Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Suku Bunga Acuan Diproyeksikan 6,25 Persen, Instrumen Utama BI Stabilkan Rupiah

jpg • Jumat, 17 Juli 2026 | 10:05 WIB
Ilustrasi.
Ilustrasi.

PADEK.JAWAPOS.COM -- Bank Indonesia (BI) dinilai belum kehabisan amunisi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Di tengah tekanan global yang belum mereda, bank sentral di­per­kirakan masih memiliki ruang me­naikkan suku bunga acuan atau BI rate hingga 6,25 persen pada akhir tahun. Itu apabila volatilitas rupiah terus berlanjut.

“Kalau perkiraan kami, masih ada ruang dua kali kenaikan masing-masing 25 basis poin, sehingga BI rate bisa mencapai 6,25 persen. Asumsinya, volatilitas rupiah masih tinggi,” ujar Kepala Ekonom PT Bank Danamon Indonesia Tbk Irman Faiz di Jakarta kemarin (16/7).

Meskipun demikian, Irman menegaskan ruang ter­sebut belum tentu dimanfaatkan seluruhnya. Keputusan BI akan sangat bergantung pada perkembangan kondisi global. Apabila tekanan eksternal mereda, bank sentral diperkirakan tidak perlu menaikkan suku bunga hingga batas tersebut.

“Kalau dari global tidak ada kejutan besar, BI mungkin tidak perlu menggu­nakan seluruh ruang itu. Te­tapi, opsi kenaikan masih tersedia hingga dua kali 25 basis poin sampai akhir ta­hun,” imbuhnya.

Menurut Irman, kebijakan suku bunga tetap menjadi instrumen utama BI dalam menjaga stabilitas rupiah. Selain itu, bank sentral juga terus melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk meredam gejolak nilai tukar.

Di sisi lain, keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB dengan outlook stabil menjadi sentimen positif bagi pasar keuangan domestik. Sebelumnya, pelaku pasar sempat mengkhawatirkan potensi penurunan peringkat dari sejumlah lembaga pemeringkat internasional.

Irman menilai, perhatian S&P kini lebih tertuju pada kemampuan pemerintah men­jalankan berbagai agenda reformasi ekonomi, bukan lagi mempertanyakan arah kebijakan yang di­tem­puh.” Yang menjadi perhatian se­karang bukan arah kebijakannya, tetapi bagaimana eksekusinya,” tambahnya.

Meskipun demikian, tantangan dari eksternal masih membayangi. Ketidakpastian geopolitik dan potensi gejolak pasar global dinilai tetap menjadi risiko utama bagi aset domestik. Karena itu, pemerintah diminta menjaga disiplin fiskal, terutama memastikan defisit APBN tetap berada di bawah 3 persen terhadap PDB.

“Selama koridor fiskal itu dijaga, fundamental Indonesia masih cukup baik. S&P juga melihat tantangan saat ini lebih bersifat siklikal karena masa transisi, sementara struktur ekonomi tetap kuat,” paparnya.

Surplus Neraca DagangBakal Membaik

Dari sisi pertumbuhan ekonomi, Danamon memproyeksikan kinerja pada semester II akan lebih baik dibandingkan semester I. Belanja pemerintah yang mulai meningkat diperkirakan menjadi salah satu pendorong utama aktivitas eko­nomi. “Masih banyak pagu belanja yang belum direalisasikan. Ketika mulai dibelanjakan, dampaknya tidak hanya mendorong konsumsi pemerintah, tetapi juga konsumsi rumah tangga dan investasi,” kata Irman.

Selain itu, prospek surplus neraca perdagangan diperkirakan kembali membaik seiring tingginya harga komoditas ekspor, seperti batu bara dan CPO, yang berpotensi memperkuat cadangan devisa Indonesia. “Kalau harga komoditas tetap tinggi, surplus perdagangan berpeluang kembali membaik sehingga cadangan devisa juga akan meningkat secara bertahap,” pungkasnya.

Rupiah Menguat PengaruhiMitigasi Dampak el-nino

Nilai tukar (kurs) rupiah pada penutupan perdagangan Kamis sore menguat 82 poin atau 0,45 persen menjadi Rp17.986 per dolar AS dari sebelumnya Rp18.068 per dolar AS. Analis dari Bank Woori Saudara Rully Nova mengatakan penguatan rupiah dipengaruhi rencana lang­kah pemerintah memitigasi dampak el-nino.

“Rencana pemerintah men­jaga inflasi dan langkah yang akan dijalankan untuk mitigasi dampak el-nino diapresiasi positif pelaku pa­sar,” ungkapnya kepada ANTARA di Jakarta, kemarin.

Kepala Badan Pangan Na­­sional (Bapanas) sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memastikan cadangan pangan selain beras dalam kondisi siap, melalui penguatan stok pangan pokok strategis, guna memenuhi kebutuhan ma­sya­rakat menghadapi musim kemarau.

Dalam laporan Bapanas, stok cadangan pangan Pemerintah dalam bentuk beras di Perum Bulog berada di angka 5,2 juta ton per 8 Juli 2026. Sementara itu, cadangan pangan pemerintah daerah tingkat provinsi tercatat total 7,34 ribu ton sampai akhir Juni lalu dan di tingkat kabupaten/kota total ada 13,15 ribu ton yang tersebar di 323 daerah.

Kemudian, cadangan pangan dalam bentuk jagung pakan per 8 Juli masih terdapat sebanyak 188 ribu ton dan disalurkan untuk peternak unggas melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dengan harga lebih ekonomis. Ca­dangan pangan dalam bentuk minyak goreng tercatat sebanyak 1,1 ribu kiloliter dan gula konsumsi sekitar 2,79 ribu ton, di mana keduanya ada di Bulog dan ID Food. Selain itu, cadangan pangan dalam bentuk daging ayam masih ada 38 ton di ID Food.

“Mitigasi dampak el-nino sangat penting dalam hal pengendalian harga pangan mengingat inflasi sudah men­dekati target BI (Bank Indonesia) 1,5-3,5 persen dan dampak kenaikan harga minyak dunia tídak bisa diantisipasi pemerintah seiring eskalasi geopolitik,” ujar dia. (mim/dio/ant)

Editor : Adriyanto Syafril
bank indonesia (bi) nilai tukar rupiah bi rate suku bunga acuan