Dari atap rumah, plafon, pipa semen asbes, hingga komponen mesin kendaraan, serat-serat berbahaya ini masih menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari tanpa disadari.
Padahal, semua jenis asbes memiliki dampak serius bagi kesehatan. Seratnya yang sangat halus mudah terlepas ke udara, kemudian terhirup dan masuk ke dalam paru-paru.
Dalam jangka panjang, paparan dapat menyebabkan sejumlah penyakit berbahaya seperti asbestosis (paru kaku), kanker paru, hingga mesothelioma, yaitu kanker pada selaput paru.
Penyakit ini umumnya muncul setelah masa laten panjang antara 10 hingga 30 tahun, dan bersifat irreversible, artinya tidak dapat kembali seperti semula.
Apa Itu Asbes dan Jenis-jenisnya?
Asbes merupakan mineral alami berbentuk serat halus yang tahan panas, tahan api, dan sering digunakan pada berbagai material bangunan. Secara umum, terdapat beberapa jenis asbes yang dikenal, yaitu:
- Amosite (Asbes Coklat)
- Crocidolite (Asbes Biru)
- Chrysotile (Asbes Putih), masih diperbolehkan penggunaannya di Indonesia
- Tremolite
- Actinolite
- Anthophyllite
Meski berbeda warna dan sifat, seluruh jenis asbes memiliki karakter yang sama: bersifat karsinogenik atau pemicu kanker.
Jalur Pajanan dan Risiko Kesehatan
Paparan asbes paling banyak terjadi melalui jalur pernapasan. Debu asbes yang terhirup akan terjebak di jaringan paru-paru dan sulit dikeluarkan oleh tubuh.
Akibatnya, sejumlah penyakit kronis dapat muncul, antara lain:
- Asbestosis, kondisi saat paru-paru menjadi kaku karena penumpukan jaringan parut.
- Kanker paru.
- Mesothelioma, salah satu kanker paling mematikan yang menyerang selaput paru.
Fakta global menunjukkan bahwa 200.000 orang meninggal setiap tahun akibat paparan asbes, dan sekitar 70 persen kasus terjadi karena paparan di tempat kerja. Pakar kesehatan menegaskan bahwa tidak ada batas aman untuk pajanan asbes, sekecil apa pun tingkat paparan tetap berisiko.
Di Mana Saja Asbes Bisa Ditemukan?
Di lingkungan rumah, material asbes banyak ditemukan pada:
- Atap bergelombang
- Plafon dan panel dinding
- Lantai vinyl yang mengandung campuran asbes
- Tangki air dan pipa tua berbahan semen asbes
Sementara di tempat kerja, risiko paparan sering dialami pekerja bangunan, industri, dan mekanik yang setiap hari berinteraksi dengan material yang sama.
Pajanan Primer dan Sekunder
Pajanan asbes terbagi dalam dua jenis:
- Pajanan primer, yaitu paparan langsung dari sumber asbes, misalnya saat memasang, memotong, atau membersihkan material asbes tanpa perlindungan memadai.
- Pajanan sekunder, terjadi saat debu asbes terbawa pulang melalui pakaian kerja, rambut, atau barang-barang pekerja, sehingga anggota keluarga ikut menghirup serat berbahaya tersebut.
Banyak kasus mesothelioma ditemukan pada istri atau anak pekerja yang tidak pernah bekerja langsung dengan asbes, tetapi terpapar melalui pakaian kerja anggota keluarga.
Langkah Pencegahan di Rumah dan Tempat Kerja
Para ahli menekankan pentingnya pengendalian pajanan untuk menekan risiko kesehatan, terutama karena material asbes masih digunakan di Indonesia.
Di lingkungan rumah, pencegahan dapat dilakukan dengan:
- Tidak merusak, memotong, atau membakar material asbes.
- Membersihkan rumah menggunakan kain basah atau vacuum berkualitas tinggi dengan filter khusus.
- Melapisi atap atau plafon asbes dengan cat pelindung agar seratnya tidak mudah lepas.
- Segera mengganti material asbes yang sudah rapuh atau retak.
Bagi pekerja yang berisiko terpapar asbes:
- Menggunakan APD lengkap seperti masker N95, sarung tangan, dan baju kerja khusus.
- Memisahkan pakaian kerja dari pakaian rumah.
- Mencuci pakaian kerja secara terpisah.
- Mengelola limbah asbes dengan benar, tanpa dibakar atau dibuang sembarangan.
Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat mengenai bahaya asbes, diharapkan langkah pengendalian dapat dilakukan lebih ketat demi melindungi kesehatan generasi saat ini dan masa depan. (*)
Editor : Adetio Purtama