Ibrahim Al Abrar belajar cyber security secara otodidak setelah mendapat saran dari para relasi online. Celah keamanan NASA yang dia temukan jika tidak segera ditambal bisa menjadi link phishing untuk penipuan.
Laporan : Abdul Khofid
SANG ayah memang guru SMKN bidang teknis komputer dan jaringan. Namun, Ibrahim Al Abrar yang baru duduk di bangku sekolah dasar (SD) bisa mendapatkan penghargaan dari Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) berkat kerja kerasnya sendiri.
“Kalau saya background-nya jaringan, network IT (information technology). Kalau coding sama cyber security saya kurang menguasai. Jadi, dia (Ibrahim) benar-benar otodidak, sama ada kakak-kakak online yang ngirimi tutorial,” beber Aminudin Salas ayah Ibrahim kepada Radar Solo Grup Jawa Pos (grup Padang Ekspres).
Pada 9 Juli lalu, Ibrahim mendapatkan Letter of Recognition dari NASA. Itu setelah siswa kelas VI SDN Geneng 3, Kemusu, Boyolali, Jawa Tengah, tersebut berhasil menemukan celah kerentanan keamanan pada sistem digital resmi milik NASA. “Saya sangat senang,” kata Ibrahim tentang penghargaan dari NASA tersebut.
Menurut Aminudin, jika celah keamanan tersebut tidak segera ditambal oleh tim IT NASA, efeknya akan sangat berbahaya bagi publik luas. “Kalau enggak diatasi jadi link phishing. Bisa dipakai untuk penipuan, mengatasnamakan pihak NASA untuk menipu orang-orang,” jelasnya.
Celah tersebut dilaporkan secara resmi melalui platform Bugcrowd dan membutuhkan waktu verifikasi yang cukup lama. “Lapornya sudah hampir dua bulan. Tapi, baru dibalas kemarin tanggal 9 Juli, dapat sertifikat lolosnya,” ungkap Aminudin.
Sebelumnya, Ibrahim sudah beberapa kali mengirimkan draf laporan kerentanan. Namun, berujung ditolak atau dikategorikan sebagai laporan duplikat oleh sistem.
Barulah pada draf laporan ketiga, temuan tersebut dinyatakan valid oleh tim NASA dan langsung diapresiasi dengan pengiriman Letter of Recognition berstempel resmi NASA. Surat penghargaan prestisius itu diterima Ibrahim pada 9 Juli 2026 melalui program resmi NASA Vulnerability Disclosure Policy (VDP) via platform Bugcrowd.
Berawal dari Coding
Pada mulanya, Ibrahim hanya fokus belajar dasar-dasar coding sebelum akhirnya menaruh ketertarikan mendalam pada bidang cyber security sejak awal tahun ini. Bocah 11 tahun itu mempelajari coding sejak kelas IV SD secara otodidak melalui tayangan YouTube dan berdiskusi dengan teknologi akal ilmiah (AI).
Aminudin mengaku tidak menguasai bidang keamanan siber tersebut. Karena itu, langkah sang anak murni bersandar pada kemauan belajar mandiri di internet.
Dukungan finansial dari orang tua pun diberikan secara bertahap. Awalnya Ibrahim hanya bereksperimen menggunakan smartphone.
Karena layar ponsel pintar terlalu kecil untuk mengetik draf kode, orang tuanya berinisiatif mencari perangkat PC (personal computer/komputer pribadi) bekas agar dapat digunakan untuk memperlancar proses pembelajaran. “Pokoknya yang penting positif didukung,” kata Aminudin.
Sementara itu, kerentanan yang ditemukan oleh anak kedua dari tiga bersaudara itu merupakan jenis broken link hijacking pada situs resmi milik NASA. “Metode awalnya dimulai dengan melakukan open working di platform Google,” kata Ibrahim yang bersama keluarga tinggal di wilayah Dukuh Genengsari, Desa Genengsari, Kecamatan Kemusu, Kabupaten Boyolali tersebut.
Kemudian, lanjutnya, secara teliti membuka satu per satu laman website yang di dalamnya memuat tautan eksternal. Ibrahim mengaku, ketertarikannya pada dunia cyber security lahir atas saran dari para relasi online di media sosial.
“Kesulitannya itu belum paham materi. Kadang-kadang juga nonton tutorial YouTube,” tuturnya.
Dia bermimpi bisa menjadi seorang ahli cyber security profesional. “Saya juga ingin bisa ikut serta dalam ajang perlombaan resmi di bidang IT,” kata bocah yang rutin membagikan konten edukasi pembelajaran coding lewat akun Instagram pribadinya itu. (*/ttg/jpg)
Editor : Adriyanto Syafril