
Oleh: Shofwan Karim, Pengamat, Penulis Esai, dan Dosen Pascasarjana UM Sumbar
PADEK.JAWAPOS.COM-Kawasan Teluk Persia adalah hamparan tempat waktu tidak sekadar bergerak maju, melainkan berputar dalam roda nostalgia yang tak kunjung usai.
Di atas tanah yang dipanggang matahari dan dibasuh ombak Selat Hormuz, berdirilah Kuwait, Bahrain, Oman, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Enam entitas yang merajut persaudaraan dalam Dewan Kerja Sama Negara-Negara Teluk (GCC).
Mereka adalah anak-anak padang pasir yang berbicara dalam ritme bahasa Arab yang tegas. Namun, tepat di seberang perairan yang sama, berdiri Iran—sang pewaris kemegahan Persia kuno—serta Irak, meski belum menjadi bagian dari GCC.
Mereka bernapas dalam geokultur yang berbeda, melantunkan bait-bait kehidupan melalui bahasa Parsi di satu sisi dan bahasa Arab di sisi lainnya. Di sinilah takdir geografis dipaksa berdamai dengan dinamika geoekonomi dan geopolitik yang kerap membakar langit kawasan tersebut.
Belakangan, negara-negara Arab Teluk dan Iran tampak berjalan di persimpangan jalan. Secara batin, beberapa negara tetap bersama Palestina.
Akan tetapi, secara pragmatis, Iran menjadi pihak yang paling aktif memasok dukungan kepada para pejuang Palestina melalui proxy-nya. Di sisi lain, Iran juga ditengarai siap memperkaya uranium menjadi nuklir dalam waktu singkat.
Rantai itulah yang hendak diputus oleh Israel dan Amerika Serikat melalui serangan-serangan, termasuk yang terjadi pada 28 April lalu, yang kini menyita energi geopolitik dan ekonomi global. Situasi ini memerlukan kejernihan batin serta pemahaman atas lika-liku sejarah panjang selama 78 tahun sejak 1948.
Luka Sejarah di Rahim Palestina
Jauh sebelum peta modern mencabik-cabik Timur Tengah, ada masa ketika negara-negara Arab Teluk dan Iran berdiri kompak dalam satu saf yang sama. Mereka disatukan oleh luka komunal: pendudukan atas tanah Palestina pada tahun 1948.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!





