Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

AS Yakin Diteken Hari Ini, Iran Masih Mengkaji, Kesepakatan Damai, Trump Sebut Selat Hormuz bakal Langsung Dibuka

jpg • Senin, 15 Juni 2026 | 09:35 WIB
Ilustrasi.
Ilustrasi AI.

PADEK.JAWAPOS.COM -- Saat Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berkoar bahwa kesepakatan damai bakal diteken hari ini WIB, Iran justru menepisnya. Teheran menyatakan, masih dalam proses meng­kaji berbagai aspek dari kesepakatan itu.

“Kami masih harus menunggu dan melihat tanggal pasti penandatanganan kesepakatan. Yang pasti tidak besok (14/6),” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei di Teheran Sabtu (13/6) lalu.

Lewat akun Truth Social-nya, Trump mengumumkan pada Sabtu (13/6) bahwa kesepakatan bakal di­teken Minggu (14/6). Dengan beda 12 jam, kalau benar terwujud, kemungkinan akan diteken pagi atau siang ini WIB. Namun, Trump tak menyebut kapan persisnya.

Baghaei tak membantah bahwa kemungkinan kesepakatan tersebut ditandatangani dalam beberapa hari ke depan. Adapun Kantor Berita Fars yang mengutip sumber di pemerintah Iran melansir bahwa Teheran belum memfinalisasi atau mendeklarasikan posisi mereka terkait poin-poin ke­se­pakatan.

Saat ini, lanjut Fars yang berbasis di Teheran, Iran masih dalam tahap mengkaji sisi politis, hukum, dan teknis di tataran pakar dan pengambil keputusan.

“Semua dilakukan dengan pertimbangan yang sama seperti selama ini demi menjaga kepentingan nasional, batas-batas kedaulatan, dan mendapatkan jaminan yang diperlukan,” kata sumber tersebut.

Jumat (12/6) lalu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut bahwa Iran dan AS sudah hampir mencapai kata sepakat setelah dua bulan berunding. “Kesepakatan itu bertujuan untuk mengonsolidasikan kemenangan rakyat Iran,” katanya, seperti dikutip dari Kantor Berita IRNA.

Trump, sebaliknya, se­de­mi­kian yakinnya kesepakatan akan diteken. “Dan, segera setelah ditandatangani, Selat Hormuz terbuka untuk semua,” kata Trump, seperti dikutip dari AFP.

Bukan hanya itu, Trump juga menyebut bahwa AS akan mengambil alih stok uranium Iran. “Pada waktu yang tepat, ketika kondisi sudah tenang, kami akan mengambil ’Nuclear Dust’ (uranium, red), menguburnya jauh di bawah gunung granit, dan menghancurkannya,” katanya.

 

Ironi Unggahan Trump

Namun, sebagaimana umumnya unggahan Trump di Truth Social yang sekadar bombastis, masih sulit diyakini bahwa koar-koarnya akan terwujud. Bahkan, ada ironi dari pernyataannya itu.

Pertama, sebelum AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari lalu, Selat Hormuz, jalur krusial distribusi minyak dan gas dunia, sudah terbuka untuk kapal mana saja. Iran memblokade dan belakangan menutup total selat itu sebagai bentuk reaksi atas serangan tersebut.

Kedua, sebelum AS dan Israel menyerang, Iran sudah dalam tahap akhir perundingan nuklir dengan AS dengan Oman sebagai mediator. Dan, seperti dinyatakan Oman, Iran sudah menyepakati untuk menurunkan stok uranium mereka secara bertahap sampai nantinya benar-benar kosong. Soal tidak membuat senjata nuklir, Iran sudah berkomitmen sejak dulu.

Sementara itu, Pakistan sebagai mediator perundingan damai kedua pihak juga sama optimistisnya bahwa kesepakatan akan segera diteken. “Kami lebih dekat pada terealisasinya perjanjian dibandingkan sebelumnya. Kami percaya bahwa kesepakatan damai ini akan menjadi fondasi kuat bagi perdamaian abadi,” tulis Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif di akun X-nya.

Sebelumnya, meski su­dah menyepakati gencatan senjata sejak 8 April, AS dan Iran masih bergantian menyerang. AS mengklaim bahwa serangannya didasarkan atas prinsip membela diri dari ancaman. Sedangkan Iran menyebut bahwa mereka merespons serangan tersebut.

Pekan lalu, Iran untuk kali pertama juga menyerang Israel lebih dulu dengan alasan Negeri Yahudi itu melanggar kesepakatan damai karena terus menyerang Lebanon. Israel membalas serangan itu. sebelum kemudian Trump menegur PM Israel Benjamin Netanyahu.

Dalam perkembangan yang sama, Al Jazeera melaporkan, delegasi Qatar juga telah mendarat di Teheran. Mereka bertugas meyakinkan Iran agar bersedia segera meneken perjanjian damai dengan AS.

Israel kembali Serang Beirut

Sementara itu, pihak militer Israel melancarkan serangan udara ke wilayah pinggiran selatan ibu kota Lebanon, Beirut, kemarin, meskipun gencatan senjata antara kedua pihak masih berlangsung. Menurut koresponden Anadolu, pesawat tempur Israel membombar­dir kawasan Dahiyeh tanpa peringatan sebelumnya. Dua ledakan terdengar di kawa­san tersebut, sementara kepulan asap terlihat membumbung dari lokasi yang menjadi sasaran serangan.

Dalam pernyataannya, militer Israel me­nge­klaim serangan itu menyasar sebuah lokasi yang disebut terkait dengan kelompok Hizbullah di kawasan tersebut. Serangan pada Minggu (14/6) itu terjadi hanya beberapa jam setelah Kepala Oto­ritas Kea­manan Israel Itamar Ben-Gvir dan Kepala Otoritas Ke­­uangan Bezalel Smotrich me­­nyerukan serangan udara ter­­hadap Dahiyeh, setelah dua pesawat nirawak Hizbullah menyerang wilayah utara Israel.

Seruan itu juga tetap disampaikan meskipun gencatan senjata, yang mulai berlaku sejak 17 April, masih berlaku. Militer Israel terus melanjutkan serangan bom di Lebanon sejak 2 Ma­ret dan masih menduduki sejumlah wilayah di bagian selatan negara tersebut.

Menurut data otoritas Le­banon, serangan Israel sejak 2 Maret itu telah me­nyebabkan lebih dari 3.700 orang tewas, hampir 11.500 orang terluka, serta memaksa lebih dari 1,5 juta warga mengungsi. (wan/ttg/jpg/ant)

 

Editor : Adriyanto Syafril
#perang as israel iran #selat hormuz