Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Cerita Orang Tua Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah: Dendengnya Pakai Cabai, Enak tapi tak Pedas

Aris Prima Gunawan • Selasa, 14 Juli 2026 | 09:35 WIB
Anak-anak TK Negeri 03 Anamlingkuang berdoa bersama jelang menyantap MBG, Senin (13/7). (ARIS/PADEK)
Anak-anak TK Negeri 03 Anamlingkuang berdoa bersama jelang menyantap MBG, Senin (13/7). (ARIS/PADEK)

SUASANA pagi di halaman TK Negeri 03 Anamlingkuang itu dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Anak-anak dengan seragam baru berlarian kecil, sementara sebagian lainnya masih menggenggam erat tangan ayah atau ibu mereka. Sesekali terdengar suara guru menyapa para anak baru agar segera berbaris bersama teman-teman sekelas.

Laporan : Aris Prisma Gunawan

HARI pertama masuk TK selalu menjadi momen yang mengaduk perasaan. Ada rasa bangga ketika melihat anak mulai mandiri, tetapi ada pula rasa haru saat harus melepaskan genggaman tangan yang selama ini selalu menemani.

Di tengah obrolan dengan para orang tua lain yang menunggu di depan gerbang TK Negeri 03 itu, pembicaraan tak hanya soal seragam baru atau perlengkapan belajar. Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) juga menjadi salah satu topik yang menarik perhatian.

Perdana masuk TK ini, orang tua memang sudah dipesankan untuk tidak membawa makanan anaknya. Sebab, anak-anak akan disajikan MBG. Sajian makanan dari pemerintah ini, ternyata membuat kaget salah seorang wali anak. Dia bernama Indah Ratna Sari, 33.

Pasalnya, sang anak yang tak pernah suka makanan dengan cabai, kali ini terlihat lahap. “Biasanya anak saya ini tidak mau makanan yang ada rasa pedas sama sekali. Sekarang malah bilang cabainya enak,” katanya sambil tertawa.

Saat itu, lauk yang disajikan dalam MBG yaitu dendeng daging. Posinya cukup besar untuk anak TK. Sehingga, anaknya merasa sangat puas dengan makanan itu. Anaknya pun mengaku sangat senang di hari pertama sekolah itu.

Ia tidak menyangka dengan masuk sekolah dia bisa mendapatkan makan yang enak. “Sangat enak. Pakai cabe juga enak. Tidak pedas,” kata si anak sembari tertawa riang.

Bagi Indah, perubahan ke­cil pada kebiasaan makan anak bukanlah hal yang paling utama. Yang lebih membahagiakan adalah melihat putrinya pulang sekolah dengan wajah ceria, membawa cerita tentang teman baru, guru baru, dan pengalaman belajar yang me­nyenangkan. “Yang penting dia sehat, semangat belajar, dan berani mencoba hal-hal baru,” ujarnya.

Bagi banyak orang tua, itulah harapan sederhana yang mereka titipkan setiap kali mengantar anak ke sekolah. Bukan hanya berharap anak menjadi pintar, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang sehat, mandiri, dan terbuka terhadap pengalaman baru, termasuk dalam mengenal beragam makanan yang disajikan di lingkungan sekolah.

Cerita serupa juga disampaikan beberapa orang tua lain. Mereka menilai pengalaman makan bersama di se­kolah membuat anak lebih terbuka untuk mencoba berbagai jenis makanan. Ada yang sebelumnya sulit makan sayur, kini mulai mau mencicipinya. Ada pula yang mulai menyukai lauk tertentu yang sebelumnya selalu ditolak.

Bagi para orang tua, perubahan kebiasaan makan seperti itu menjadi pengalaman yang menarik. Mereka melihat anak-anak tidak hanya belajar membaca, menulis, dan berhitung di sekolah, tetapi juga belajar mengenal keberagaman menu dan kebiasaan makan bersama teman-teman.

Rian, 35, seorang ayah yang mengantar anaknya pada hari pertama sekolah mengatakan, suasana makan bersama di sekolah sering kali membuat anak terdorong untuk mencoba makanan yang sebelumnya tidak disukai. “Kalau di rumah susah disuruh coba. Tapi kalau lihat teman-temannya makan, biasanya dia ikut penasaran,” katanya.

Meski demikian, para orang tua tetap menyadari bahwa setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda da­lam mengonsumsi makanan bercita rasa pedas. Karena itu, mereka memilih mendampingi dan tidak memaksa anak jika memang belum siap.

Ahli gizi umumnya menyarankan agar anak dikenalkan pada berbagai rasa secara bertahap, dengan memperhatikan usia, kondisi ke­sehatan, dan tingkat kepedasan yang sesuai. Pendekatan tersebut dinilai lebih aman dibandingkan memberikan makanan yang terlalu pedas dalam jumlah ba­nyak. (apg)

Editor : Adriyanto Syafril
MPLS 2026 Makan Bergizi Gratis (MBG) hari pertama sekolah