Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Dosen Fakultas Ilmu Komputer UI Riri Satria Bicara AI dan Deepfake: Waspada, Kecerdasan Buatan Bisa Memecah Belah

Ganda Cipta • Kamis, 4 Juni 2026 | 03:30 WIB
Dari kiri ke kanan; Anesa Satria, Ganda Cipta, Tandri Eka Putra, Riri Satria, Isa Kurniawan, dan Sandy Sitia usai berdiskusi di Ruang Adinegoro, Graha Pena Padang, Rabu (3/6). (DOK PADEK)
Dari kiri ke kanan; Anesa Satria, Ganda Cipta, Tandri Eka Putra, Riri Satria, Isa Kurniawan, dan Sandy Sitia usai berdiskusi di Ruang Adinegoro, Graha Pena Padang, Rabu (3/6). (DOK PADEK)

PADEK.JAWAPOS.COM - Kecerdasan buatan (AI) menjadi salah satu teknologi mutakhir yang banyak digunakan saat ini. Namun, penggunaannya bisa berefek negatif juga positif. Salah satunya, menimbulkan deepfake, di mana kecerdasan buatan itu mengaburkan antara realita dan khayal. Antara fakta dan hoaks.

Salah satu yang viral adalah dugaan “ilmuan” Indonesia melakukan deepfake pada sebuah konferensi di Kopenhagen, Denmark, baru-baru ini. Hasil peneltian sudah dibuat dulu, baru kemudian datanya dikarang-karang dengan AI.

Padahal, seorang peneliti itu harusnya mulai dari data empris baru menarik kesimpulan. Namun ini, kesimpulan dulu, baru dikarang data empirisinya.

Contoh deepfake lain, saat ini siapa saja bisa membuat foto sedang minum kopi dengan Vladimir Putin dan Kim Jong Un. Nah, dengan kondisi demikian, kira-kira apa yang akan terjadi pada 2028 atau 2029, jelang Pemilu?

Hal tersebut diungkapkan dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia Riri Satria saat berkunjung ke Graha Pena Padang bersama Isa Kurniawan, Anesa Satria dan Sandy Sitia dari Himpunan Media Sumbar (Hamas), kemarin. “Indonesia bisa perang deepfake,” katanya dalam diskusi bersama awak redaksi Padang Ekspres yang digawangi langsung oleh Pemimpin Redaksi Padang Ekspres Tandri Eka Putra dan didampingi Redaktur Pelaksana Ganda Cipta.

Untuk itu, sebut Komisaris Utama PT ILCS Pelindo Solusi Digital ini, media massa harus semakin kredibel sebagai sumber pemberantasan deepfake. Karena, media massa khususnya yang mainstream, menjadi satu-satunya pihak yang layak dipercaya.

Kampanye untuk menangkal deepfake ini sudah dilalukan Riri Satria dalam beberapa waktu terakhir. Pada 30 Mei lalu, ia melakukan presentasi di Gedung Dewan Kesenian Jakarta. Lalu lewat orasi budaya dalam memperingati 70 Tahun Unand, juga disampaikan hal yang sama. Kemudian akan dilanjutkan pada 10 Juni mendatang di Universitas Diponegoro, Semarang, dan akhir Juni kemungkinan di Aceh.

“Ini tanggung jawab moral bagi saya. Sebagai orang yang mengerti, saya harus memberi edukasi,” jelasnya.

Dengan deepfake, ia mengkhawatirkan Indonesia bisa terpecah belah. Karena Setidaknya, akan ada 16 dampak deepfake.

Beberapa di antaranya, dapat menimbulkan krisis kepercayaan sosial. Deepfake membuat masyarakat semakin sulit membedakan mana yang nyata dan mana yang palsu. Akibatnya, kepercayaan terhadap informasi visual dan audio mulai melemah.

Kemudian, terjadinya penyebaran hoaks dan disinformasi. Deepfake mempercepat penyebaran berita palsu karena manipulasi visual lebih mudah dipercaya dibanding teks biasa.

Bahaya lainnya, dapat menimbulkan krisis identitas dan privasi. Teknologi ini membuat identitas seseorang dapat dicuri dan direplikasi. Misalnya melakukan penipuan menggunakan suara palsu anggota keluarga. Atau wajah seseorang dipakai dalam iklan tanpa izin.

Selain itu, bisa memanipulasi politik dan demokrasi. Sebab, ucapnya, deepfake dapat dipakai untuk memengaruhi opini publik dan hasil politik.

Untuk menangkal dampak deepfake ini, menurut Riri, setidaknya, ada 12 hal yang mesti dilakukan. Salah satunya, media harus menjadi benteng terakhir dalam mencegah penyebaran deepfake.

“Jadi, masyarakat perlu mendukung jurnalisme berkualitas, menghargai verifikasi fakta, dan tidak hanya bergantung pada viralitas media sosial,” terang Riri yang juga dikenal sebagai seorang sastrawan ini.

Ia juga menyampaikan perlunya membangun ketahanan budaya terhadap manipulasi. “Kebudayaan yang sehat bukan hanya maju teknologinya, tetapi juga kuat daya refleksinya,” tekan Riri.

Meskipun kecerdasan buatan (AI), menimbulkan banyak ancaman, teknologi ini tidak selalu dipandang secara negatif. Sebab, terangnya, AI juga dapat menjadi alat bantu kreatif jika digunakan secara bijaksana

“Penulis dan penyair dapat memanfaatkan AI untuk eksplorasi ide, riset, atau eksperimen artistik. Dalam konteks tertentu kolaborasi manusia dan AI justru dapat melahirkan bentuk seni baru,” ungkapnya dalam Orasi Budaya berjudul Deepfake AI dan Disrupsi Dunia Kepenulisan, Kepenyairan, dan Kebudayaan di Unand Selasa (2/6) lalu.

Namun, tekannya, manusia tetap harus menjadi pusat kreativitas. AI sebaiknya diposisikan sebagai alat pendukung, bukan pengganti kesadaran manusia. 

Pada akhirnya, tantangan terbesar dalam era AI bukanlah soal teknologi, melainkan bagaimana manusia mempertahankan nilai kemanusiaannya. Sastra dan puisi lahir dari pengalaman hidup yang nyata. Luka, cinta, kehilangan, harapan, spiritualitas, dan pergulatan batin merupakan hal-hal yang tidak sepenuhnya dapat direduksi menjadi algoritma.

“Manusia perlu menyadari bahwa teknologi hanyalah alat. Nilai sejati kebudayaan tetap berada pada kemampuan manusia untuk merasakan, merenung, berempati dan memahami kehidupan secara mendalam,” tukasnya. (cip)

Editor : Adriyanto Syafril
#Riri Satria #deepfake #kecerdasan buatan #ai #pemilu