Komoditas unggulan hortikultura daerah itu dikirim ke sejumlah negara, termasuk China, Malaysia, Singapura, dan kawasan Eropa.
Petani sekaligus pengepul manggis, Yose Destrio Putra, mengatakan aktivitas panen telah berlangsung sejak sepekan terakhir di kawasan Jalan Jawa Gadut, Kelurahan Limau Manis, Kecamatan Pauh.
“Manggis kualitas super atau grade terbaik dikirim melalui perusahaan eksportir ke luar negeri,” ujar Yose kepada Padang Ekspres, Minggu (9/11/2025).
Yose menjelaskan, buah manggis dibedakan menjadi dua kategori, yaitu super dan BS (Below Standard).
Manggis super memenuhi standar ekspor, sementara kategori BS dijual di pasar dalam negeri, terutama melalui pasar induk.
“Hasil panen manggis ditampung pengepul, lalu dijual ke perusahaan eksportir yang gudang pusatnya berada di Payakumbuh,” tambahnya.
Saat ini, harga manggis super di tingkat petani berkisar Rp38.000–Rp40.000 per kilogram, sedangkan manggis BS hanya Rp7.000–Rp8.000 per kilogram.
Yose yang mengelola 4 hektar kebun dengan 500 pohon manggis menyebut, panen dapat terjadi satu hingga dua kali setahun, tergantung kondisi cuaca dan perawatan.
Menurutnya, perawatan tanaman dilakukan rutin dengan pemberian pupuk daun, buah, penyegar, dan perangsang setiap satu hingga dua bulan sekali.
Ia memastikan kondisi tanaman manggis di wilayahnya saat ini sehat dan bebas hama.
Untuk memenuhi permintaan yang meningkat, pasokan manggis juga diperoleh dari wilayah lain seperti Lubuk Minturun, Solok, dan Pesisir Selatan.
Keberhasilan ekspor manggis dari Padang menandai peningkatan daya saing produk hortikultura Sumatera Barat di pasar global.(CC1)
Editor : Hendra Efison