Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Pendidikan yang Tumbuh dalam Keheningan

N
Penulis: Novi Handra❯
Novi Handra, S.Pd.I.,M.Pd.,Gr.
Novi Handra, S.Pd.I.,M.Pd.,Gr.

Advertisement

Penulis : Novi Handra, .Pd.I.,M.Pd.,Gr - Guru PAI SMPN 8 Payakumbuh

Ada anggapan bahwa pen­didikan selalu muncul me­lalui komunikasi verbal. Guru memberikan penjelasan, peserta didik menyimak, dan ilmu berpindah dari satu pikiran ke pikiran yang lain. Namun sebenarnya, tidak semua pelajaran berasal dari suara. Beberapa justru berkembang dalam keheningan.

Keheningan seringkali dianggap sebagai kekosongan, padahal di dalamnya banyak nilai yang muncul. Seorang peserta didik yang merenung setelah berbuat kesalahan sebenarnya sedang belajar untuk bertanggung jawab.

Advertisement

Seorang guru yang memilih untuk diam sebelum mengambil keputusan sedang mengajarkan kebijaksanaan. Seseorang yang mendengarkan tanpa interupsi sedang menunjukan penghormatan kepada orang lain.

Sayangnya, di zaman sekarang, pendidikan lebih sering diukur dari apa yang terlihat. Nilai rapor, hasil ujian, dan berbagai pencapaian akademik menjadi to­lok ukur utama keberhasilan. Sementara itu, proses internal yang membangun kejujuran, kesabaran, rasa syukur, dan kepedulian sering terabaikan.

Namun, kehidupan tidak hanya mengharuskan orang untuk cerdas. Kehidupan juga meminta individu untuk bisa mengontrol diri, menghargai orang lain, serta membuat keputusan yang tepat saat tidak ada orang lain yang memperhatikan.

Advertisement

Pendidikan yang sebenarnya bukan hanya sekedar menambah wawasan, tetapi juga memperbaiki karakter. Pengetahuan tanpa akhlak menghasilkan kecerdasan yang tidak memiliki arah. Di sisi lain, akhlak yang baik akan menjadikan ilmu sebagai cahaya yang menerangi kehidupan.

Guru memegang peranan yang tak tergantikan da­lam proses ini. Bukan hanya karena materi yang diajarkan, tetapi juga melalui contoh yang ditunjukkannya. Ketulusan, disiplin, kesederhanaan, dan keadilan yang ditampilkan seorang guru akan lebih lama diingat oleh peserta didik dibandingkan dengan banyak materi pelajaran yang disampaikan.

Mungkin itu sebabnya banyak orang dewasa masih mengingat sosok guru mereka bertahun-tahun kemudian. Bukan karena rumus yang diajarkan, tetapi karena kasih sayang, perhatian, dan keteladanan yang diberikan.

Pada akhirnya, pendidikan adalah tentang menanam, bukan memanen. Hasilnya tidak selalu tampak saat ini, bahkan bisa saja baru terlihat setelah bertahun-tahun. Namun, setiap benih kebaikan yang ditanam dengan sepe­nuh hati akan menemukan waktunya untuk ber­kem­bang.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Padang EkspresIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Kelas Ribut, Belajar Terganggu

Kelas Ribut, Belajar Terganggu

Suasana kelas yang tidak kondusif dapat menghambat pembelajaran. Guru, lingkungan, dan motivasi siswa menjadi faktor penentu keberhasilan belajar.

Guru Bukan sekadar Pengajar

Guru Bukan sekadar Pengajar

Kajian PGSD UNP menyoroti pentingnya peran guru sebagai pembentuk karakter siswa SD di tengah pesatnya digitalisasi pendidikan saat ini.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer