Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Cadangan Mineral Melimpah, RI Belum Penentu Harga

jpg • Senin, 8 Juni 2026 | 08:43 WIB
Ilustrasi.
Ilustrasi.

PADEK.JAWAPOS.COM - Indonesia boleh berbangga sebagai salah satu pemilik cadangan mineral terbesar di dunia. Nikel, bauksit, tembaga hingga timah tersimpan melimpah di perut bumi Nusantara. Namun, kekayaan sumber daya tersebut ternyata belum cukup untuk mengantarkan Indonesia menjadi penentu harga komoditas mineral di pasar global.

CEO Shanghai Metals Market Logan Lu menegaskan bahwa besarnya cadangan mineral dan intervensi kebijakan pemerintah memang dapat memengaruhi pasar. Namun, harga pada akhirnya tetap ditentukan oleh keseimbangan permintaan dan penawaran global.

“Indonesia sudah memiliki kekuatan yang cukup besar untuk memengaruhi harga. Pemerintah dapat mengeluarkan kebijakan yang berdampak terhadap pasar, tetapi tidak dapat mengendalikan harga itu sendiri,” ujarnya di sela pelatihan jurnalisme From Mine to Market: Journalism Training on Mineral Industrialization, Processing & Pricing yang digelar oleh Shanghai Metals Market di Jakarta kemarin (7/6).

Pernyataan tersebut muncul ketika peserta diskusi menyinggung upaya pemerintah memperkuat posisi tawar komoditas strategis melalui pembentukan Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Menurut dia, permintaan global, kapasitas industri hilir, penguasaan teknologi, hingga struktur perdagangan internasional menjadi faktor utama yang membentuk harga komoditas mineral.

Dalam kesempatan yang sama, Anggota Dewan Ekonomi Nasional, Septian Hario Seto, menilai strategi hilirisasi tetap menjadi instrumen penting untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global. Kebijakan itu telah memberikan dampak nyata terhadap perekonomian nasional melalui peningkatan investasi, ekspor, serta perolehan devisa. “Tanpa hilirisasi nikel, indikator ekonomi Indonesia kemungkinan akan jauh lebih buruk,” katanya.

Seto menilai manfaat hilirisasi tidak hanya tercermin dari masuknya investasi baru, tetapi juga dari meningkatnya nilai tambah yang tercipta di dalam negeri. Kondisi tersebut berkontribusi terhadap ketahanan ekonomi nasional di tengah gejolak global.

Ketua Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) Arif Perdana Kusumah menilai peluang terbesar Indonesia berada pada pengembangan industri hilir yang terkait dengan transisi energi dan teknologi maju. Khususnya, komoditas strategis seperti nikel, bauksit, tembaga, timah, unsur tanah jarang, hingga mineral radioaktif memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah tinggi.

“Nilai tambah terbesar justru berada di sektor hilir yang mendukung industri baterai, kendaraan listrik, dan teknologi masa depan,” ucapnya.

Penguatan Kualitas SDM

Pakar hubungan internasional dari President University Teuku Rezasyah mengingatkan bahwa persaingan global memperebutkan mineral kritis akan semakin ketat seiring meningkatnya kebutuhan industri baterai, kendaraan listrik, dan teknologi canggih. Indonesia harus memastikan mampu mengelola seluruh rantai nilai mineral kritis secara mandiri, mulai dari pengolahan hingga penguasaan teknologi.

“Jika tidak, Indonesia berisiko hanya menjadi pemasok bahan baku dan lokasi produksi bagi pihak yang memiliki teknologi lebih maju,” katanya.
Karena itu, penguatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dinilai menjadi pekerjaan rumah yang tidak kalah penting dibanding pembangunan fasilitas pengolahan. “Indonesia perlu menyiapkan kurikulum pendidikan yang mampu menghasilkan tenaga kerja yang menguasai seluruh proses industri mineral kritis, dari hulu hingga hilir,” tambahnya. (bry/dio/jpg)

Editor : Adriyanto Syafril
#Komoditas Minerba Strategis Indonesia