra tinggi (SUTET) 275 kV jalur Muara Bungo–Sungai Rumpeh yang berlokasi di Desa Temino, Kecamatan Mestong, Kabupaten Muaro Jambi, Jambi.

“Dari hasil identifikasi di lapangan, kondisi fisik struktur tower secara umum masih dalam keadaan baik. Namun, tim menemukan adanya kabel transmisi yang mengalami putus. Gangguan inilah yang diduga memicu ketidakstabilan frekuensi dan tegangan listrik yang selanjutnya memicu matinya pembangkit secara berantai,” ungkapnya.

Nunung juga membeberkan bukti fisik berupa bentuk patahan pada kabel yang putus. Itu, tuturnya, merupakan indikator kuat bahwa kerusakan terjadi secara alami.

“Kenapa kami bisa pastikan? Karena kerusakan atau putusnya kabel ini potongannya tidak rapi, melainkan berbentuk serabut. Kalau itu sabotase (dipotong), pasti potongan-potongannya lebih rapi,” katanya.

Hipotesis itu, lanjut Nunung, turut dikuatkan keterangan warga yang tinggal di sekitar lokasi kejadian. Tiga orang saksi, masing-masing Sabridal selaku ketua RT setempat serta Narto Wijoyo dan Eka Dedi Setyawan sebagai warga sekitar lokasi, mengonfirmasi kepada penyidik bahwa mereka sempat mendengar suara ledakan keras dari arah SUTET yang langsung disusul dengan padamnya listrik di area tersebut

Terkait pemicu pasti putusnya kabel baja transmisi tersebut, tim penyidik masih melakukan pendalaman komprehensif. Beberapa dugaan sementara meliputi faktor mekanik akibat gesekan angin kencang, suhu panas dari sambungan longgar yang memicu rongga, hingga tarikan ekstrem akibat cuaca buruk.

Saat ini, barang bukti kabel transmisi telah diamankan. Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Polri akan menganalisis lebih lanjut secara ilmiah.

Seluruh Pembangkit Besar Telah Masuk Sistem

Sementara itu, Direktur Transmisi PLN Edwin Nugraha Putra dalam konferensi pers yang sama memastikan bahwa per Senin (25/5) kemarin seluruh pembangkit besar telah kembali masuk ke dalam sistem dan pasokan listrik di Sumatera telah kembali andal. Untuk gangguan, bermula dari kondisi cuaca ekstrem di wilayah Muaro Jambi yang sebelumnya memang telah masuk dalam daftar waspada Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Kelembapan udara yang tinggi memicu hujan lebat, petir, dan angin kencang yang berdampak langsung pada infrastruktur transmisi kelistrikan. “Sistem kelistrikan Sumatera ditopang dua jalur transmisi utama yang mengalirkan daya dari selatan (Palembang dan Lampung) ke utara (Riau hingga Aceh), yakni jalur timur koridor transmisi berkapasitas 500 kV dan jalur barat koridor transmisi berkapasitas 275 kV,” katanya.

Pada Jumat, 22 Mei 2026, pukul 18.44 WIB, cuaca buruk menyebabkan gangguan pada transmisi 275 kV jalur New Aur Duri arah Sumsel 5. Terputusnya aliran listrik di jalur timur memaksa arus daya yang besar berbalik dari selatan dan berpindah secara mendadak ke jalur barat (275 kV). Perpindahan beban yang drastis ini memicu fenomena teknis yang disebut power swing atau osilasi.

Tegangan dan frekuensi pada sistem melonjak drastis. Untuk mencegah kerusakan sistem yang lebih parah, sistem proteksi transmisi di jalur barat, tepatnya di ruas Muara Bungo-Sungai Rumbai, secara otomatis mengisolasi diri (trip). “Akibatnya, sistem kelistrikan Sumatera terbelah menjadi dua,” urainya.

Sistem Sumatera Bagian Selatan mengalami kelebihan pasokan daya (frekuensi tinggi). Sistem pertahanan (defense scheme) PLN berhasil menstabilkan jaringan sehingga wilayah Lampung dan sebagian besar Palembang, Sumsel, tidak mengalami pemadaman.

“Lalu, Sistem Sumatera Bagian Utara mengalami defisit daya secara drastis (frekuensi rendah). Pembangkit listrik di wilayah ini tidak mampu menahan beban penurunan frekuensi yang tajam sehingga trip secara bergiliran,” terangnya.

Efek domino tersebut melumpuhkan seluruh pembangkit di utara, memicu blackout di Jambi, Riau, Sumbar, Sumut, dan Aceh. Setelah memastikan tidak ada kerusakan fisik pada Gardu Induk Tegangan Ekstra Tinggi (GITET) dalam dua jam pertama, PLN segera melakukan pemulihan pembangkit secara bertahap.

 “Sehingga, listrik di wilayah terdampak berhasil menyala 100 persen pada Minggu (24/5) pukul 06.17 WIB,” urainya.

Meskipun demikian, PLN terpaksa melakukan pemadaman bergilir pada Minggu petang mulai pukul 18.36–20.15 WIB. Ini dikarenakan lonjakan beban puncak pada waktu Magrib yang menyebabkan sistem kekurangan daya sekitar 200 hingga 300 MW. “Sementara beberapa PLTU masih dalam proses start-up,” jelasnya.

 

Sumbar Normal Menyeluruh

Terpisah, PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Sumbar memastikan sistem kelistrikan di wilayahnya telah kembali normal secara menyeluruh. Sebanyak 394 penyulang di seluruh wilayah kerja PLN UID Sumbar telah kembali beroperasi normal dan berhasil melayani 1.849.589 pelanggan yang sebelumnya terdampak.

General Manager PLN UID Sumbar Ajrun Karim menyampaikan, proses penormalan sistem kelistrikan dilakukan secara bertahap melalui koordinasi dan upaya bersama berbagai pihak. Dalam proses penormalan sistem kelistrikan, terangnya, PLN tetap mengutamakan penerapan budaya keselamatan kerja di setiap tahapan pekerjaan. Seluruh proses pemulihan dilakukan secara bertahap, terukur, dan penuh kehati-hatian guna memastikan sistem kelistrikan kembali beroperasi secara aman, stabil, dan andal, sekaligus meminimalisasi potensi gangguan lanjutan pada jaringan kelistrikan.

PLN UID Sumbar, jelas dia, memahami bahwa gangguan kelistrikan yang terjadi sempat memengaruhi aktivitas masyarakat di berbagai sektor. Untuk itu, menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang dirasakan masyarakat. (idr/ttg/jpg)

Editor : Adriyanto Syafril
#blackout Sumatera #PLN UID Sumbar