Pencanangan pelaksanaan Pesantren Ramadan tahun 1443H telah dilaksanakan di Masjid Nurul Iman Padang pada Senin silam. Pesantren Ramadaan akan dilaksanakan dari 9 April hingga 28 April 2022 mendatang. Tahun ini Pesantren Ramadan mengusung tema ”Membentuk Generasi yang Tangguh dan Mencintai Masjid”.
Kegiatan Pesantren Ramadan tidak hanya melibatkan peserta didik saja namun juga melibatkan seluruh komponen guru. Sekalipun kehadiran guru dalam kegiatan Pesantren Ramadan hanya sebagai pengawas.
Namun, guru dapat mengambil peran strategis untuk mendidik rohani peserta didik. Terutama sekali bagi guru agama. Inilah bulan pendidikan (syahrut tarbiyah) untuk membina moral dan karakter peserta didik agar dapat menjadi insan yang bertaqwa.
Suasana kebathinan bulan Ramadan sangat mendukung guru mengoptimalkan pemberdayaan rohani peserta didik. Momen Pesantren Ramadan jangan sampai hanya sekedar ritual tahunan yang tidak memberikan dampak positif bagi peserta didik.
Maka sudah sepatutnya para guru mencurahkan energi terbaiknya untuk membina spritualitas peserta didik. Sebagai guru sudah seharusnya peka terhadap isu-isu moral peserta didik yang masih jauh dari nilai-nilai keislaman, penggunaan obat-obatan terlarang (narkoba), tawuran, pornografi, dan lain-lain.
Melalui Pesantren Ramadan guru dapat memberikan penanaman nilai-nilai agama, adab dan akhlak. Disamping itu Pesantren Ramadhan juga merupakan sarana ideal untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas amal ibadah peserta didik.
Kehadiran guru dalam kegiatan Pesantren Ramadaan jangan hanya sekadar pelengkap semata. Sekedar formalitas untuk mengisi absensi. Guru diharapkan dapat berperan aktif dalam membentuk dan membina karakter peserta didik.
Tugas guru bukan semata-mata mengajarkan ilmu (transfer of knowledge) namun juga harus bisa membina sikap dan mental peserta didik (transfer of value). Terakhir seorang guru harus menjadi uswatun hasanah bagi peserta didik dalam melakukan berbagai kebaikan (transfer of activity).
Selama ini peran strategis guru dirasakan kurang maksimal dalam pelaksanaan Pesantren Ramadhan. Salah satu faktor penyebabnya adalah di mana guru berada dalam situasi peserta didik yang bukan merupakan anak didik di sekolah tempat mereka mengajar selama ini. Tidak adanya ikatan emosional guru dan peserta didik membuat peserta didik bersilantas angan terhadap guru.
Suara guru tidak dihiraukan, nasihat dan tausiyah guru seperti angin lalu saja. Ke depan kita berharap ada perubahan signifikan sehingga kehadiran guru dalam kegiatan Pesantren Ramadhan dapat lebih optimal.
Optimalisasi peran guru dalam Pesantren Ramadhan penting untuk dilakukan. Sinergitas semua pihak diharapkan bermuara pada satu tujuan yaitu peningkatan kualitas keberagamaan peserta didik serta terbentuknya peserta didik yang bertaqwa dan berakhlak mulia.
Sehingga, apa yang menjadi tema Pesantren Ramadhan tahun ini tidak hanya sekedar slogan kosong tak bermakna. Namun dapat terwujud dan teraplikasi dalam kehidupan dan perilaku peserta didik sehari-sehari.Aamiin. (*)
Oleh: Pepi Susanti, S.Pd.I, M.Pd
(Guru PAI SMPN 5 Padang)