
Oleh: Shofwan Karim, Pengamat, Penulis Esai, dan Dosen Pascasarjana UM Sumbar
PADEK.JAWAPOS.COM-Mamangan Minangkabau berkata: “Tagang bajelo-jelo, kandua badantiang-dantiang” — tegang berunta-untai, kendur berdenting-denting. Peribahasa ini bukan sekadar kearifan lokal, melainkan cermin universal tentang seni menjaga keseimbangan.
Ia mengajarkan bahwa dalam ketegangan, masih ada ruang negosiasi; dalam kelonggaran, tetap ada kewaspadaan.
Filosofi ini seakan menemukan panggungnya di Timur Tengah, di mana Washington-Tel Aviv dan Teheran memainkan irama perang dan diplomasi berlapis: kadang tegas, kadang longgar, namun selalu berdenting tanda waspada. Lebih dari itu, perlu merujuk kepada cahaya global dalam menelisik solusi konflik di dunia hari ini.
Negosiasi yang Belum Usai
Pertemuan Islamabad pertengahan April lalu, dengan 15 poin tuntutan Amerika Serikat dan 10 poin balasan Iran, menyerupai air terjun yang menggebu: deras, bising, tetapi sulit ditampung.
Dari total 29 poin, tiga hal menjadi simpul krusial: (1) program nuklir Iran: (2) pencairan aset dan keuangan internasional Iran yang dibekukan; (3) jaminan keamanan dari serangan militer terhadap Iran.
Ketiga isu ini bukan sekadar teknis diplomasi, melainkan simbol eksistensi. Nuklir bagi Iran bukanlah senjata, melainkan energi dan teknologi. Namun bagi AS dan sekutunya, ia tetap bayangan ancaman.
Di sinilah paradoks muncul: Israel dengan program nuklirnya jarang dipersoalkan, sementara Iran terus ditekan. Dunia pun bertanya: keadilan macam apa yang sedang dipertontonkan?
Selat Hormuz, jalur vital minyak dunia, menjadi arena di mana ketiga isu tadi berdenyut. Jika nuklir Iran terus dipersoalkan, jika aset tetap dibekukan, jika jaminan keamanan tak diberikan, maka Selat Hormuz akan selalu menjadi titik genting.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!





