Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Perjalanan Band Hardcore, Bigbite: Dari Tongkrongan ke Distorsi Brutal

Adetio Purtama • Sabtu, 28 Februari 2026 | 11:17 WIB

Aksi panggung band hardcore, Bigbite di salah satu iven, baru-baru ini.
Aksi panggung band hardcore, Bigbite di salah satu iven, baru-baru ini.
Bigbite, band hardcore yang terbentuk pada tahun 2023. Meski terbilang baru, Bigbite menunjukkan keseriusannya dalam menggarap musik dengan energi agresif khas hardcore, lengkap dengan riff gitar yang berat dan ketukan drum cepat yang menghentak. Seperti apa perjalanan musiknya?

Adetio Purtama, Padang—

Bigbite lahir dari pertemanan satu tongkrongan yang memiliki kesamaan selera musik. Intensitas pertemuan yang sering, obrolan panjang soal musik, hingga kebiasaan berkumpul di tempat yang sama akhirnya melahirkan ide untuk membentuk sebuah band.

Dari diskusi santai tersebut, lahirlah nama Bigbite sebagai identitas mereka. Formasi awal hingga saat ini terdiri dari Yoga pada bass, Dimas di posisi drum, Teguh sebagai vokalis, Robi posisi gitar 1, dan Aldo gitar 2.

Kelima personel sepakat mengusung hardcore sejak awal pembentukan band. Tidak ada perdebatan panjang soal arah musik, karena mereka memang datang dari referensi dan semangat yang sama.

Berbeda dengan banyak band yang memilih nama dengan filosofi mendalam, Bigbite justru hadir dengan pendekatan sederhana. Tidak ada arti khusus di balik nama tersebut. Pemilihan nama dilakukan karena pertimbangan kesederhanaan, tidak terlalu panjang, dan mudah diingat oleh pendengar.

Kesederhanaan itu sekaligus menjadi identitas: lugas, tanpa pretensi, dan langsung menghantam—selaras dengan karakter musik yang mereka usung.

Sejak awal berdiri, Bigbite sudah menentukan bahwa hardcore adalah jalur musik yang akan mereka tempuh. Energi keras, tempo cepat, dan spirit perlawanan menjadi alasan utama mereka memilih genre tersebut.

Secara musikal, Bigbite banyak terpengaruh oleh band-band hardcore internasional seperti Pain of Truth, Terror, Madball, hingga Hatebreed. Pengaruh tersebut terasa pada riff gitar yang berat, breakdown yang solid, serta pukulan drum yang cepat dan agresif. Hingga saat ini, referensi musikal tersebut masih memengaruhi proses kreatif mereka, terutama dalam komposisi gitar dan struktur lagu.

Perjalanan Rilisan: Dari Single hingga EP

Sejak berdiri, Bigbite telah merilis beberapa karya. Single pertama mereka rilis pada 2024 dengan dua lagu, yakni Play with Bigbite dan Bloody Fingers. Setahun kemudian, mereka merilis EP berjudul Feel The Power yang berisi enam lagu: Feel The Power, Stand Up! Stand Strong, Stab in The Back, Burning with Your Lust, False Crown, dan Stay Behind Us.

Materi lagu Bigbite banyak terinspirasi dari pengalaman pribadi para personel, lingkungan sekitar, serta dinamika pertemanan yang mereka alami sehari-hari. Lirik-liriknya merefleksikan realitas sosial dan emosi personal yang dikemas dalam kemarahan serta semangat khas hardcore.

Tantangan Berkarya dari Daerah

Sebagai band yang berbasis di Sumatera Barat, Bigbite menyadari bahwa tantangan terbesar adalah akses menuju panggung yang lebih besar. Faktor geografis membuat proses ekspansi ke level nasional membutuhkan usaha ekstra, baik dalam hal promosi maupun jaringan.

Karena itu, mereka menekankan pentingnya konsistensi promosi, terutama melalui platform digital yang kini sangat membantu musisi independen. Media sosial dan platform streaming dinilai membuka peluang lebih luas untuk menjangkau audiens di luar daerah.

Namun mereka juga mengingatkan bahwa dukungan teman-teman di skena tetap menjadi fondasi utama dalam perjalanan band.

Pengalaman Manggung dan Dukungan Skena

Sejauh ini, Bigbite telah tampil di berbagai panggung di Sumatera Barat serta pernah manggung di Pekanbaru. Bagi mereka, setiap panggung memiliki kesan tersendiri karena menjadi ruang interaksi langsung dengan penonton.

Mereka menilai gigs di Sumatera Barat saat ini sudah berkembang cukup baik. Banyaknya kolektif dan komunitas yang aktif membuat event menjadi angin segar bagi musisi lokal. Dukungan antarscene juga terasa semakin solid dibandingkan sebelumnya.

Di tengah dominasi digital, Bigbite tetap melihat rilisan fisik seperti kaset, piringan hitam, dan merchandise sebagai sesuatu yang masih sangat worth it. Selain memberikan kualitas audio yang lebih maksimal, penjualan rilisan fisik dan merch juga membantu keberlangsungan finansial band.

Menurut mereka, rilisan fisik menjadi salah satu cara paling nyata bagi pendengar untuk mendukung musisi independen.

Menembus Pasar Nasional: Koneksi dan Konsistensi

Bagi Bigbite, musisi Sumatera Barat memiliki potensi besar untuk menembus pasar nasional. Kunci utamanya adalah terus berkarya, membangun koneksi, memperluas pertemanan, serta memaksimalkan promosi di media sosial.

Mereka percaya bahwa ekosistem musik yang sehat hanya bisa dibangun melalui solidaritas dan konsistensi.

Lebih lanjut Saat ini Bigbite tengah dalam proses penggarapan dua lagu baru. Meski belum memastikan tanggal rilis, mereka sedang mencari formula terbaik agar materi terbaru tersebut bisa memberikan dampak yang lebih besar dibanding rilisan sebelumnya.

Semangat hardcore yang tetap menyala, Bigbite menunjukkan bahwa band dari daerah pun bisa bergerak progresif dan kompetitif di tengah ketatnya industri musik independent. (*)

Editor : Adetio Purtama
#Band Hardcore #musisi #distorsi #Bigbite #band padang #tongkrongan #brutal