PADEK.JAWAPOS.COM - Sirine tanda bahaya menyala di berbagai sudut Kuwait. Itu terjadi menyusul serangan drone atau pesawat nirawak ke salah satu sekutu Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah tersebut.
Belum ada pengumuman resmi, tapi diduga kuat drone tersebut berasal dari Iran. Mengutip Al Jazeera kemarin (28/5), Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengakui telah menyerang pangkalan yang digunakan pasukan AS untuk menyerang Selat Hormuz.
Namun, IRGC tak menyebut secara persis pangkalan apa dan berada di negara mana. Senin lalu (25/5), militer AS, dengan klaim membela diri dari ancaman, telah lebih dulu menyerang peluncur rudal di Bandar Abbas di selatan Iran. AS juga menembaki kapal-kapal penyebar ranjau Iran.
Iran juga sudah menegaskan bahwa semua serangan AS bakal dibalas. “Pangkalan udara Amerika yang menjadi sumber serangan tersebut menjadi sasaran pada pukul 4.50 pagi. Ini sebagai peringatan serius kepada Amerika,” kata IRGC dalam pernyataan resminya kemarin.
Angkatan Laut IRGC juga berhasil memukul mundur tanker Amerika di Selat Hormuz.
Mengutip Kantor Berita Tasnim, kapal tanker itu mencoba melintas dengan radar dimatikan sebelum akhirnya dipaksa berbalik setelah IRGC melepaskan tembakan peringatan.
Eskalasi itu kian mengancam keberlangsungan gencatan senjata antarkedua negara yang berlangsung sejak 8 April. Apalagi, di meja perundingan di Doha, Qatar, kesepakatan tak kunjung diraih. Di sisi lain, Israel, sekutu AS, juga terus membombardir Lebanon.
Presiden AS Donald Trump menegaskan, tak akan mengabulkan salah satu syarat yang diminta Teheran terkait pencairan aset yang dibekukan. Selat Hormuz, lanjut Trump, juga tidak akan pernah berada di bawah kendali Iran.
Dalam rapat kabinet di Gedung Putih, Trump mengatakan, Selat Hormuz merupakan perairan internasional yang akan diawasi langsung oleh Amerika Serikat. “Tidak, selat itu akan terbuka untuk semua orang. Itu perairan internasional. Tidak ada yang akan mengendalikannya,” kata Trump seperti dikutip dari Iran International.
Trump juga mengancam Oman, negeri tetangga Iran yang dipisahkan Selat Hormuz, jika mendukung rencana Teheran terkait pengaturan lalu lintas di selat yang dilewati sekitar 20 persen distribusi minyak dan gas dunia tersebut. “Oman harus bersikap seperti negara lain atau kami akan membumihanguskan mereka,” katanya.
Pernyataan keras Trump muncul ketika sejumlah pejabat AS mulai mengakui bahwa negosiasi dengan Iran belum menghasilkan kesepakatan konkret. Trump menyebut, Iran sangat ingin mencapai kesepakatan, tetapi Washington belum puas dengan hasil pembicaraan sejauh ini.
Di sisi lain, Teheran menegaskan tidak akan mundur dari persyaratan yang diajukan. Ketua Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran Ebrahim Azizi menyatakan, negaranya tetap mempertahankan hak pengayaan uranium, kepemilikan uranium yang diperkaya, kendali atas Selat Hormuz, serta tuntutan pencabutan sanksi.
“Jelas bahwa Trump, yang mencari jalan keluar dari kebuntuan strategis ini, bergantian antara mengeluarkan ancaman dan menyerukan kesepakatan,” tulis Azizi di akun X-nya.
Bombardir Israel
Sementara itu, Israel memperluas operasi militernya di Lebanon Selatan dengan mengeluarkan perintah evakuasi besar-besaran kepada warga di wilayah selatan Sungai Zahrani. Pada Rabu (27/5), Pasukan Pertahanan Israel mendesak warga segera bergerak ke utara sejauh sekitar 40 kilometer dari perbatasan Israel.
Israel memperingatkan akan bertindak tidak kenal ampun terhadap wilayah yang disebut memiliki infrastruktur Hizbullah. Perintah evakuasi itu disebut sebagai yang terbesar sejak gencatan senjata berlaku pada 17 April dan mencakup sekitar 14 persen wilayah Lebanon.
Gelombang serangan udara kemudian menghantam Tyre dan wilayah sekitarnya sepanjang Rabu (27/5) malam hingga kemarin (28/5) pagi. Rekaman dari lokasi menunjukkan ledakan besar, kobaran api, dan asap tebal membumbung di kawasan permukiman. Tim ambulans terus berkeliling meminta warga meninggalkan rumah mereka di tengah ancaman serangan lanjutan.
“Orang-orang mengemasi barang-barang mereka. Semua orang takut,” kata salah satu warga Tyre, Rida, seperti dilansir BBC.
Kepala delegasi Komite Palang Merah Internasional di Lebanon, Agnes Dhur, memperingatkan bahwa situasi kini mendekati titik kritis yang berbahaya. “Permusuhan yang terus berlanjut menciptakan kondisi yang tidak dapat ditolerasi bagi warga sipil dan berisiko menimbulkan konsekuensi jangka panjang,” ujarnya. (lyn/ttg/jpg)
Editor : Adriyanto Syafril