Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

ASI Eksklusif, MP ASI, dan Probiotik Dadih: Kunci Cegah Stunting sejak Dini

A
Penulis: Adriyanto Syafril❯
Ilustrasi.
Ilustrasi.

Advertisement

Penulis : Jumaidi Ali - Mahasiswa Magister Ilmu Gizi, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas

PADEK.JAWAPOS.COM - Stunting di Sumatera Barat masih menjadi masalah serius. Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, sekitar 24,9 persen anak di Sumatera Barat mengalami stunting. Artinya, hampir satu dari empat anak tidak tumbuh setinggi yang seharusnya. Stunting bukan hanya soal tinggi badan pendek, tetapi juga bisa mengganggu perkembangan otak, menurunkan daya tahan tubuh, dan menekan masa depan anak. Di Sumatera Barat, penyebab utama stunting masih sama: ASI eksklusif rendah, MP ASI diberikan terlalu dini, dan kualitas MP ASI yang kurang bergizi. Selain itu, pola makan dan infeksi usus dapat mengganggu keseimbangan bakteri baik di usus, yang penting untuk pencernaan dan penyerapan nutrisi. Pemerintah Provinsi Sumatera Barat telah meluncurkan program Nagari Generasi Emas di 60 nagari sejak 2024. Program ini fokus pada pencegahan stunting sejak 1.000 hari pertama kehidupan, dengan pendekatan kesehatan, dukungan keluarga, dan penguatan layanan di nagari.

1. ASI Eksklusif: Nutrisi Alami untuk Bayi

Advertisement

Air Susu Ibu (ASI) adalah makanan terbaik untuk bayi. Dalam enam bulan pertama, ASI menyediakan semua nutrisi yang dibutuhkan: karbohidrat, protein, lemak esensial, vitamin, mineral, serta antibodi yang melindungi dari infeksi. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), bayi yang mendapat ASI eksklusif selama enam bulan berisiko stunting sekitar 50 persen lebih rendah dibanding yang tidak mendapat ASI eksklusif. Namun di Sumatera Barat, cakupan ASI eksklusif masih rendah. Banyak ibu berhenti menyusui sebelum usia enam bulan karena tekanan pekerjaan, kurangnya dukungan keluarga, dan miskonsepsi bahwa “ASI tidak cukup bergizi”.

Untuk membantu ibu, langkah yang bisa diambil antara lain: Mulai pompa ASI sejak hari ketiga pascapersalinan untuk mempertahankan produksi. Libatkan suami atau keluarga dalam menyiapkan botol steril dan menjaga kebersihan ASI. Kunjungi Posyandu atau puskesmas untuk konsultasi teknik menyusui dan pemantauan pertumbuhan bayi. Langkah langkah ini selaras dengan program Nagari Generasi Emas yang menekankan penguatan kualitas layanan kesehatan di nagari.

2. MP ASI: Mulai Tepat Waktu dan Bergizi

Advertisement

Banyak orang tua beranggapan bahwa memberikan MP ASI lebih awal dapat mempercepat pertumbuhan bayi. Padahal, sistem pencernaan bayi di bawah usia enam bulan belum matang. Lambungnya sangat kecil, dan enzim pencernaan masih terbatas. Akibatnya, risiko diare meningkat dua hingga tiga kali lipat, yang justru menghambat penyerapan nutrisi dan berpotensi memicu stunting. Di Sumatera Barat, pola ini masih terlihat pada beberapa keluarga, terutama di daerah pedesaan. Data gizi menunjukkan bahwa konsumsi makanan beragam pada anak usia 6–23 bulan masih perlu ditingkatkan.

Menurut pedoman gizi, pada usia enam bulan ke atas, MP ASI harus diberikan dengan komposisi yang seimbang: Energi: 70–90 kilokalori per kg berat badan per hari. Protein: 1–1,5 gram per kg berat badan. Zat besi: 11 mg per hari. Seng: 3 mg per hari.

Contoh menu MP ASI yang bisa diterapkan di Sumatera Barat: Pagi: Bubur beras dengan pisang dan bayam. Siang: Tim ayam, wortel, dan tahu. Malam: Yoghurt atau dadih dengan buah seperti pepaya. Pada salah satu nagari di Padang, ibu yang semula memberikan MP ASI sebelum usia enam bulan mengalami bayi sering diare. Setelah mendapat konseling di Posyandu dan menunda MP ASI hingga usia enam bulan dengan menu bergizi, berat badan anak menstabil dan pertumbuhannya membaik dalam waktu enam bulan.

3. Dadih: Probiotik Lokal untuk Kesehatan Usus

Advertisement
Editor : Adriyanto Syafril
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Padang EkspresIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Zakat dan Pajak: Harmoni Kewajiban

Zakat dan Pajak: Harmoni Kewajiban

Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII 24-26 Juli  tahun 2026 menghasilkan  11 poin kesimpulan.

Bibit Sepakbola Sumbar Mati di Kandang Sendiri

Bibit Sepakbola Sumbar Mati di Kandang Sendiri

Sepakbola Sumatera Barat punya darah. Lihat saja SSB di 19 kabupaten/kota, tiap sore lapangan penuh anak-anak pakai jersey.

KUII: Menafsir Kemilau Peradaban

KUII: Menafsir Kemilau Peradaban

KONGRES Umat Islam Indonesia (KUII) VIII yang berlangsung pada 24–26 Juli 2026 di Jakarta menjadi momentum penting bagi konsolidasi umat.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer