Laporan ADETIO PURTAMA, Padang—
Gilang Febriansyah, bassist Tardub, mengingat dengan jelas bagaimana band ini tumbuh dari sekadar hobi hingga menjadi karya yang mulai dikenal di berbagai panggung.
“Awalnya dari tongkrongan kampus. Karena punya hobi, referensi, dan visi yang sama, akhirnya kami coba bikin band,” kenangnya kepada Padang Ekspres.
Saat pertama terbentuk, Tardub justru memiliki formasi besar, 11 personel sekaligus. Namun, perjalanan panjang membuat formasi itu menyusut, menyisakan empat orang yang tetap konsisten hingga kini. Di antaranya Rafi pada vokalis dan gitaris, Gilang bassist, Isan drummer, dan Farid sequence.
Ia mengungkapkan, perubahan formasi ini bukan sekadar kehilangan, tetapi juga proses pendewasaan. Mereka melewati dinamika personal, penyaringan visi, hingga menemukan ritme yang paling pas untuk berkarya.
Meski memilih dub sebagai wadah ekspresi, akar mereka tak pernah lepas dari reggae. “Dulu temen-temen yang bikin band itu cocok banget sama reggae. Jadi secara chemistry udah klop dari awal,” kata Gilang. Kecocokan itu kemudian menjadi fondasi yang membuat mereka bisa bereksplorasi lebih jauh.
Bagi Tardub, dub bukan sekadar subgenre, melainkan ruang eksplorasi sonik untuk tampil lebih segar, terutama di Sumbar. “Sebenarnya kita nggak punya pengaruh dominan. Sebagai eksplorasi, kita pengennya memang hadir lebih fresh, khususnya di Sumbar,” ungkapnya.
Referensi musik mereka pun berwarna. Di skena internasional, mereka mendengar Bob Marley, Alpha Blondy, Mikey Love, Pink Floyd, hingga The Beatles. Dari musisi Indonesia, mereka menyebut Rub of Rub, High Therapy, dan Ali, sebagai bagian dari inspirasi.
Namun meski kaya referensi, Tardub tidak ingin menjadi “copy-paste”. Mereka ingin menciptakan suara khas yang membedakan mereka di antara banyaknya band baru di Sumbar yang terus bertumbuhan tiap tahun.
Dua Single dan Menuju Album Perdana
Hingga saat ini, Tardub telah merilis dua single, yakni Pass Me The Lighter dan Recaptcha. Keduanya menjadi pijakan awal menuju album perdana yang sedang mereka garap dan ditargetkan rilis pada awal tahun. “Lagi ngerjain projek album sih. Lagi digarap lagu dan liriknya,” kata Gilang.
Proses penciptaan lagu Tardub lahir dari penyatuan keresahan masing-masing personel. “Bisa dibilang hadir dari hal-hal yang bikin kita resah,” ucapnya.
Lagu Pass Me The Lighter salah satunya bercerita tentang sudut pandang anak muda yang takut menghadapi kehidupan, namun tetap ingin bergerak bersama menghadapi dinamika yang terjadi.
Tantangan Ekosistem Musik Sumbar
Meski Sumbar memiliki banyak talenta, Gilang mengakui tantangan terbesar musisi di Sumbar adalah ekosistem yang belum sematang kota-kota besar. “Masih banyak musisi yang lahir di sini tapi harus pergi keluar untuk hidup,” jelasnya.
Namun ia melihat perkembangan yang positif. Gigs di Sumbar kini makin profesional, apresiasi penonton semakin dewasa, dan kolektif musik semakin solid meskipun tersebar.
Berjuang dari Panggung ke Panggung
Sebagai pendatang baru, Tardub tidak berharap panggung datang begitu saja. Mereka yang mendatangi panggung, mengenalkan musik mereka sedikit demi sedikit.
Kini, pekerjaan manggung sudah mulai datang, dan pengalaman menghibur penonton menjadi momen paling berkesan bagi mereka. “Yang paling berkesan itu ketika berhasil menghibur penonton yang datang,” ujar Gilang.
Era Digital dan Rilisan Fisik: Dua Dunia yang Hidup Bersamaan
Gilang menilai era sekarang membuka peluang besar bagi musisi independen. Streaming platform mudah diakses, promosi melalui media sosial lebih luas, dan semuanya tinggal tergantung konsistensi musisinya.
Namun ia menegaskan bahwa rilisan fisik tetap penting, meski teknologi sudah mengubah kebiasaan mendengarkan musik. “Rilisan fisik punya value berbeda di mata kolektor,” katanya.
Baca Juga: Tim GURILA InJourney Airports Dirikan Posko dan Distribusi Bantuan Bencana di Sumatera Barat
Bagi Gilang dan kawan-kawan, berkarya adalah kunci. “Nggak apa-apa lambat, tapi ada progresnya. Berkreasi itu kayak investasi. Kalau dijalani konsisten, akan balik berkali lipat,” ujarnya.
Mereka berharap ekosistem musik Sumbar tumbuh semakin sehat agar banyak anak muda yang berani memilih hidup sebagai musisi. “Semoga musik Sumbar punya pride tersendiri di kancah nasional,” harapnya.
Perlahan namun pasti, Tardub sedang membangun jalan mereka sendiri. Dari tongkrongan kampus, kini menuju panggung yang lebih luas. Dan perjalanan itu baru saja dimulai. (*)
Editor : Adetio Purtama