PADEK.JAWAPOS.COM -- Tekanan politik terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kian menguat setelah mayoritas warga Israel menginginkan dirinya meninggalkan dunia politik. Sentimen itu menguat menyusul kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang dinilai lebih menguntungkan Teheran dan merugikan kepentingan Israel.
Survei yang dirilis Channel 12 Israel menunjukkan sebanyak 59 persen responden menginginkan Netanyahu pensiun dari dunia politik dan tidak lagi mencalonkan diri dalam jabatan publik.
Jajak pendapat yang sama juga mencatat 67 persen warga Israel menilai perjanjian yang baru disepakati Washington dan Teheran merupakan kesepakatan yang buruk bagi Israel.
Penurunan dukungan terhadap Netanyahu terjadi di tengah kekecewaan publik atas hasil perang yang melibatkan Israel, Iran, dan Hizbullah di Lebanon. Survei terpisah yang dilakukan Universitas Ibrani bersama Agam Labs menunjukkan 92 persen warga Israel meyakini Iran justru keluar sebagai pihak yang diuntungkan dalam konflik tersebut.
Selain itu, 82,9 persen responden menilai operasi militer terhadap Iran telah melemahkan keamanan jangka panjang Israel, sedangkan 86 persen memberikan penilaian negatif terhadap hasil perang secara keseluruhan.
Kepercayaan publik terhadap kepemimpinan Netanyahu juga terus merosot. Sebanyak 72,5 persen responden mengaku tidak mempercayai klaim Netanyahu bahwa Israel telah mencapai kemajuan signifikan dan berhasil menghilangkan ancaman eksistensial terhadap negara tersebut. Sebanyak 87,8 persen responden bahkan menilai target militer pemerintah gagal tercapai atau hanya berhasil sebagian.
Di tengah merosotnya popularitas Netanyahu, Menteri Ekonomi Israel Nir Barkat muncul sebagai kandidat terkuat untuk memimpin Partai Likud dengan dukungan 18 persen. Ia disusul Wakil Perdana Menteri Yariv Levin dan Menteri Keamanan Israel Katz.
Peneliti Agam Labs, Nimrod Nir, mengatakan perubahan opini publik berlangsung sangat cepat sejak perang pecah. Menurutnya, dalam waktu sekitar tiga bulan, optimisme masyarakat berubah menjadi pesimisme dan kekecewaan terhadap hasil perang.
“Kini tingkat popularitas Netanyahu berada pada titik terendah. Perang ini telah merusak peluangnya memenangkan pemilu mendatang dan meningkatkan kekhawatiran publik terhadap arah kebijakan pemerintah,” ujar Nir. (lyn/gas/jpg)
Editor : Adriyanto Syafril