Apakah memang tidak ada ruang budidaya dan hilirisasi pertanian dalam artian luas di Sumbar? Apakah memang ketersediaan dan sumber daya manusia dan budaya di Sumbar tidak sesuai dengan pertanian?
Begitu banyak pertanyaan yang muncul dan banyak hikmah yang kita ambil dari tulisan beliau tersebut. Tulisan saya ini hanya ingin menambahkan sedikit perihal. Apa yang mungkin menjadi poin kunci mengapa Sumbar bermasalah di pertanian dan di banyak hal. Serta bagaimana itu bisa menjadi pijakan melompat lebih tinggi dan jauh di masa yang akan datang.
Isu utama kita bisa jadi adalah ketidakmampuan melembagakan/ menginstusionalkan akumulasi pengetahuan yang kita miliki dalam suatu aksi kolaborasi. Dalam hal pertanian, misalnya, sudah menjadi pengetahuan kolektif bahwa skala usaha pertanian kita masih tidak efisien.
Diperlukan suatu upaya untuk menyatukan petani-petani untuk berdaya dan berlaku layaknya pelaku usaha yang memiliki posisi tawar di pasar. Para petani sebenarnya adalah pengusaha. Hanya alam bawah sadar kita membayangkan profesi ini sebagai mereka yang tidak punya modal usaha, tidak punya literasi dan akses pada pendanaan, dan yang semacam itu.
Jika memang demikian adanya, maka kita mengikutkan CEO/pemimpin bisnis/pelaku usaha yang berjiwa wirausahawan untuk membantu para petani untuk berdaya. Merekalah yang akan menjadi inovator bersama dengan akademisi dan pemerintah menjadi bagian dari percepatan pembangunan Sumbar masa depan.
Wadahnya bisa koperasi, badan usaha milik nagari, dan lain sebagainya. Ketidakmampuan petani menyerap pengetahuan, bukan karena mereka bodoh. Justru mereka sangat rasional dengan bertahan dengan pengetahuan yang secara turun-temurun mereka miliki.
Begitupun dengan pemilik usaha mikro. Mereka bukannya tidak tahu bahwa mereka sebaiknya berubah. Mereka hanya tidak bisa menanggung risikonya sendirian. Oleh karena itu, mereka perlu wadah/organisasi yang mengedepankan tata kelola yang baik. Tanpa itu, pihak eksternal tidak akan menaruh kepercayaan untuk berinvestasi.
Mengapa para perantau/diaspora hebat Minangkabau tidak bisa maksimal membantu pertanian/usaha, mikro/usaha rintisan di Sumbar? Bukan karena mereka tidak mau, tetapi akan jauh lebih mudah dan efektif manakala mereka menemukan mitra yang bisa “nyambung” dengan “bahasa” yang mereka miliki. Transparansi dan akuntabilitas adalah “tiket emas” bagi pertanian dan usaha mikro/rintisan di Sumbar.
Kewirausahaan Sumbar
Jika kita bersetuju bahwa sosok wirausahawan penggerak pertanian/usaha mikro/rintisan diperlukan, maka tugas kita bersama untuk mencetak inovator ini. Mereka adalah wirausahawan yang memiliki sejumlah karakteristik unggul seperti inovatif dan jeli melihat dan memanfaatkan peluang bisnis.
Mereka yang akan melakukan hilirisasi pertanian/ perkebunan/ perikanan terintegrasi. Merekalah yang akan menginisiasi dan menilai apakah pabrik tepung ikan layak untuk direalisasikan untuk, misalnya, memberikan nilai tambah bagi pakan yang merupakan biaya terbesar untuk peternakan ayam.
Merekalah yang juga akan menata organisasi sehingga terbentuk tata kelola organisasi yang sebenarnya: organisasi yang berfondasi strategi dan menerapkan standardisasi dalam berbagai hal.
Sumbar sudah lama dikenal sebagai sumber wirausahawan.
Saat ini jumlah wirausahawan di Sumbar diidentifikasi sebanyak 3,5 persen dari jumlah angkatan kerja (3 juta orang) yang berarti jumlah wirausahawan Sumbar berjumlah sekitar 105 ribu orang. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Sumbar 2025-2045 telah diperkirakan sampai dengan 2045, rasio kewirausahaan Sumbar naik menjadi 9,39 persen.
Rasio kewirausahaan ini melihat wirausahawan sebagai orang yang berusaha dan dibantu oleh pekerja tetap berbayar. Ini mengindikasikan bahwa bukan hanya ada risiko dalam berbisnis karena melibatkan pekerja, tetapi juga mempelihatkan bahwa wirausahawan adalah mereka yang bukan berbisnis sesaat, sementara, atau hanya dalam jangka pendek.
Mereka inilah yang berpotensi untuk bertumbuh tinggi. Secara kuantitas kita masih perlu lebih banyak wirausahawan. Tapi lebih daripada itu, kita lebih memerlukan wirausahawan yang berkualitas. Program penciptaan 100 ribu wirausahawan di Sumbar harus lebih mencermati sisi kualitas ini agar tidak terjerembab pada populisme.
Masalah kita saat ini dan masa depan tentu tidak semudah menuliskannya. Hal yang menjadi komitmen bersama kita saat ini dan dalam perspektif jangka panjang adalah kembali ke khittah Sumbar sebagai penghasil sumber daya manusia berkarakter.
Selama ini Sumbar sudah identik sebagai penghasil wirausahawan di sektor ritel seperti makanan dan minuman, pakaian jadi, dan kerajinan. Sudah saatnya untuk bertransformasi menjadi usaha berbasis teknologi dalam bisnis di atas dan juga mengapa tidak: pertanian.
Jadi, sebagaimana pertanyaan Dr Endrizal, apakah sudah “saatnya Sumbar tinggalkan sektor pertanian”, maka jawaban untuk itu akan menimbulkan lebih banyak pertanyaan lagi. Usaha pertanian identik dengan pola tradisional yang memerlukan kesabaran.
Maka, secara singkat, masa depan Sumbar adalah pembangunan sumber daya manusia wirausahawan berbasis pendidikan dan teknologi yang berkecimpung di beragam sektor termasuk usaha pertanian, hilirisasi pertanian, dan ekonomi biru. Ini yang perlu juga kiranya dapat kita telaah lebih lanjut sambil “ngopi-ngopi” dengan sang Dekan Dr Endrizal di Coffeenary FEB Unand. (Donard Games, Guru Besar Ilmu Kewirausahaan Unand)
Editor : Novitri Selvia