PADEK.JAWAPOS.COM-INDUSTRI tekstil dan produk tekstil (TPT) di Indonesia siaga menghadapi potensi gangguan. Baik dari sisi pasokan bahan baku maupun lonjakan biaya logistik akibat konflik di Timur Tengah.
Dewan Penasihat Chartered Institute of Logistics and Transport (CILT) Indonesia sekaligus Ketua Dewan Pembina Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Yukki Nugrahawan Hanafi mengatakan, serangan AS-Israel ke Iran mengancam stabilitas politik dan ekonomi dunia.
Sisi logistik dan rantai pasok dunia bakal terganggu jika perdamaian tidak segera terwujud.
“Eskalasi konflik langsung menarik perhatian dunia akan gangguan rantai pasok logistik global yang bisa menekan ekonomi banyak negara.
Terlebih, blokade Iran di Selat Hormuz yang merupakan jalur distribusi minyak dan gas utama dari Timur Tengah ke berbagai negara,” jelas Yukki.
Setidaknya ada enam negara utama eksportir minyak yang akan terdampak langsung bila Selat Hormuz ditutup. Yaitu Arab Saudi, Irak, UAE, Kuwait, Qatar, serta Iran.
Sebaliknya, disrupsi impor minyak berbagai negara seperti India, Tiongkok, Jepang, dan kawasan Asia Tenggara yang berasal dari keenam negara utama itu ikut terkena dampak.
Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta mengungkapkan, ketergantungan terhadap bahan baku dari kawasan Timur Tengah menjadi titik rawan utama.
Salah satu komoditas krusial yang berisiko terdampak adalah Monoetilen Glikol (MEG).
“Dari sisi bahan baku, kita impor MEG 85 persen dari Timur Tengah, sepertinya ini yang akan terganggu. Kita coba alihkan impornya dari Malaysia. Kalau MEG kita saat ini ada stok untuk di atas dua bulan,” ujarnya.
Meski opsi pengalihan impor ke Malaysia terbuka, Redma mengakui harga MEG dari Timur Tengah selama ini lebih kompetitif.
Artinya, perubahan sumber pasokan berpotensi meningkatkan biaya produksi. Namun, di tengah situasi geopolitik yang semakin tidak menentu, kepastian pasokan dinilai lebih mendesak dibanding pertimbangan harga semata.
Tidak semua bahan baku berada dalam kondisi rawan. Untuk Purified Terephthalic Acid (PTA), komponen utama lain dalam produksi poliester, sekitar 95 persen pasokan berasal dari dalam negeri.
Kondisi itu membuat risiko gangguan terhadap komoditas tersebut relatif terbatas. Namun, tantangan industri TPT tidak berhenti pada urusan bahan baku.
Lonjakan biaya logistik diperkirakan menjadi tekanan berikutnya seiring meningkatnya risiko pengiriman di jalur perdagangan internasional.
“Biaya logistik bisa dipastikan naik, terkait biaya asuransi hingga waktu transportasi yang akan bertambah,” ujarnya.
Kenaikan premi asuransi kapal serta potensi pengalihan rute pelayaran untuk menghindari wilayah konflik diprediksi mendorong ongkos kirim lebih tinggi.
Dampaknya, tidak hanya dirasakan pada impor bahan baku, tetapi juga terhadap ekspor produk tekstil Indonesia.
Struktur pasar ekspor TPT nasional saat ini cukup terkonsentrasi. Sekitar 30 persen ekspor mengalir ke Eropa, sementara 40 persen lainnya ditujukan ke AS, yang hingga kini masih menghadapi kendala tarif resiprokal.
“Untuk menjaga dan memperbaiki kinerja, pemerintah perlu kasih kebijakan untuk dorong industri menguasai pasar domestik yang saat ini 60 persen-nya dikuasai produk impor,” urai Redma.
Dengan hampir 70 persen ekspor bergantung pada dua pasar utama tersebut, tekanan berpotensi terjadi secara bersamaan.
Eropa terancam terganggu akibat lonjakan biaya logistik dan waktu pengiriman, sementara pasar AS masih dibayangi hambatan tarif.
Redma menilai ekspor ke Eropa hampir pasti terdampak dari sisi ongkos kirim dan durasi pengiriman.
Sebaliknya, impor bahan baku dinilai relatif lebih aman, mengingat sekitar 90 persen benang dan kain diimpor dari Tiongkok yang tidak terdampak langsung konflik di Timur Tengah.
Pasar Pelumas
Eskalasi konflik antara AS, Israel, dan Iran mulai memunculkan kekhawatiran di sektor industri, termasuk pasar pelumas nasional.
PT Motul Indonesia Energy (MIE) menilai ketegangan geopolitik tersebut berpotensi memberi tekanan signifikan terhadap biaya produksi dan harga jual pelumas di dalam negeri.
Managing Director PT Motul Indonesia Energy (MIE) Welmart Purba mengatakan industri pelumas Indonesia masih sangat bergantung pada bahan baku impor.
Ketergantungan itu membuat sektor tersebut rentan terhadap gangguan pasokan global dan fluktuasi harga energi.
“Kalau produksi-produksi dalam konteks ini adalah lubricant, itu additive, base oil, kita kan impor sebenarnya. Lihat saja pemerintah sudah kasih sinyal bahwa mereka akan menaikkan harga BBM (bahan bakar minyak). Nah, jadi itu yang akan sangat berdampak langsung ke kita,” kata Welmart.
Menurut dia, dampak perang terhadap industri pelumas tidak akan terasa seketika. Tekanan harga dan pasokan diperkirakan mulai muncul dalam dua hingga tiga minggu setelah gangguan distribusi terjadi.
Sementara itu, pengamat otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu menjelaskan, jika harga minyak dunia sampai tembus USD 100 per barel, maka hal itu dapat membebani biaya logistik dan berpengaruh pada harga BBM di dalam negeri.
“Belum lagi, kawasan Timur Tengah merupakan salah satu destinasi tujuan negara ekspor yang paling berpengaruh untuk produk otomotif buatan Indonesia,” ujarnya.
Evakuasi WNI
Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono menyatakan, pihaknya tengah menyiapkan evakuasi untuk para WNI yang ada di Iran.
Dia sudah memerintahkan Dubes RI untuk Iran Rolliansyah Soemirat untuk segera mengambil langkah evakuasi jika ada masyarakat yang menginginkan dievakuasi.
Saat ini, sudah ada 15 orang WNI yang mengajukan diri untuk dievakuasi dari Iran.
“Tidak semuanya menyampaikan keinginan untuk dievakuasi. Tapi, tadi disampaikan ada beberapa yang bersedia untuk dievakuasi dari wilayah Iran dan saya perintahkan untuk melaksanakan evakuasi bertahap tersebut,” ujarnya usai menghadiri pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dengan seluruh mantan presiden dan wakil presiden, mantan menlu, serta ketua umum partai politik, di Istana, Selasa (3/3) malam.
Kemenlu berencana mengevakuasi lewat jalur darat, yakni lewat Baku, Azerbaijan. “Kan ini ruang udara juga lagi tertutup. Kalau misalnya evakuasi dari Teheran itu mereka harus dibawa ke Baku. Dari Teheran ke Baku itu 10 jam perjalanan,” paparnya.
Namun, Sugiono belum bisa memastikan kapan evakuasi akan berjalan. Sebab, itu membutuhkan l persiapan matang. Mulai dari logistik, kondisi WNI tersebut, dan lainnya.
“Jadi enggak bisa hari ini mau evakuasi langsung detik itu juga kita geser ya. Ini lagi diatur waktunya kapannya,” ungkapnya.
Sekjen Partai Gerindra itu menambahkan, belum ada WNI lain di negara terdampak yang meminta dievakuasi. Baik itu yang berada di Qatar, Uni Emirat Arab, Bahrain dan lainnya.
“Yang minta evakuasi kita evakuasi, ya kan enggak mungkin orang yang enggak mau kita pindahin kita pindah-pindahin,” sambungnya. (agf/mia/aph/jpg)
Editor : Novitri Selvia